Satu hal yang Cara ketahui tentang Ferro adalah bagaimana pria itu memperlakukannya seolah-olah ia ada dan tiada. Pria itu ada di sana, duduk di kursinya dengan tenang sembari membaca sebuah koran pagi terbaru dengan secangkir kopi di sebelah kanannya. Sesekali pria itu akan mengangkat cangkir kopinya dan menghirup cairan kental berwarna hitam pekat di dalamnya, sementara Cara akan menyantap makanan apa pun yang disediakan untuknya.
Keduanya berada di dalam ruangan itu dalam diam, setidaknya hingga salah satu dari keduanya memutuskan untuk mengucapkan sesuatu.
"Sampai kapan aku akan berada di sini?" Cara tak tahu untuk apa keberadaannya di mansion Ferro. Pria itu jelas hanya mempermainkannya di saat-saat ia merasa bosan lalu meninggalkannya bagaikan boneka tua usang bila pria itu disibukkan oleh hal-hal lain yang lebih berguna, seperti seks dengan para pelacurnya atau menjual narkoba-narkobanya.
Ferro tidak mengalihkan pandangan matanya dari koran sedetik pun ketika menjawab pertanyaan Cara. "Hingga aku bosan, cucciola."
"Kau sudah bosan." Cara memutuskan ketika melihat pria itu melipat korannya dengan tenang sembari meraih cangkir kopinya dan menghirupnya kembali.
Mata biru gelap pria itu menatapnya lurus, sebentuk senyum mencemooh terbentuk di bibirnya. "Oh ya? Kata siapa?"
"Ferro." Cara menggenggam garpu di tangannya erat-erat lalu melepaskannya gusar, menimbulkan bunyi denting nyaring di ruangan itu.
"Apa kau lupa apa yang kukatakan, cucciola? Ayahmu menjualmu." Ferro menatap wajah kaku Cara, gadis itu jelas berusaha menutupi rasa sakit hati akibat pengkhianatan ayahnnya. "Kau beruntung aku tidak segera memberikanmu kepada anak buahku setelah apa yang ayahmu lakukan kepadaku."
"Kenapa kau tidak melakukannya?" Pertanyaan sinis Cara dibalas dengan tatapan tajam Ferro, membuat gadis itu bungkam ketika melihat sebuah senyuman mengejek lagi-lagi terbentuk di bibir Ferro.
"Bibirmu memang tajam. Apa kau berharap aku melakukannya?" Komentar Ferro membuat Cara menutup mulutnya, bisa saja pria itu melakukan apa saja yang ia ingin lakukan sebagai pria imoral tak memiliki belas kasihan, bisa saja ia menyerahkannya kepada anak buahnya dan membuatnya digilir oleh mereka bergantian demi membayar ganti rugi yang ayahnya lakukan. "Kau seharusnya bersyukur dan berterima kasih kepadaku karena kau duduk di sini, memakan makanan yang sama denganku, menikmati salah satu kasur di rumahku, tidak terjebak di dalam ruang bawah tanah dan kehilangan salah satu anggota tubuhmu."
"Kenapa?" Kali ini Cara bertanya. Kenapa pria itu memperlakukannya dengan baik bila di sisi lain ia ingin menyakiti ayahnya. Cara tak bisa mengerti dua sisi Ferro yang begitu berlawanan.
"Seperti apa ayahmu?" Ferro duduk dengan tenang, kembali menghirup kopinya. Tidak ada piring makanan di hadapannya. Salah satu hal lain yang Cara ketahui dari Ferro, pria itu nyaris tidak pernah sarapan. Hanya ada secangkir kopi dan sebuah koran harian pagi terbaru di hadapannya. Atau bagaimana pada saat makan siang pria itu akan meminum anggur merah dan makan malam ditemani dengan segelas wiski atau minuman alkohol lain.
Mata Cara mengikuti tangan Ferro yang mengangkat cangkir kopinya lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menjawab pertanyaann Ferro, "Tidak seperti ayah yang jelas."
"Oh ya?" Pria itu selalu menatapnya menyantap makanannya, seolah-olah ada sesuatu yang menarik dari cara Cara menyantap makanannya. "Ia tidak pernah merayakan ulang tahunmu? Mengucapkan selamat kepadamu saat kau mendapatkan nilai tinggi?"
"Apa yang kau harapkan dari pria seperti ayahku?" Cara tidak bisa menghapus nada kesal nan gusar yang keluar dari bibirnya. "Mengucapkan 'happy birthday' atau 'selamat untuk nilai seratus di ujian matematikamu'? Apa yang kau harapkan dari pria yang menjualku?" Nada tinggi Cara lagi-lagi seperti sebuah hiburan kepada Ferro.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Action"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
