Ano masih membaca beberapa berkasnya. Bahkan mencoret coret berkas perkaranya. Jika sudah sibuk seperti itu, siapapun tidak boleh ada yang menganggunya. Semua orang dikantor sudah mengetahui hal itu. Termasuk Zora. Tapi Zora tidak setakut yang lain menganggu Ano. Pukul 12 adalah jam istirahat jadi ia tidak salah jika menganggu Ano sekarang.
"Kamu beneran mau masuk Zora?"
Zora tersenyum mengangguk pada Fany. "Masuk dulu ya mba," Fany terlihat takut tapi Zora malah tersenyum senang masuk ke dalam ruangan Ano setelah mengetuk pintu.
Ano memperhatikan jam di mejanya saat mendengar ketukan pintu. "Fany, saya ga mau makan siang, jangan lupa minta Kris hubungi klien kita untuk meeting lusa," ucap Ano panjang tanpa menoleh membuat Zora menggeleng tak percaya.
"Kamu mengerti Fany?" tanya Ano masih sibuk dengan kerjaannya.
Tidak ada jawaban membuat Ano mengerutkan keningnya. Ano mengangkat wajahnya saat mejanya diketuk. Ia juga menghirup wangi citrus perpaduan floral khas seorang yang ia kenal. "Siang!" sapa Zora ceria.
Ano hanya tersenyum membalas sapaan Zora. "Kebiasaan ka Ano tuh ga berubah deh, kalau Zora nyapa harus dibalas," ucap Zora kesal menatap Ano yang tak ambil pusing kemarahannya. Sekarang bahkan pria dihadapannya menopang dagunya dan tersenyum manis padanya.
"Harus dibalas apa?" tanya Ano santai tapi Zora malah jadi malu karena Ano melembutkan suaranya. Zora mengalihkan perhatiannya cepat.
"Ya, misalnya nih, selamat siang Zora, gimana kabar Zora, Zora udah makan, gimana hari kamu, datang sini ga kena macet, atau apa aja, jangan diam aja gitu kayak ga ada mulut," ucap Zora panjang membuat Ano menggeleng tak percaya.
"Siang Zora, udah makan, gimana hari kamu, ga kena macet kan," ucap Ano santai mengulang kalimat Zora dan seketika itu wajah Zora memanas. Ia menarik kursi duduk dihadapan Ano.
"Udah-udah, ga perlu jawab lagi, lain kali juga ga perlu balas sapaan Zora!" gerutu Zora marah. Zora memegang dadanya ternyata efek Ano membalas sapaannya sangat berbahaya. Jantungnya langsung berdetak cepat dan itu benar-benar tidak baik.
Ano tersenyum kemudian kembali membaca berkasnya. "Jangan kerja terus, nanti ka Ano sakit loh, Zora buatin omlet buat ka Ano, harus makan sampe habis ya!"
Ano menatap Zora sejenak memperhatikan sebuah kotak dimejanya. Zora bergerak membuka kotak tersebut. "Ka Ano mau minum apa, biar Zora beliin," ucap Zora cepat memperhatikan meja Ano tidak tersedia apapun selain kopi.
"Ga usah, kamu duduk manis disitu saja," ucap Ano membuat Zora mengulum senyumnya malu.
"Zora..." teriakan Mario membuat Ano dan Zora terkejut. Ano mengerutkan keningnya memperhatikan senyum Mario yang mencurigakan.
"Makasih ya bekalnya, kamu memang pengertian, eh, Ano juga dapat ya" ucap Mario senang masuk ke dalam ruangan Ano.
Ano tampak kesal mendengar ucapan Mario. Jadi Mario juga mendapat kan bekal dari Zora. Ia menatap Zora kesal. Ia tiba-tiba saja kesal pada Zora. Ia kembali sibuk dengan berkasnya tak perduli dengan keduanya yang sudah duduk dihadapannya.
"Enak ga pak Mario?" tanya Zora khawatir.
"Enak donk, kalau buatan kamu walau ga enak juga tetap enak aja," goda Mario membuat Zora tersenyum. Ano melirik senyuman malu-malu Zora pada Mario. Ia benci ini. Rasanya ia ingin menarik Mario keluar sekarang!
"Eh, mau tanya donk, Ano pernah buat kamu nangis ya, gara-gara apa?"
"Ehm, ga ada kayaknya," ucap Zora bingung.
"Ah, masa, masa Kio bohong sih!" elu Mario sebenarnya kesal tak mendapatkan sesuatu untuk menganggu Ano.
Zora mencoba mengingat ingat. "Pernah!" Zora menepuk tangannya antusias.
KAMU SEDANG MEMBACA
Devilish (END)
RomansaAku Ozora, panggil saja Zora. Aku menyukai seorang pria tanpa ingin rasa memiliki, karena aku tahu pria ini sangat susah untuk didekati. Dan aku sadar diri, anak pecicilan sepertiku bersanding dengan dinding es. Rasanya mustahil. Tapi karena hukuman...
