Vitali berteriak berang, beberapa anak buahnya yang berada di dekatnya berjalan menjauh, enggan menjadi korban dari amukan pria itu. Satu sambungan telepon yang ia terima dari Las Vegas membuatnya tahu segala hal yang ia rencanakan selama ini tidak menuai kesuksesan seperti yang ia harapkan.
Ferro Luciano Belucci. Bajingan itu menghancurkan segala-galanya. Bila Vitali Belucci adalah inkarnasi dari iblis, maka Ferro Luciano Belucci adalah inkarnasi dari setan. Paman dan keponakan, nilai-nilai keluarga yang selama ini ditanamkan di dalam Outfit luntur seketika ketika berhadapan dengan Vitali dan Ferro.
Orang-orang menyebut Vitali sebagai iblisnya iblis, mati saja tidak cukup baginya. Vitali senang menjadi sosok yang kuat dan ditakuti orang-orang, menindas yang kecil dan lemah membuat egonya meningkat tajam, memuaskannya hingga ke ubun-ubun, hingga Vitali tidak lagi bisa puas dengan cara biasa, dia hanya bisa terpuaskan bila melihat orang lain tersiksa atau menderita. Sayangnya, kali ini dialah yang mendapatkan getahnya. Rencana yang ia buat hancur berkeping-keping dan bahkan mungkin akan menjadi senjata makan tuan yang balas menghancurkannya.
Vitali tergesa-gesa, ia berlari menuju ke ruang kerjanya, tempat di mana ia menyembunyikan beberapa dokumen penting sekaligus emas batangan dan uang tunai yang bisa ia bawa kapan saja bila terjadi situasi seperti ini.
"Bos." Salah satu anak buahnya menghentikannya, Vitali menerjang pria itu, menyingkirkannya dengan tubuhnya yang gempal.
"Diam kau brengsek!" Ah, seharusnya dia bersyukur saat itu karena anak buahnya hanya tengah memperingatkannya. Emosinya yang berada dipuncak ubun-ubun seyap seketika ketika membuka pintu kantornya dan mendapati sosok yang tidak dia sangka-sangka tengah duduk di atas kursinya.
Ferro Luciano Belucci, jelmaan setan itu tengah tersenyum kepadanya, wajah malaikatnya yang rupawan menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya pria itu tidak lebih baik darinya, mereka sama saja. Setiap manusia hanya memiliki cara berdosa yang berbeda-beda, Vitali berusaha meyakinkan dirinya.
"Paman." Suara Ferro membuat bulu kuduknya merinding berdiri. Sebelumnya Vitali tidak pernah takut menghadapi bocah itu, Ferro selalu menjadi sosok yang ia ingat setelah menghabiskan hari bersama ibu bocah malang itu. Di matanya, Ferro selalu kecil, bocah kecil nan rapuh yang melihatnya dengan mata biru gelap yang serupa dengan ayahnya, menatapnya penasaran yang menyunggingkan senyum puas setelah menghiasi tubuh ibu bocah itu dengan berbagai warna.
Pandangannya ke bocah itu tiba-tiba berubah, sontak Ferro Belucci tidak lagi menjadi sosok bocah kecil yang ia lihat di hari itu, Ferro berubah menjadi sosok pria tinggi besar, sosok yang menguarkan aura menyeramkan seperti ayahnya. "Melihatmu ketakutan seperti ini membuatku yakin kau sudah menerima telepon dari Las Vegas."
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sial, dia tidak membawa senjata apa pun. Rumah selalu menjadi tempat aman bagi Vitali, siapa yang menyangka rumah yang ia kira aman itu mampu dimasuki dengan mudah oleh jelmaan setan yang berada di hadapannya ini. Tangannya mencari, ia mengambil sebuah tatakan lilin berbahan kuningan yang cukup berat. "Kau melepaskan Dmitry di Las Vegas dan segera kembali ke Chicago."
Ferro bangkit berdiri. "Daripada Dmitry, Paman. Kurasa kau tahu apa yang lebih penting hingga aku kembali dan segera menemuimu." Ferro tersenyum, lagi-lagi senyumannya itu membuat Vitali teringat peristiwa beberapa tahun lampau saat Ferro membunuh ayahnya sendiri. Dia juga tersenyum dan bahkan tertawa, lebar, lepas, terbahak-bahak bahkan hingga tersedak ludahnya sendiri. Hari itu ruang kerja Luciano Belucci juga bersimbah darah. Seolah tidak puas membunuhnya sekali, Ferro menembak pria itu berulang kali, lalu kembali tertawa terbahak di atas kursi Luciano.
Setelah dipikir kembali, keringat dingin membasahi tengkuk Vitali, seharusnya dia mati lebih dahulu daripada Luciano. Luciano adalah Don Outfit, segala hal tentang pria itu tersimpan rapat, nyaris tanpa celah atau kesalahan sedikit pun. Namun, Ferro dapat menumbangkan ayahnya dengan mudah dan bahkan duduk di atas kursi pesakitan itu menggantikan ayahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Acción"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
