Cara menatap mata biru gelap pria itu, berusaha mencari sedikit rasa kemanusiaan yang pria itu simpan. Namun, di balik mata biru gelap Ferro, tidak ada lagi yang ia bisa temukan selain kehampaan, rasa sinis yang mendalam, juga cemoohan. Lagi-lagi Cara menarik napas frustrasi, matanya berkaca-kaca, tetapi ia kemudian berusaha meredam emosinya dalam-dalam.
"Kenapa kau membawaku ke sini Ferro?" Akhirnya Cara bertanya kembali setelah jeda panjang yang cukup lama di antara keduanya dan seorang pramusaji yang membawa makanan untuk keduanya.
"Apa aku butuh menjelaskan diriku kepadamu sekarang?" Cara menatap pria itu tidak percaya, gadis itu perlahan menggelengkan kepalanya, lagi-lagi karena rasa frustrasi yang ia rasakan.
"Aku percaya kau masih punya sedikit hati nurani, Ferro." ucap Cara perlahan. Tangannya berhenti menusuk-nusuk beef ravioli yang berada di hadapannya ketika ia merasakan tatapan mata Ferro yang tertuju ke arahnya. Pria itu masih menikmati anggur merahnya, menyesap minuman alkohol itu perlahan kali ini dengan sebentuk senyum kecil di bibirnya.
"Oh, apa yang membuatmu berpikir demikian, Cucciola?"
"Bukankah kau manusia? Semua manusia punya hati."
***
Ferro mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas permukaan meja kayu yang halus. Dari ruangan ini ia bisa melihat seluruh pemandangan yang ada di dalam Asphere, salah satu klub yang dimiliki oleh Outfit, lewat sebuah jendela satu arah berukuran besar yang berada di belakang meja kerjanya. Orang-orang berada di bawah sana, berpesta, berdansa, melupakan dan meninggalkan kenyataan selama sejenak di dalam hidup mereka sementara Ferro berada yang berada di dalam ruang kerja kedap suaranya menarik napas panjang melihat Antonio Amato.
"Apa kau mendengarku, nak?" Antonio bertanya kepada pria itu.
Ferro menyandarkan kepalanya di tangan kirinya lalu menatap pria tua yang pernah menjadi consigliere ayahnya itu. "Aku tidak tahu apa yang aku bicarakan, Antonio."
"Kau tahu dengan jelas!" Antonio nyaris meraih kerah kemeja Ferro dan menamparkan kenyataan di depan wajah pria itu seandainya saja Ferro bukanlah Don Outfit atau atasannya sekarang. "Tidak ada gunanya kau mempertahankan Cara di sisimu nak. Tony Williams membawa kabur uang Outfit dan kau tahu di mana ia berada!"
"Kuba." Ferro bergumam singkat.
"Dia tidak melakukan apapun." Mata platinum Antonio bergolak marah. "Mempertahankannya di sini akan berpengaruh kepada Outfit! Lepaskan dia dan kepolisian akan berhenti bertanya kepadamu."
"Bagaimana dengan Bratva, Paman?" Ferro mengangkat kepalanya dan menatap Antonio.
"Apa kau benar-benar ingin melakukan ini, Ferro? Apa yang membuatmu begitu terobsesi kepadanya? Masih banyak gadis lain yang bisa kau mainkan di luar sana!" Antonio menunjuk ke arah jendela besar itu, tempat di mana mereka bisa melihat sebagian penari telanjang yang menari di sebuah panggung berupa kerangkeng agar para penonton itu tidak bisa meraih para penari itu dengan tangan-tangan nakal mereka.
Ferro bangkit berdiri dari atas kursi, matanya menatap para pengunjung Asphere yang meliuk-liukkan badan mereka mengikuti irama musik. "Dia mengingatkanku dengan dunia di luar Outfit, Paman. Dia tidak seperti mereka." Ferro memutar badannya dan berbalik menghadap Antonio. "Kepolosannya menggugah rasa ingin tahuku, membuatku ingin tahu berapa lama dia dapat bertahan."
"Dia tidak memiliki alasan untuk bertahan di tempat ini, Ferro. Ayahnya yang melakukan kesalahan! Berapa kali aku harus mengatakan itu kepadamu?"
"Dia tidak perlu alasan, Paman."
"Kalau begitu beri dia pilihan, Ferro." Antonio baru saja hendak melanjutkan perkataannya ketika suara gedoran pintu membuat keduanya sontak melihat ke arah pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Action"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
