Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

XLVIII. A Happy Ending

15.4K 1.7K 210
                                        

Cara Belucci menatap kosong piring yang ada di hadapannya, sepotong daging berlumur saus berwarna kecokelatan, kentang tumbuk, wortel, dan kacang panjang. Seseorang menarik piring yang berada di hadapannya, memotong daging yang berada di atas piringnya hingga menjadi potongan-potongan kecil lalu mengembalikannya ke hadapan Cara.

"Luca selalu melakukan ini untukmu, bukan?" Pria itu bertanya, mulutnya masih bungkam. Cara tidak menjawab pertanyaan pria itu, dia menusuk daging yang berada di atas piringnya lalu memasukkan daging sapi itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya perlahan, berusaha merasakan sari-sari daging yang meresap masuk hingga ke lapisan terdalam. Lezat dan memuakkan. Cara memuntahkan makanan itu tidak lama kemudian, seseorang membawa sebuah ember untuknya seolah hal ini sudah biasa terjadi. 

"Aku akan meminta Vanessa memberikan obat anti mual untukmu." Pria itu berucap pelan, Cara hanya memejamkan matanya lalu mengangguk.

Kenapa morning sickness disebut sebagai morning sickness bila itu tidak hanya terjadi pada pagi hari? Cara merasakannya setiap saat, pagi, siang, malam, bahkan di saat-saat yang tidak terduga dia juga merasakannya dan siapa yang bilang morning sickness hanya terjadi kepada wanita hamil di trimester awal mereka? Ketika Cara sudah memasuki trimester keduanya, dia masih merasakannya, bahkan hingga perutnya mulai membesar dan menyusahkan jalannya, dia masih merasakannya.

Setelah tidak berhasil menghabiskan makan siangnya dan hanya mampu meminum segelas susu khusus ibu hamil, Cara duduk menikmati sorenya di tepi kolam renang, kedua kakinya terayun di dalam air kolam yang dingin, sementara anjing kecilnya, Madre, duduk di sebelahnya seolah turut menyadari perasaan majikannya saat ini. Tidak ada lagi Luca di sisi mereka, Madre pun sepertinya juga menyadari kehilangan Luca yang ternyata mengambil porsi begitu besar di kehidupan mereka di dalam mansion ini.

Tidak ada seseorang yang suka rela mencicipi makanannya terlebih dahulu, meyakinkan makanan itu tidak beracun sebelum menyerahkannya ke sisi Cara. Tidak ada seseorang yang diam-diam memperhatikan mereka dengan wajah berkerut dalam. Ada begitu banyak penyesalan yang ia rasakan setelah pria itu tiada, Cara tidak tahu apa yang Luca sukai atau apa yang pria itu benci. Kehadiran pria itu di sisinya selalu diam, tetapi ada. 

Apa pria itu bahkan memiliki keluarga yang akan menangisi kepergiannya? Bagaimana dengan Red? Apakah bila Red masih hidup, Luca juga akan tetap hidup? Bagaimanapun juga wanita itu yang menyeretnya dari lubang neraka, tetapi setelah Red tiada, Luca kembali ke dalam lubang itu tanpa banyak pilihan.

"Apa yang kau pikirkan?" Pria itu datang lagi, kali ini mengulurkan tangannya setelah mengecup puncak kepalanya, pria itu membantunya berdiri. Seseorang membawa sebuah handuk, lagi-lagi menunjukkan bila hal seperti ini sudah biasa terjadi. Ferro mengambil handuk itu menunduk, membantu mengeringkan kaki Cara. "Sudah ku bilang, bukan? Udaranya terlalu dingin, kau tidak boleh berada di luar."

Cara mengangguk lagi. Ia bahkan tidak bisa melihat seperti apa kakinya saat ini karena perutnya yang besar menutupi pandangannya.

Nana membawa Madre pergi menjauh dari mereka, meninggalkan keduanya di tepi kolam renang. Ferro bangkit berdiri, mata biru gelap pria itu menatap kedua bola matanya, dia berdecak. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Melihat matahari terbenam?" Cara balik bertanya. Apa lagi hal yang bisa ia lakukan di sini? Dia tidak berenang setelah kejadian di masa lampau, Cara bahkan harus mengernyitkan keningnya dan mengingat kapan tepatnya peristiwa itu. Mungkin dua tahun lalu atau beberapa bulan, lalu? Dia tidak ingat. Namun, yang ia tahu pasti, Ferro meninju seorang penjaga yang memperhatikannya.

Apa ini yang orang-orang sebut sebagai akhir yang bahagia? Chris masuk ke dalam penjara tanpa banyak perlawanan seperti yang ia takutkan, pria itu mungkin membencinya, tetapi itu jauh lebih baik daripada dia berada di luar sana, membunuh orang-orang dan merusak dirinya semakin dalam. Setelah apa yang dia lakukan, Cara juga yakin akan ada orang-orang yang mencari Chris untuk menuntaskan dendam mereka. Dia akan baik-baik saja, dia harus baik-baik saja. Cara berusaha meyakinkan dirinya. Akan lebih baik lagi bila Chris membencinya, dia tidak akan membuang waktu dan tenaganya sia-sia seperti yang selama ini pria itu telah lakukan.

Vendetta | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang