Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

IX. Strawberries and Cigarettes

34K 3.5K 67
                                        

"Jadi milikku, bagaimana?" Pertanyaan Ferro terulang bagaikan kaset rusak di otaknya. Entah untuk yang keberapa kalinya Cara mengembuskan napas panjang sembari memainkan jemarinya.

"Apa yang membuatmu begitu kalut?" Stella yang tengah memilih gaun untuknya berbalik dan menatap gadis itu cukup lama.

"Aku ... tidak tahu." Pistol itu. Christopher. Darah ... bagaimana mungkin ia bisa melupakan apa yang terjadi beberapa hari terakhir hanya karena pria itu tidak melakukan apapun kepadanya. Belum, belum melakukan apapun kepadanya, Cara berusaha mengingatkan dirinya kembali kalau ia adalah tahanan di tempat ini. Jaminan untuk ayahnya yang berhasil mencuri uang Ferro.

Stella meletakkan beberapa gaun di atas kasur lalu duduk di sisi Cara. "Apa Ferro melakukan sesuatu?"

"Belum." Cara menjawab pertanyaan Stella dengan gelengan kepala pelan. Cara mengambil salah satu gaun dengan model paling sederhana lalu melepaskan pakaian yang ia kenakan sekarang dan menggantinya dengan gaun itu.

Sebuah gaun berwarna merah dengan model sederhana, satu-satunya yang membuatnya terlihat terbuka adalah sebuah garis panjang yang memperlihatkan lekuk kakinya dari samping.

"Apa dia yang memintamu melakukan ini?" Stella merapikan make up yang Cara kenakan lalu berdecak puas.

Untuk ukuran orang yang selalu mengenakan make up tebal, Stella mampu menyesuaikan make up yang Cara pergunakan dengan selera gadis itu. Tidak terlalu tebal dan cukup untuk menonjolkan aset yang dimiliki gadis itu.

"Ya. Ferro ingin mengecek kesetiaanku." Demi peluru itu, demi melindungi Christopher. Cara melihat pistol ibu Ferro yang ia letakkan di atas meja nakas, tidak tersentuh semenjak ia keluar dari dalam kantor Ferro. 

Apakah kesetiaannya benar-benar bisa diletakkan di atas tangan Ferro? Cara tidak yakin ia bisa melakukannya, tidak setelah apa yang pria itu lakukan kepadanya, kepada Chris.

Cara bahkan tidak yakin setelah mendapatkan peluru untuk pistol itu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Dia benar-benar tidak tahu.

"Kesetiaanmu?" Stella tahu beberapa hal tentang Ferro dan Outfit, pria itu jelas telah jauh menyimpang dari peraturan mendasar Outfit.

"Ya." Cara mengangguk lagi, merapikan rambutnya diikat tinggi lalu memasang anting-anting di telinganya.

"Kau tidak mengerti Cara ... butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk masuk ke dalam rumah inti. Aku tidak tahu apa yang Ferro rencanakan sekarang, tetapi pria itu seperti memiliki mata batin. Dia selalu tahu." Cara mendengkus. Pria itu tidak punya mata batin, pria itu punya kamera-kamera kecil yang siap mengintaimu.

***

Ferro menyuruhnya kembali ke kantor setelah selesai bersiap-siap, tetapi pria itu tidak ada di sana begitu juga penjaganya yang berukuran sebesar Hulk. Tidak ada siapapun di dalam kantor itu dan pintunya terbuka dengan mudah.

Cara memutuskan untuk masuk dan menunggu di dalam ruang kantor Ferro. Gadis itu duduk bosan selama beberapa saat sebelum memutuskan untuk berjalan mengelilingi kantor Ferro. Cara mendekati lemari kaca berisi gelas-gelas kristal dan botol-botol minuman keras yang berjejer rapi di dalamnya. Ada beberapa gelas unik di dalamnya, tetapi tanpa cahaya matahari yang membiasnya dan menciptakan aneka warna pelangi indah, gelas-gelas itu nampak biasa saja, tak seperti saat ia melihatnya beberapa hari lalu.

Cara lalu berjalan mendekati meja kantor Ferro yang nampak berantakan, ada beberapa laporan keuangan klub yang disebar berantakan. Cara tidak menyentuh kertas-kertas berisi laporan itu, matanya menatap penasaran ke arah map biru yang terletak di bagian paling dasar kertas. Sebuah foto terselip keluar dari map biru itu. Cara menarik foto itu perlahan, berusaha sebisa mungkin tidak mengubah letak kertas-kertas berisi laporan keuangan Ferro. 

Vendetta | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang