14. TEMAN BARU

580 95 0
                                        

08:45

Masih dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya, Hilal membuka pintu kamar rawat Arabella dengan semangat, tapi seketika senyum itu sirna.

"Ara." Panggil Hilal sambil melangkah masuk.

"Di mana?" Tanya Hilal lalu mengecek kamar mandi namun juga kosong.

Arabella tidak ada di kamarnya, Hilal tidak akan menghabiskan waktunya lebih lama untuk mencari lagi di ruangan ini. Kaki laki-laki itu melangkah cepat ke ruangan Dokter Edwin, menanyakan keberadaan kekasihnya.

Ya ternyata tujuan Hilal benar untuk bertanya pada orang yang tepat, Dokter Edwin mengatakan jika dia mengizinkan pasiennya itu untuk ke luar mencari udara segar di taman, lalu suster mengantarkannya ke taman Rumah sakit.

Hilal lega, ia sudah berfikir macam-macam tadi. Sekali lagi Hilal tekankan pada dirinya jika harus selalu berfikir positif agar hatinya tidak sakit seperti ini, bahkan hanya menduga saja hati Hilal sudah sangat teriris.

Laki-laki itu kembali tersenyum saat kakinya sudah menginjak di kawasan taman, matanya mampu menemukan keberadaan kekasihnya dengan cepet. Tapi yang membuat Hilal bertanya-tanya, Arabella tidak sendirian.

Ada seorang laki-laki duduk di sampingnya, sama dengan Arabella yang juga menggunakan baju pasien.

Hilal tidak mau memikirkan lebih jauh, mungkin saja mereka tidak sengaja bertemu di taman dengan keadaan yang sama, yaitu sama-sama pasien.

Kaki Hilal semakin mendekat ke gadis itu, dirinya sudah ridu karena kemarin tidak bisa bermalam di sini, terdengar lebay tapi itu yang Hilal rasakan.

"Ara." Panggil Hilal dengan suara lembutnya saat sudah berdiri di samping gadis itu.

Bukan hanya Arabella namun lelaki di sampingnya pun melakukan hal yang sama.

"Aku nyariin kamu di kamar tapi nggak ada." Ucap Hilal, entahlah rasanya Hilal memang tidak bisa melunturkan senyumnya.

"Hem, aku bosen di kamar terus." Balas Arabella lalu menyentuh tangan kanan Hilal yang menggantung."maaf ya." Lanjutnya.

"Nggak apa-apa kan kamu pengen cari udara seger." Menurut Hilal tidak seharusnya Arabella meminta maaf, gadis itu tidak melakukan kesalahan.

Hilal mengalihkan pandangannya, menatap sekilas ke laki-laki itu lalu kembali ke Arabella, meminta untuk dikenalkan. Setidaknya dirinya harus tahu siapa laki-laki lain yang sudah duduk dengan kekasihnya sambil mengobrol.

"Ah iya, ini Reyhan pasien di sini juga. Tadi kita nggak sengaja ketemu." Ucap Arabella.

Katakan Hilal sensitif dan posesif, mendengar kekasihnya mengatakan 'kita' dengan laki-laki lain membuat Hilal tidak suka.

"Kenalin ini pacar aku, Hilal." Arabella mengenalkan Hilal kepada Reyhan dengan senyum yang mengembang.

Arabella selalu senang mengenalkan pacarnya ini, Hilal sangat tampan, berkepribadian baik dan juga pintar. Arabella selalu merasa bangga mengetahui fakta jika Hilal ada laki-lakinya, miliknya.

Meskipun sudah tujuh tahun menjalin kasih, Arabella tidak pernah bosan, begitu juga yang Arabella lihat dari Hilal. Laki-laki yang begitu setia menemaninya hingga saat ini, dengan keadaan seperti ini.

Hilal mengulurkan tangan kanannya untuk melengkapi perkenalan mereka, Reyhan pun juga langsung menjabat tangan itu.

"Mau balik ke kamar atau aku temenin di sini?" Tanya Hilal.

"Balik aja. Kamu bilang nanti siang juga harus pulang kan." Jawab Arabella.

Hilal tersenyum kecil lalu mengangguk membenarkan ucapan Arabella.

HILALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang