Marc melihat dari balik kaca spion lalu memerhatikan ekspresi wajah Ferro, "kau melepaskannya Boss?"
Ferro mengalihkan pandangannya dari kaca mobil yang gelap lalu mengangguk sekilas. "Akan lebih baik begini, kita bisa melihat sejauh mana keterlibatan Tony Williams dan Bratva."
Mereka meninggalkan gadis kecil itu, Cara Williams, di gang gelap dekat apartemennya. Gadis itu jatuh terduduk begitu mereka meninggalkannya dan sementara mobil yang mereka naiki melaju pergi, Ferro bisa melihat Cara Williams masih termenung dan duduk terpaku di atas aspal yang dingin, terlihat terlalu terpukul atas kejadian apa yang baru saja ia alami.
***
Cara berjalan lunglai ketika akhirnya ia bisa bernapas kembali, mengatur degup jantungnya yang tidak beraturan, dan mengumpulkan kembali semua kesadarannya. Ia sudah kembali. Apa pun yang terjadi sehari sebelumnya hanyalah mimpi. Cara berusaha meyakinkan dirinya sembari membuka pintu apartemennya yang masih sama seperti saat ia meninggalkannya kemarin.
"Papa?" Cara menarik napas lega ketika melihat ayahnya duduk di depan meja makan, tangan kanannya menggenggam sekaleng bir sementara matanya yang memerah menatap Cara yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan tatapan nanar. "Apa yang telah kau lakukan?" Cara mengucapkannya sembari berbisik, takut bila sewaktu-waktu pria itu datang kembali dan langsung menghukumnya.
"Cara .... " Tony Williams mengembuskan napas gusar lalu meletakkan kaleng bir yang baru saja ia habiskan itu di atas meja makan, bersama dengan tiga kaleng bir lain dan sebuah asbak yang telah penuh oleh abu.
Cara memerhatikan gerakan tangan Tony Williams dan lagi-lagi menarik napas frustrasi. Entah sudah berapa lama ayahnya terjerat di dalam alkohol dan obat-obatan terlarangnya. Ia nyaris tidak peduli, tetapi sekarang ia tidak bisa lagi bersikap acuh tak acuh seperti dulu lagi karena apa yang telah ayahnya lakukan kali ini bisa saja membunuh mereka semua. "Apa yang telah kau lakukan?"
Tony Williams mengabaikan pertanyaan Cara dan mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Ponsel milik Cara yang seharusnya berada di antara meja dan sofa setelah pria itu membawanya pergi. "Apa yang telah kau lakukan?!" Cara bertanya lagi, ia mengeluarkan semua emosi dan rasa marah serta kecewa yang telah ia pendam selama bertahun-tahun. Tidak hanya sehari atau dua hari. Ini bukan hanya rasa kecewa yang ia dapatkan setelah Ferro Belucci mengancam membunuh semua orang yang mengenalnya, ini adalah rasa kecewa untuk ayahnya yang telah meninggalkannya selama bertahun-tahun untuk tumbuh dan berkembang seorang diri.
"Cara, aku melakukan sebuah kesalahan." Tony berbicara dengan nada pelan, kepalanya menunduk. Suaranya sarat dengan kepasrahan dan kesedihan karena ia pun menyadari kesalahan yang telah ia lakukan. "Aku kira semuanya akan berjalan seperti biasa."
"Apa?"
"Aku terbiasa melakukannya," Tony menjilat bibirnya yang terasa kering lalu melanjutkan. "Pekerjaanku mengantarkan barang ke kapal. Bukan barang-barang biasa ... ekstasi, ganja, bahkan senjata api. Apa saja yang bisa menghasilkan ribuan bahkan ratusan ribu dolar bila aku mengantarkannya dengan selamat."
Cara membelalakkan matanya, kini ia mengerti kenapa Tony Williams nyaris tidak pernah pulang ke rumahnya. Pria itu memiliki uang yang bisa ia habiskan untuk para pelacurnya atau bahkan alkohol dan obat-obatannya dibandingkan untuk putrinya sendiri. Pria itu tidak hanya lari dari para cecunguk yang mengejarnya, tetapi juga mengumpankan dirinya, putrinya sendiri, sebagai santapan para hiu lapar itu.
"Aku terbiasa mengambil beberapa gram narkoba yang mereka kirimkan," Tony memerhatikan ekspresi wajah Cara yang semakin menggelap lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan untuk kunikmati sendiri, tetapi untuk kujual kembali. Mereka tidak pernah tahu, aku hanya mengambil sejumput dari ratusan ton yang mereka kirimkan, Cara."
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Akcja"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
