Ruangan itu penuh sesak, orang-orang berlalu lalang di belakangnya seolah kejadian yang beberapa saat lalu terjadi hanyalah angin lalu yang tidak begitu penting. Cara menatap mata biru Ferro, tubuhnya menegang kaku, keringat dingin membasahi tengkuknya.
Cara lalu mengalihkan pandangan matanya ke belakang Ferro, melihat punggung Marc yang menyeret pria itu pergi menjauh melewati pintu belakang Asphere yang tidak diketahui orang luar.
Luca berada di belakangnya, buku-buku jarinya memerah dan terluka, pandangan matanya menunduk ke arah lantai. Musik kembali berdentum, tetapi kali ini suara detak jantungnya terasa jauh lebih keras, bertalu-talu seolah hendak menyeruak lepas dari rongga dadanya.
"Cara?" Ketika iblis itu kembali memanggil namanya, Cara tidak memiliki pilihan lain selain mendongak dan menatap kedua mata birunya, pengaruh bius apa pun yang pria itu berikan kepadanya seolah pudar saat mendengar Ferro memanggil namanya. "Luca?" Napas Cara memburu saat Ferro memanggil nama Luca, menuntut jawaban dari pria itu ketika Cara tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Roofies." Cukup satu kata dari mulut Luca membuat pria itu berbalik keluar dan mengikuti Marc.
"Cara." Stella membantunya bangkit berdiri lalu setengah menyeretnya ke arah mobil yang menunggu mereka di antara gang gelap nan mencurigakan di antara Asphere dan gedung-gedung lainnya. "Luca, bisakah kau membantuku?" Stella mendelik ke arah Luca, pria itu mengangkat tubuh Cara yang lemas lalu membantunya duduk di bangku belakang.
"Stella." Cara menahan lengan Stella, tubuhnya lemas, tetapi perlahan ia mulai bisa mengendalikan dirinya kembali. "Apa yang akan terjadi kepada pria itu?"
"Menurutmu apa, Cara?" Stella balas bertanya kepadanya, kemilau baju seragam wanita itu membuat matanya berkunang-kunang dan perutnya bergejolak mual. Apa akhir yang bagus untuk seseorang yang berusaha menyerang comare Outfit?
"Luc." Cara menatap Luca, wajah pria itu mengeras dan menolak menatap kedua matanya.
"Tetaplah di sini, Cara." Luca menutup pintu mobil lalu bersandar di depan pintu itu, meninggalkan Cara sendirian di dalam mobil itu.
***
Ferro Luciano Belucci, orang-orang memanggilnya sebagai jelmaan iblis di dunia. Bukan hanya sekali Marc menemani pria itu menghabisi musuh-musuhnya, terkadang ia sendirian dan Ferro hanya menontonnya dari belakang, terkadang bersama-sama, menghabiskan musuh-musuhnya sebagaimana malam yang mereka lalui di Las Vegas.
Marc menatap Ferro yang masuk ke basemen Asphere, tangan pria itu memutar-mutar cincin signet yang berada di jari kelingkingnya. Pria yang sengaja memberikan roofies ke minuman Cara terduduk di atas kursi, wajahnya babak belur berantakan akibat tinjuan yang Luca berikan.
"Kumohon. Aku ... aku tidak tahu. Please, please." Pria itu nampak mengenaskan, darah berlumuran dari mulutnya karena giginya yang copot.
"Jadi," Ferro menarik sebuah kursi lalu duduk di atasnya, menatap pria itu tajam. "Siapa kau?"
"Kupikir dia bersama Luca!" Pria itu memekik memilukan, tidak menyangka akan berakhir di tempat antah berantah seperti ini karena mencoba memberikan obat bius kepada seorang wanita.
"Luca, hm?" Ferro melirik ke arah Marc.
"Kau tahu kalau Luca penjaga Cara, capo." Ingin sekali Marc menghantam pria itu, membunuhnya seketika agar tidak mengucapkan sepatah kata lagi yang akan membuat target Ferro berganti.
"A-aku tidak tahu kalau dia milikmu!" Pria itu kini menangis pilu, celananya basah karena ompol. Ferro mengernyit jijik melihat pria itu.
"Pria-pria sepertimu membuatku jijik." Marc mengangguk setuju, pria itu berani melakukan cara kotor nan menjijikkan untuk menjaring seorang wanita lalu mengompol ketakutan ketika harus menghadapi konsekuensinya. "Marc, lepaskan talinya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Action"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
