Ketika manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang akan menentukan pada akhirnya, rencana hanya tinggallah angan-angan.
Terkadang manusia hanya memikirkan berbagai hal yang akan membuat dirinya bahagia, melupakan kemungkinan terburuk yang bisa saja akan terjadi. Tetapi hal itu sejujurnya lebih baik daripada selalu bergulat dengan pikiran negatif.
Rencana liburan sepertinya hanya akan menjadi rencana abadi. Di sini bukan hanya Arabella yang terluka, namun Hilal pun akhirnya berada di tempat yang sama.
Rumah sakit, bukan hanya keduanya yang muak mendengarnya, mungkin orang lain juga merasakan hal yang sama.
Kemarin Arabella harus dilarikan ke Rumah sakit menyusul keadaanya yang kian hari semakin memburuk. Arabella egois, Hilal tekankan itu.
Tapi apa Hilal dan orang lain berhak menghakiminya saat wanita itu seperti ini demi Anaknya?
Hilal termenung di samping ranjang rawat Arabella. Memikirkan bagaimana hidupnya akan bisa terus berjalan, ini terlalu sulit jika kehidupan dan kematian hanya sebatas kertas tipis penghalang.
"Kamu juga butuh istirahat. Wajah kamu pucet banget." Ghina menepuk pelan pundak kanan Hilal.
Hilal menolehkan kepalanya ke Ghina, lalu tersenyum kepada Mamanya tersebut.
"Nanti aku tidur. Ara baru aja tidur, kalau kebangun lagi, terus aku nggak tau kan bahaya." Balas Hilal.
"Tapi wajah kamu pucet banget. Kamu sakit?" Tanya Ghina, kali ini tangannya mengusap pipi kanan Hilal lembut, membuat Hilal sejenak terpejam merasakan elusan sayang darinya.
"Aku baik-baik aja." Jelas Hilal, dalam hati dirinya meminta maaf karena harus berbohong kepada Ghina.
"Selain ke Bella, kamu juga harus peduli sama diri kamu sendiri."
Sekali lagi Hilal tersenyum sambil mengangguk, lalu menarik tangan Ghina di pipinya dan menggenggamnya setelah memberikan satu kecupan di punggung tangan itu.
"Aku minta doa dari Mama supaya Ara sama Anak kami bisa baik-baik aja." Ucap Hilal.
"Mama selalu doain kamu, kalian semua." Tanpa dimintapun, Ghina akan dengan tulus melakukan itu.
"Makasih. Bagi aku, Mama itu orang terbaik di dunia ini." Ucap Hilal sungguh-sungguh.
•••
19:00
Sore tadi dengan berat hati Arabella harus dipindahkan ke ruangan ICU dikarenakan kondisinya yang kian memburuk dan kritis.
Hilal hanya seorang diri menemani Arabella di dalam ruangan ini, nanti dirinya akan bergantian dengan orangtua Arabella untuk memberikan waktu kedua orang itu menemui Anaknya.
Tangan laki-laki itu terulur mengelus pipi tirus Arabella pelan saat mata wanitanya tersebut terbuka sayup.
"Capek ya tidur terus?" Tanya Hilal pelan.
Rasanya ingin sekali menjawab, tapi tubuhnya seperti enggan melakukan itu, atau lebih tepatnya tidak mampu. Arabella merasa dirinya benar-benar tidak berdaya.
"Besok aku ujian. Doain semoga lancar ya, biar cita-cita aku bisa segera terwujud." Hilal tersenyum, lalu tangan kirinya terangkat untuk mengelus perut Arabella.
"Ara, aku cinta sama kamu, tapi kamu harus lebih cinta ke diri kamu sendiri, karena kamu nggak sendirian." Ucap Hilal.
"Kalau kamu bahagia, aku pasti juga ikut bahagia. Kalau kamu merasa tenang dan damai, aku juga bakal ngerasain hal yang sama."
KAMU SEDANG MEMBACA
HILAL
Fanfiction🏅 1 Di Fullsun (Lengkap) Cinta itu buta, bukan tapi cinta itu tulus, menerima apapun keadaannya meskipun sudah tidak sempurna lagi. Di sini Hilal akan mengajarkan apa itu cinta yang tulus? Dan hubungan yang serius bukan hanya bisa dijalani oleh ora...
