Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

XXXI. Terrible Deal

18.7K 2K 116
                                        

Matahari baru nampak dari ufuk timur ketika Christopher menyadari ada yang salah. Kasur yang Cara tiduri semalam telah lama dingin, seolah gadis itu tidak menidurinya sejak semalam. Gadis itu telah pergi. Lagi-lagi gadis itu meninggalkannya seorang diri.

"Cara?" Christopher membuka kamar mandi, mendapati hanya ada suara tetesan air dari keran yang tidak tertutup rapat. "Cara?!" Chris memanggil nama Cara berulang kali, tetapi tidak sekali pun gadis itu menyahut membalas panggilannya dan memanggil namanya.

 Chris membongkar tas yang mereka bawa semalam, tidak ada satu pun barang yang hilang selain pakaian yang Cara kenakan semalam dan ponsel gadis itu. Bahkan sepatu Cara masih berada di tempatnya.

"Damn it! Damn it!" Chris meninju dinding hingga buku-buku jemarinya berdarah. "Sial. Kenapa?!"

Chris mengumpulkan pakaiannya kembali, tangannya membawa tas, dan seluruh barang-barang yang Cara tinggalkan. Dia akan mencari jawabannya, dia harus mencari jawabannya.

Chris menyalakan ponselnya dan menekan sederet angka yang telah ia hapal di luar kepalanya. Suara nada tunggu terdengar sejenak sebelum suara lelah nan serak seorang pria menyapanya. "Alan?"

"Chris?"

***

Dante Amato melirik ke lantai dua, ke kamar yang Cara tempati selama ini. Cara Williams, tidak, Cara Belucci. Comare Outfit baru saja kembali ke tempatnya yang seharusnya. Haruskah ia khawatir atau haruskah dia bersikap lega?

Dante menarik napas panjang lalu berjalan menuju ruang kerja Ferro, tidak ada siapa pun yang biasa berjaga di depan ruangan itu. Dante mendorong pintunya perlahan lalu mendapati Jensen Hartnett, salah satu tikus yang Outfit letakkan di kepolisian. Baik di Outfit maupun di kepolisian, posisi Jensen Hartnett tidak akan pernah mengenakkan untuk selamanya.

Orang-orang di Outfit membencinya karena pria itu bisa berbalik kapan saja. Orang-orang di kepolisian tentu akan merasa terkhianati bila mereka tahu kebocoran yang ada di kepolisian berasal dari pria yang berada di hadapannya ini.

"Jensen," Dante masuk ke dalam ruang kerja Ferro, duduk di atas kursi kulit berwarna marun, menyilangkan kakinya lalu menyapa pria paruh baya yang hendak meninggalkan ruangan itu.

"Dante Amato." Wajah Jensen Hartnett mengeras, pria itu mengangguk sekilas berlalu dari hadapan Dante.

"Ah si bajingan itu." Dante berdecak tidak puas. Dante menolehkan kepalanya ke arah Jensen yang hendak menarik tuas pintu. "Apa kabar anak-anakmu, Jensen?" Dante mengambil sebatang rokok dan pemantik lalu menyalakannya.

Jensen terdiam, ia tersenyum tipis dengan rahang berkedut menahan amarahnya saat melihat Dante yang duduk pongah di atas sofa kulit ruang kerja Ferro. "Mereka baik-baik saja."

Dante mendengkus mencemooh. "Apa kau masih mengira dirimu suci tanpa dosa, Jensen? Kau seperti tikus yang mengais-ngais di mana saja. Di kepolisian dan di Outfit. Oh ya, kudengar putrimu akan masuk universitas tahun ini? Dia akan mengambil jurusan apa? Seni? Bisnis? Atau hukum seperti ayahnya?"

Tangan Jensen mengepal, berusaha menahan amarah yang menggelegak di dalam tubuhnya. "Apa yang kau bicarakan, Amato?" Jensen tidak mengerti kenapa seseorang yang pernah menjadi pemanas ring bisa naik ke salah satu jabatan tertinggi di Outfit.

"Aku penasaran apa dia juga akan berteriak seperti para pelacur yang menemani malam-malamku .... "

"Dante." Pada akhirnya, Ferro yang tengah menikmati sebatang rokoknya menegur Dante dan memperingati pria itu agar segera berhenti menggoda Jensen.

"Ku dengar para perempuan sepertinya punya sedikit daddy issues. Dia akan suka bila aku menampar bokong kecilnya dan membungkam mulutnya dengan .... "

Vendetta | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang