Cara terduduk di atas sofa, matanya terpaku ke tubuh Ferro yang terbaring kaku di atas kasur. Apa pria itu mati? Atau masih hidup? Cara mengerjapkan matanya berkali-kali dan memerhatikan dada Ferro yang naik turun pertanda pria itu masih bernapas. Masih hidup.
"Cara." Cara mendongakkan kepalanya, mendapati Luca yang menawarkan segelas air dengan es batu di dalamnya. "Minumlah. Kau ingin makan apa?"
"Bisakah aku keluar?" Cara menerima segelas air es itu dengan tangan gemetar. Matanya menatap ke seluruh penjuru kamar tanpa jendela layaknya sebuah penjara.
Luca menarik napas panjang lalu melihat penjaga-penjaga Ferro yang lain termasuk Marc yang menatap keduanya dengan alis terangkat tinggi dan sebatang rokok yang terselip di mulutnya. "Baiklah. Sebentar saja. Aku tidak tahu apakah anggota Bratva masih berniat membunuhmu atau tidak."
Cara mengangguk. Ia meminum air yang berada di dalam gelas itu hingga habis tak bersisa, meletakkannya di atas nakas lalu beranjak mengikuti Luca.
Cara berjalan terseok-seok di belakang Luca, ia melihat penjaga-penjaga lain dengan pistol yang terang-terangan mereka perlihatkan.
"Luca." Cara menahan ujung kemeja Luca hingga membuat pria itu berhenti. Mata wanita itu melihat ke sisi kanan dan kiri lalu memastikan tidak ada siapa pun yang mendengar pembicaraan itu lalu berkata kepada Luca dengan nada pelan. "Bolehkah ... aku meminjam ponselmu?"
Luca terdiam mendengar permintaan Cara, pria itu tidak menolak atau menerima permintaan Cara hingga wanita itu meminta kembali. "Ayahku meninggal, Luc. Aku harus tahu bagaimana pemakamannya, siapa yang akan mengurus jenasahnya ...." Cara mengucapkannya terbata-bata, tidak yakin bila Luca akan membantunya.
"Baiklah." Luca mengangguk lalu membawa wanita itu ke sudut lain markas Outfit yang kali ini lebih sepi tidak seperti bagian lain rumah yang dipenuhi para penjaga. "Ini." Luca mengeluarkan sebuah ponsel tua dari sakunya.
Cara menerima ponsel itu lalu segera mengetikkan serentetan nomor milik Christopher yang ia hapal di luar kepala. Wanita itu menunggu sembari menggigit bibirnya gelisah hingga nada sambung terhenti dan suara yang sangat ia kenal menyapanya.
"Halo?" Cara menarik napas dalam, berusaha keras menahan isakannya ketika mendengar suara Christopher yang menyapanya lelah. "Cara? Apa itu kau?"
"Chris." Cara tersenyum ketika mengucapkan nama Christopher.
"Apa kau baik-baik saja?" Suara Christopher terdengar serak dan lelah seolah pria itu juga menahan isakannya.
"Aku baik-baik saja." Cara tertawa kecil di balik tangisannya. "Apa kau baik-baik saja?"
"Ayahmu ... Tony Williams mati Cara." Chris memberitahunya dengan nada pelan.
"Aku tahu." Cara menelan ludahnya. "Aku menghubungi karena aku tahu."
"Apa kau tahu siapa yang membunuhnya?" Christopher bertanya, tetapi Cara hanya bisa terdiam, hal yang ia tahu merupakan hal bodoh karena Chris tidak bisa melihatnya sekarang. "Ferro membunuhnya Cara."
Tangan Cara kembali gemetaran, matanya melirik ke arah Luca yang masih memperhatikannya. "Ferro?"
"Ferro membunuhnya. Orang suruhan bajingan itu membunuhnya Cara."
Cara mengenal Christopher sejak ia kecil, ia tidak mengenal Ferro. Bila seseorang bertanya kepadanya siapa yang lebih ia percayai, Christopher atau Ferro, tentu saja jawabannya mudah. Ia lebih percaya kepada Christopher.
"Ferro membunuhnya?" Cara mengulangi pertanyaannya kembali ketika tiba-tiba Luca mengambil kembali ponselnya lalu menggelengkan kepalanya kepada Cara. "Ferro membunuhnya?" Kali ini Cara bertanya kepada Luca dan ketika pria itu tidak kunjung menjawabnya, ia tahu kalau Christopher benar dan Ferro telah berbohong kepadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Acción"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
