Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

I. The Cartel

67.7K 5K 143
                                        

Ferro menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menatap sosok bocah di hadapannya itu dengan tatapan mencemooh. James "Verme" Belucci membungkuk di hadapannya, bukan dengan sukarela, tetapi karena dua anak buahnya sudah meninju Jimmy hingga bocah itu tidak lagi sanggup berdiri.

"Jadi ini sepupumu?" Charles Gage yang sedaritadi hanya menikmati pertunjukan di hadapannya itu akhirnya mengeluarkan suara.

"Jimmy." Ferro bangkit berdiri dari kursi kayu yang daritadi ia duduki lalu berjongkok di hadapan Jimmy. "Kenapa kau mengacaukan jaringan kartel?"

Jimmy menatap Ferro yang masih berjongkok dan mengembuskan asap rokok ke wajahnya dengan tatapan gusar. "Tony Williams. Salah satu orang luar yang kupercayai ternyata bekerja sama dengan Bratva."

"Bratva." Ferro mendengkus lalu berdiri. Sesaat Jimmy mengembuskan napas lega ketika mengira Ferro tidak lagi marah kepadanya, tetapi di detik-detik ia mengira semuanya akan baik-baik saja, pria itu berbalik dan menendang perutnya. "Bagaimana bisa kau setolol itu?!"  

"Pria itu cerdas." Jimmy mengucapkannya dengan susah payah. Ia hanya bisa bersyukur di dalam hati karena Ferro belum mengeluarkan pistolnya dan menembak kepalanya begitu saja.

"Aku memberikanmu pekerjaan karena ayahmu memohon kepadaku, verme." Ferro menginjak tangan Jimmy hingga pria itu berteriak kesakitan. "Gasparro memintaku untuk mengikutkanmu ke dalam bisnis keluarga dan kau mengacaukannya."

Pekerjaan yang Jimmy lakukan sebenarnya tidak begitu berat atau beresiko seperti bisnis Outfit yang lain, tetapi ketika pria itu tanpa sengaja membiarkan Bratva mengendus kartel mereka, bukan hanya bisnis ini saja yang terpengaruh, tetapi juga bisnis Outfit yang lain.

"Tony Williams. Aku bersumpah Ferro, pria itu yang mengacaukannya." Jimmy memegang tangannya yang nyaris hancur karena diinjak oleh Ferro.

"Siapa namanya?" Ferro kembali berjongkok dan menatap ke mata biru terang Jimmy.

"Tony Williams." Jimmy meneguk ludahnya susah payah.

***

Cara Williams mengembuskan napas panjang. Entah sudah berapa lama ia menunggu di atas meja bar, mengayunkan kakinya sembari bersenandung mengikuti lagu natal yang diputar keras-keras. "Berapa lama lagi, Chris?"

"Sebentar lagi." Christopher melirik sekilas ke arah Cara dan tersenyum tipis ketika melihat gadis itu masih menunggunya di atas meja sementara ia mengepel dan melap meja-meja di pub itu satu per satu.

"Aku bosan." Cara turun dari atas meja lalu memperhatikan botol-botol alkohol yang berjejer rapi di bar.

"Sebentar lagi." Christopher masih sibuk membersihkan lantai untuk tamu-tamu yang akan datang nanti. Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, Chris sudah menjadi tulang punggung keluarganya. Dengan ibu yang juga bekerja keras sebagai pencuci piring restoran dan dua adik perempuan yang masih sekolah.

Cara lupa kapan pertama kali ia mengenal Christopher, tetapi mereka selalu bersama semenjak saat itu dan Christopher selalu memperlakukannya dengan baik, bahkan terkadang jauh lebih baik daripada kedua adik perempuannya sendiri. Beberapa kali Cara menemani Chris dan duduk manis menunggunya menyelesaikan pekerjaannya, seperti saat ini, saat menjelang natal tiba dan tidak ada satu pun yang bersedia berada di luar rumah, jauh dari keluarga, dengan kondisi cuaca sedingin ini.

Cara menatap ke luar jendela dan melihat ornamen-ornamen natal juga tahun baru yang terpajang di depan toko-toko. Tidak jauh dari pub tempat Christopher bekerja, ada pub dan restoran lain dengan antrian panjang di tengah musim dingin.

"Apa kau akan bekerja di malam tahun baru juga?" Cara menatap punggung Christopher yang membungkuk mengumpulkan kantong-kantong sampah.

"Ya," Christopher berbalik dan melihat tatapan kecewa Cara. "Jangan marah Cara, aku butuh uang untuk kuliahku."

Vendetta | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang