Entah kenapa mendapatkan panggilan telepon selalu membuat Reyhan kesal, dirinya tidak suka diganggu, apalagi dengan keluarganya.
Laki-laki dengan tiang infus di genggaman tangan kirinya itu membuka pintu kamar rawatnya setelah tadi Adiknya bilang kalau dia ada di sana tapi Kakaknya itu tidak ada.
"Ngapain sih ke sini?" Tanya Reyhan setelah menutup pintu.
Leno, anak laki-laki yang sebelumnya duduk di kursi sambil memainkan ponselnya pun melirik sang pemilik suara.
"Pertanyaan gue lebih penting. Kalau lo sakit kenapa malah keluyuran di sini?" Tanya Leno sambil berdiri, memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Ya kamu pikir siapa yang nggak suntuk sendirian di dalem sini terus." Jawab Reyhan.
"Kalau udah ngerasa baik, makanya mending pulang." Ucap Leno.
"Iya nanti kalau mati juga pulang." Balas Reyhan acuh, lalu menaruh tiang infusnya ke tempat semula, dan setelah itu mendudukan dirinya di ranjang.
Leno berdecak melihat kelakuan Kayaknya ini. Kehidupan persaudaraan mereka tidak bisa dikatakan baik-baik saja semenjak Leno tahu rahasia tersembunyi dari diri Reyhan.
Setelah hari itu Leno rasanya merasa terkutuk karena harus bersaudara dengan Reyhan, apalagi mereka hanya dua bersaudara, Reyhan adalah anak pertama dan dirinya anak terakhir.
Kedua orangtua mereka termasuk dalam kategori darah biru atau kaya raya, tidak bisa dipungkiri hidup mereka tidak pernah kekurangan, namun rasa syukurlah yang tidak pernah bisa hinggap di hati keduanya selama ini.
Reyhan termasuk anak yang baik dan rendah hati, laki-laki itu selalu mengusahakan tidak menonjolkan kekayaan keluarganya, berbeda jauh dengan Adik satu-satunya yang tidak bisa lepas dari kehidupan mewah.
Leno bukannya sombong atau tidak baik, hanya saja anak laki-laki itu tidak bisa untuk hidup dan terlihat biasa-bisa saja, membuat dirinya tanpa sadar sering kali terlihat sombong dan menyakiti hati orang lain dengan ucapan dan perbuatannya. Anak itu pikir semua bisa diselesaikan dengan uang.
Tapi jangan salah meskipun dari keluarga kaya raya, Leno adalah anak yang sangat pintar dalam bidang akademik, penghargaannya terpajang dengan apik di rumah mereka, membuat keluarga besar selalu memuji dan menuruti semua permintaan anak itu.
"Ngapain ke sini?" Kembali Reyhan mengulangi pertanyaannya.
"Cuma mau liat aja kelakuan lo di sini, beneran sakit atau ada mangsa baru." Balas Leno sambil menyunggingkan sisi bibirnya.
"Le, kalau nggak ada yang penting mending kamu pulang." Ucap Reyan dengan nada normal, tidak mau meladeni Adiknya ini.
"Kalau gue kasih tau Papa tentang kondisi lo gimana ya responnya?" Tanya Leno sambil mendongak menatap langit-langit kamar rawat Reyhan."bisa jadi lo dikeluarin dari keluarga kita, otomatis warisannya jatuh ke gue semua." Lanjut Leno sambil tersenyum lebar.
Mendegar itu Reyhan menatap Leno tidak percaya, memperhatikan wajah Adiknya yang tampak bahagia.
"Ya ambil aja, Aku nggak butuh lagian umur Kakak juga nggak bakal lama lagi." Ucap Reyhan tanpa melepaskan pandangannya dari Leno yang berdiri di depannya.
"Ya nggak asik lo. Gue maunya saingan." Balas Leno tidak terima.
"Penyakit Kakak bukan pura-pura." Ucap Reyhan.
"Ya kalau gitu sembuhin, jangan kayak orang susah." Balas Leno cepat.
"Udah nggak tertarik hidup."
"Hidup lo nggak berguna banget sumpah." Leno mengatakannya sambil berjalan ke arah jendela.
"Makanya mending mati aja, orang normal juga bakal mikir kayak gini." Balas Reyhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
HILAL
Fanfiction🏅 1 Di Fullsun (Lengkap) Cinta itu buta, bukan tapi cinta itu tulus, menerima apapun keadaannya meskipun sudah tidak sempurna lagi. Di sini Hilal akan mengajarkan apa itu cinta yang tulus? Dan hubungan yang serius bukan hanya bisa dijalani oleh ora...
