Ferro duduk di atas sofa kulit berwarna marun yang terletak di belakang meja besar yang terbuat dari kayu mahoni. Paman-pamannya berdiri mengelilingi mejanya sembari mengisap sebuah cerutu yang berasal dari Cuba.
"Kau meletakkannya di salah satu kamar tamu? Apa kau pikir dia itu seorang tamu di rumah ini?!" Gasparro Belucci, salah satu pamannya, menggertaknya sembari memukul meja.
Ferro tidak bergeming sekalipun, tangannya memainkan gelas wiski lalu meletakkannya di atas meja. "Ini rumahku, Paman." Mata biru gelap Ferro melihat sekilas ke arah pamannya itu, membuat Gasparro Belucci merasa menyesal karena telah berani menggertak pria itu. "Apa yang terjadi pada gadis itu adalah urusanku, bukan urusanmu. Terlebih setelah apa yang anakmu lakukan."
Gasparro mengatupkan bibirnya, tidak lagi berani mengeluarkan sepatah kata pun setelah Ferro berhasil membungkamnya.
"Apa yang akan kau lakukan kepada Cara Williams?" Antonio Amato menyilangkan kedua tangannya di dada. Tindakan Ferro kali ini benar-benar di luar perkiraan, tidak ada yang mengira pria itu akan membawa Cara Williams kembali ke kehidupannya apalagi menempatkan gadis itu di salah satu kamar tidur utama di rumahnya.
"Bukan urusanmu." Jawaban singkat Ferro membuat wajah Antonio berubah suram.
"Uang yang Tony bawa kabur memang tersimpan atas nama Cara, tetapi gadis itu tidak benar-benar penting, Ferro." Outfit bisa saja melepaskan Cara dan membiarkan gadis itu setelah mendapatkan uangnya. "Dia tidak seharusnya dihukum untuk kejahatan yang ayahnya lakukan."
Ferro melirik sekilas ke arah Antonio lalu menarik napas panjang. "Kau kasihan kepadanya, Paman?" Ferro memiringkan kepalanya lalu tersenyum tipis ketika mengeluarkan rokoknya. "Dia bahkan tidak sedang dihukum sekarang. Dia tidur di salah satu kamar tidur utama di rumah ini, bukan di basement."
"Kau menculiknya." Gerakan tangan Ferro yang hendak menyalakan rokoknya terhenti. "Bocah yang bersama Cara malam itu menghubungi polisi, Ferro. Kini bukan hanya Bratva yang berada di belakangmu, tetapi juga kepolisian."
Ferro tertawa pelan lalu menyalakan rokoknya seolah-olah apa yang dikatakan Antonio hanyalah sebuah lelucon. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan polisi, Paman. The police got nothing on us."
"Kau tahu lebih baik daripada kita semua yang berada di sini, Ferro. Blame the father, not the child." Kata-kata Antonio menusuknya lebih daripada yang ia kira. Ferro mengisap rokoknya sekali dua kali lalu melumatnya di atas asbak kristal yang berada di atas meja.
Dia akan melakukan apa pun yang ia inginkan kepada gadis itu. Gasparro atau bahkan Antonio tidak seharusnya mendikte apa yang harus ia lakukan. Berada di dalam kamar tidur utama atau bahkan di dalam basement, dialah yang berhak menentukan masa depan gadis itu sekarang.
***
Cara terbangun dengan rasa pusing hebat di kepalanya, seolah-olah seseorang telah memukul kepalanya berulang kali dengan palu godam. Cara melihat ke sekelilingnya dan menyadari kalau ia berada di dalam kamar yang sama dengan tempat ia diculik dua tahun lalu. Warna krem dan putih yang mendominasi ruangan itu membuat Cara memicingkan matanya.
Perlahan Cara berusaha bangkit dari atas kasur dan berjalan mendekati jendela yang berada paling dekat dengannya. Matanya membulat ketika menyadari mansion ini berada di tengah-tengah lapangan luas yang serupa lapangan golf. Tidak ada satu pun rumah lain di dekatnya, hanya ada perkebunan anggur dan taman yang luas. Setidaknya dia masih berada di Chicago, Cara memutuskan di dalam hati lalu bergerak menuju pintu yang dulu sempat terkunci.
"Kau sudah bangun, princess?" Cara mengernyitkan dahinya ketika mendengar nada mencemooh pria itu.
Dua orang pria menjaga pintu kamarnya. Cara mengenali salah satunya sebagai pria yang ia tusuk kemarin, ia nyaris merasa bersalah karena menusuk pria itu setelah melihat perban yang melilit di tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Action"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
