Zora sejak pagi berkutat didapur membuat sandwich dan juga bubur. Ia sedikit kebingungan membuat bubur. Apakah buburnya sudah jadi atau airnya kurang, ia benar-benar tak paham. Ia menghela nafas lelah sambil memperhatikan ponselnya yang berdering. Ia mengangkat panggilan saat membaca nama Claudia tertera di sana.
"Pagi tante! Eh di sana kayaknya jam 11 malam ya?" ucap Zora sambil terkekeh.
"Iya nih, kamu udah bangun, gimana keadaan Ano, tante kepikiran nih jadi ga bisa tidur."
"Aman kok tante, Ka Ano ga apa-apa setelah minum obat yang tante saranin," ucap Zora santai.
"Kamu lagi apa?"
"Buat sarapan, sekalian bersih-bersih rumah."
"Wuah, maaf ngerepotin ya Zora, seharusnya kamu yang santai, ini malah anak-anak tante yang sibuk semua."
"Santai aja tante, kayak sama siapa aja, Zora senang kok bisa bantu-bantu," ucap Zora santai walau sebenarnya ia bingung, ia sebenarnya membantu atau akan meracuni Ano dengan makanannya.
"Kamu buatin dia apa?"
"Eh bubur tante, tapi..." Zora terlihat ragu memperhatikan buburnya yang terlihat tidak menyakinkan di matanya.
"Oh gitu! wuaaa, makasih ya Zora, Ano itu kalau sakit anaknya diam aja orangnya ga kayak Kio yang sakit sedikit ngeluh, ga mau ngomong dia sakit apa, di mananya yang sakit, tahu-tahu ambruk aja, jadi tante suka khawatir sama dia."
Zora hanya bisa mangut-mangut sambil mengiyakan ucapan Claudia.
"Dia juga tipe yang mau diturutin apa maunya, manjanya rada nyebelin gitu harus sedikit sabar, dia ga ngerepotin kamu kan, tante minta maaf ya Zora, seharusnya Ano yang jagain kamu, ini malah kamu yang jagain dia.
Zora pura-pura tertawa agar Claudia tidak lagi khawatir. "Udah tidur dulu tante, di sana udah malam banget kan, tenang aja nanti Zora kabarin terus keadaan ka Ano," ucap Zora mencoba membuat Claudia tenang. Zora terkekeh saat mendengar sambungan panggilan dimatikan sepertinya ditarik oleh suaminya yang mengerutu karena terus mengobrol padahal di sana sudah hampir tengah malam.
Zora hanya bisa menghela nafas kemudian tersenyum kecut mengingat bagaimana Ano lebih menyebalkan ketika sakit tapi jauh lebih penurut dari yang ia kira. Padahal ia sudah menyiapkan segala pemikiran jika Ano tak mau mendengarkannya.
~
Zora membawa bubur yang ia beli saat perjalanan pulang ke kamar Ano. Ia hanya bisa menatap Ano yang berbaring sambil menutup wajahnya.
"Ka Ano makan ya," ucap Zora pelan.
"Nggak mau, besok aja makannya, sekarang aku mau tidur aja," ucap Ano serak bergerak memunggungi Zora.
Zora menghela nafas pelan kemudian ia mengambil termometer dan menaruh ke telinga Ano. Ia mau mengecek suhu tubuh pria ini. Ia segera mengambil termometer yang sudah berbunyi. 38,8 derajat. Ia menatap angka termometer dengan wajah tak percaya. Ia kembali memandang Ano yang sekarang menutup wajah dengan sebelah tangan.
"Ka Ano, bangun, demam ka Ano udah tinggi banget," ucap Zora menepuk nepuk lengan Ano kemudian menariknya mencoba membawa Ano duduk.
"Zora, aku hanya mau tidur," elu Ano kesal. Ia hanya kurang tidur, setelah tidur ia akan baik-baik saja.
"Makan dulu aja," ucap Zora kesal.
"Nggak!"
"Iya, mau, udah sedikit aja deh," ucap Zora sedikit lebih tenang.
"Itu kan kamu yang mau beli, aku ga mau, aku hanya mau tidur!" seru Ano kesal membuat Zora menyilangkan tangannya didada memperhatikan Ano yang menyebalkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Devilish (END)
RomanceAku Ozora, panggil saja Zora. Aku menyukai seorang pria tanpa ingin rasa memiliki, karena aku tahu pria ini sangat susah untuk didekati. Dan aku sadar diri, anak pecicilan sepertiku bersanding dengan dinding es. Rasanya mustahil. Tapi karena hukuman...