8. TAK ADA BANYAK WAKTU LAGI

777 119 0
                                        

Jika bisa, aku berharap meninggalkanmu lebih dulu. Biarkan untuk kali ini diriku meminta dengan egois pada Tuhan

Raden Hilal Habzi

~~~

22:45

Setelah memastikan Arabella tidur dengan pulas dan meminta izin pada orangtua gadis itu, kini akhirnya Hilal sampai di rumah dengan selamat.

Lelaki itu memarkirkan motornya di depan garasi yang sudah tertutup, lalu melangkahkan kakinya ke kursi teras.

Juan ada di sana sambil menyesap nikotin kesayangannya, memperhatikan pergerakan Adiknya mulai dari awal masuk pagar sampai duduk di sebelah kanannya dengan terhalang meja.

"Kak Dean pulang?" Tanya Hilal.

Juan hendak menjawab namun dirinya lebih dulu menyelesaikan hisapan pada rokoknya sambil mengangguk.

"Pulang biasa tadi jam empat." Jawab Juan setelah menghembuskan asap rokok.

Hilal yang sedari duduk memperhatikan Juan tanpa henti menyesap rokok pun menunduk ke arah meja, tangannya mengambil bungkus rokok milik Juan lalu membolak balikannya.

"Gue minta satu." Ucap Hilal sambil mengelurakan satu batang rokok dari bungkusnya.

Juan kembali mengangguk lalu memberikan korek elektrik miliknya yang langsung diterima Hilal.

Juan tidak akan banyak bertanya kenapa Adiknya ini tiba-tiba meminta rokok padanya. Hilal bukanlah laki-laki yang suka merokok, tapi bukan berarti dia tidak bisa merokok.

Orang bilang merokok bisa menghilangkan setres, entahlah tapi Hilal rasanya cukup setuju tentang statement itu karena terkadang dirinya memang sesekali merokok saat sedang memiliki banyak pikiran, meskipun harus sedikit-sedikit terbatuk karena tidak terbiasa.

Hilal menyesap rokoknya saat ujungnya sudah terbakar, menghembuskan dengan nafas panjangnya. Ah rasanya sudah lama tidak menyesap nikotin ini dan malam ini terasa sangat nikmat, tidak buruk juga.

"Apa gue bisa bantu?" Tanya Juan memecah keheningan di antara keduanya.

Juan tidak akan bertaya apa yang terjadi, kenapa dengan Hilal hari ini? Tidak, Juan tidak akan menanyakan pertanyaan konyol tersebut karena jawabannya sudah pasti tentang Arabella.

Biarkan Juan menjalankan tugasnya untuk menjadi Kakak yang berguna untuk Adiknya malam ini. Ia tidak akan membiarkan Adik laki-laki satu-satunya ini menahan beban sendirian.

"Nggak ada. Bahkan Dokter aja mungkin ragu." Ucap Hilal, pandangannya lurus ke depan melihat jalanan komplek yang gelap dan sepi.

"Udah separah itu?"

"Stadium akhir. Arabella nutupin ini sama orangtuanya, apalagi sama gue. Orangtuanya aja nggak dikasih tau, apalagi gue."

Kanker otak stadium akhir, saat ini Juan langsung sangat paham dengan apa yang dirasakan Hilal, hati Adiknya ini pasti sangat kacau.

"Terus kenapa lo nggak nginep kayak biasanya? Dia juga pasti butuh lo selain orangtuanya." Tanya Juan.

"Dia aja kelihatan udah nggak percaya sama gue, udah nggak butuh kayaknya." Balas Hilal.

Juan meresponya dengan sedikit terkejut. Kenapa Hilal ini? Aneh sekali.

"Lo udah goyah, mau nyerah lepas dari Bella?" Tanya Juan sambil lanjut menyesap rokok miliknya.

"Udah gila, mana mungkin. Gue udah janji nikahin dia abis lulus kuliah." Balas Hilal cepat, bahkan matanya sempat melolot mendengar pertanyaan dari Juan.

HILALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang