Hari ini masih terlalu dini untuk melakukan perjalanan, tapi apa yang harus dipikirkan lagi saat mendapatkan kabar jika orangtuanya sedang tidak baik-baik saja.
Bahkan matahari masih membutuhkan waktu untuk beberapa jam lagi hingga kembali menerangi bumi, tapi di sini satu matahari kecil yang hidup di dunia sudah harus terjaga tanpa menghiraukan waktu.
Sampai pada tujuan, Hilal segera ke luar dari mobil yang dikendarainya, lalu mengambil kunci cadangan rumah yang selalu ia simpan di dompetnya. Laki-laki itu membuka gerbang rumah, lalu memasukkan mobil Papa mertuanya tersebut sampai ke pekarangan rumah.
Setelah berhasil membuka pintu utama rumah, dirinya langsung pergi meneuju kamar Papa dan Mamanya. Memang tidak sia-sia dulu dirinya membuat kunci cadangan, menggingat ia yang sering pulang terlewat malam sehingga Juan mengunci rumah mereka bahkan sebelum Adiknya itu pulang.
Suasana rumah cukup sunyi, sampai di mana pintu kamar di depannya terbuka, Hilal masuk sambil mengucapkan salam membuat atensi keempat orang di dalamnya teralihkan padanya.
"Raden." Raut terkejut tidak bisa Adam tutupi saat melihat anak ketiganya itu ada di hadapannya saat ini.
Sama halnya dengan Suaminya, Ghina yang sedang duduk berdasar di atas tempat tidur pun tidak luput terkejutnya. "kenapa kamu pulang jam segini. Di luar pasti dingin." Ucap Ghina khawatir.
Tolong jangan biarkan Juan dan Dean mengejek Adiknya ini saat melihat Hilal yang sudah hampir menangis lalu memeluk Ghina cukup erat. Jika dilihat seperti ini, orang lain tidak akan menyangka jika anak itu sudah berani menikahi seorang putri dari Tentara.
"Terus aku harus nunggu sampai kapan kalau tau Mama sakit kayak gini?" Hilal menumpuhkan kepalanya di pundak Mamanya tersebut sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
Wanita paruh baya itu menepuk-nepuk pelan punggung anaknya, sambil melihat putranya yang lain. Melihat bergantian Dean dan Juan seolah bertanya siapa yang sudah memberi tahu Adiknya ini sampai harus secemas ini di pagi buta.
Dean menggeleng pelan memberi tahu jika bukan dirinya, sedangkan sang tersangka utama ya itu Juan sudah memalingkan wajahnya untuk mengalihkan perhatian dari tatapan Ghina.
Ibu dari empat anak itu pun tersenyum melihat tingkah Juan, dia laki-laki yang terlalu jujur. Anak baik.
"Mama nggak kenapa-napa. Kamu nggak perlu secemas ini." Ucap Ghina.
"Mana bisa?" Protes Hilal.
"Kaki Mama cuma kekilir, nanti juga sembuh." Ghina mencoba menenangkan.
"Nanti kalau udah pagi, aku anterin ke Rumah sakit atau panggil Dokter ke sini." Ucap anak itu seolah tidak mendengarkan ucapan Ghina sebelumnya.
"Berlebihan. Udah dibilang Mama baik-baik aja." Balas Ghina sambil tertawa pelan.
Hilal mengusap wajahnya lalu menjauhkan kepalanya dari bahu Ghina, menatap Mamanya tersebut dengan mata memerah menahan tangis.
"Nggak apa-apa gimana? Kaki Mama sakitkan sekarang? Ini dahinya juga luka. Makanya harus diperiksa biar tau kalau nggak ada luka dalam." Ucap Hilal khawatir bukan main, melihat dahi Ghina yang sudah diobati dan juga kaki kanannya yang memar.
"Nanti Papa telepon Dokter. Kamu tenangin diri dulu." Ucap Adam menegahi sambil menepuk bahu putranya tersebut.
Sebetulnya tanpa mereka tahu, Dean sudah menghubungi Dokter yang ia kenal sedari tadi, namun beliau belum bisa datang saat ini langsung. Bukan hanya Hilal, Dean dan Juan pun sama cemasnya, Mama mereka mungkin sedang mencoba terlihat baik-baik saja saat ini, Sedangkan Aleta pasti akan tidak kalah sedih nanti saat sudah bangun dari tidurnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HILAL
Fanfiction🏅 1 Di Fullsun (Lengkap) Cinta itu buta, bukan tapi cinta itu tulus, menerima apapun keadaannya meskipun sudah tidak sempurna lagi. Di sini Hilal akan mengajarkan apa itu cinta yang tulus? Dan hubungan yang serius bukan hanya bisa dijalani oleh ora...
