Epilog 1

1.1K 134 22
                                        

Ano makan siang dengan menekuk wajahnya sebal menatap Mario. Pria tersebut sedang bersama Dona. Ia menatap hal tersebut malas. Mario kini sedang merapikan rambut Dona, dan Dona tersipu malu. Ia benar-benar ingin membalasnya. Masalahnya ia tidak bisa membalas kemesraan itu.

Zora? Gadis itu sekarang sedang di Singapore. Setelah lulus kuliah. Gadis itu disibukkan dengan menjabat sebagai penerus di perusahaan Meschach. Yang mengakibatkan Zora jarang sekali di Indonesia. Ia bahkan belum bertemu Zora selama 2 bulan. Mereka hanya video call, itu pun jarang dilakukan karena biasanya Zora sudah kelelahan dan ia harus menyelesaikan kerjaannya yang menumpuk.

"Kasihan banget ya yang ditinggal berbulan-bulan," ucap Mario membuat Ano menusuk daging steaknya kesal.

"By the way, Zora makin cantik ya, kemarin wajahnya muncul dimajalah bisnis juga, kayaknya orang bahkan udah lupa dia itu pacar lo, soalnya ga pernah ada lagi embel embel Diano yang dikaitkan, udah gitu, Zora kemarin dijodohin sama pebisnis baru yang lagi naik daun tuh siapa namanya, Dikta ya, mereka tahunya sekarang Zora wanita karir yang diidamkan banyak pria," sindir Mario geli melihat wajah masam Ano. Pria itu benar-benar terlihat akan memakannya hidup hidup.

"Gitu ya?" balas Ano malas mencoba tak perduli. Tapi tetap saja Ano menusuk steaknya kasar.

Ano mengamati pesan dari grup angkatan SMA nya. Ada perayaan 50 tahun sekolahnya yang mengundang seluruh alumni untuk datang. Ia mengerutkan keningnya. Reuni? Ia malas sekali melakukan hal seperti itu. Apalagi sendiri, berdua saja belum tentu ia mau ke sana.

Seseorang menarik tubuhnya dari belakang kemudian memeluk lehernya erat. Ano sempat tersentak dengan hal tersebut apalagi saat ia merasakan pipinya dicium beberapa kali. Ia hanya mengerjapkan matanya bingung. 

"Ka Ano," ucap Zora ceria menatap Ano senang. Pria yang sedang ia peluk ini sudah ia tinggal selama dua bulan penuh.

"Kamu kok di sini, bukannya meeting ya?" tanya Ano terkesan sinis. Bukan nada seperti ini yang ingin ia keluarkan tapi memang kebiasaan, nada yang ia keluarkan selalu terdengar sinis.

"April mop! kan meetingnya di Indonesia, Pak Mario tahu kok, kan aku tanya juga lokasi ka Ano di mana dari dia," ucap Zora santai.

Lanny masuk dan menganggukkan kepalanya pada Ano. Ya, Lanny bekerja sebagai sekretaris Zora. Kemanapun Zora pergi akan ada Lanny di sana. Dan tentu saja kesenangan tersendiri untuk Zora.

Ano melepaskan tangan Zora kemudian memalingkan wajahnya. "Ka Ano masih marah karena aku ga balas pesannya dari kemarin?"

"Kamu sengaja ga balas pesan aku kan, tengah malam baru kamu balas," elu Ano tak suka.

"Ih, ga gitu, Zora tuh pengen balas tapi tahukan kerjaan Zora banyak banget, Ka Ano, tanya deh sama Lanny," Zora terlihat menarik lembut tangan Ano. Tapi Ano tetap aja menolak

"Ambekkan banget sih," tawa Mario geli melihat wajah tak senang Ano.

"Iya nih, dari dulu kalau ngambek pasti ga mau ngomong sama Zora," ucap Zora lirih membuat Ano mulai menatapnya.

"Kasihan loh Zora cantik cantik dianggurin gitu, mungkin si Dikta ok ya Ra gantiin Ano," lanjut Mario geli. Sedangkan Zora menatap Mario bingung. Dikta? Oh jadi Ano cemburu?

"Udah Mario," ucap Dona menyuruh Mario berhenti menganggu Ano.

Ano menatap datar Mario dan Zora yang takut menatapnya. Ano meletakkan pisau dan juga garpu segera pergi dari restoran tersebut. Ia sudah malas sekarang untuk mengisi perutnya.

Zora bergerak cepat mengejar Ano yang berjalan cepat walau hampir terjatuh tapi ia tetap bergerak memegang lengan pria dihadapannya. Ano yang merasakan Zora hampir jatuh berlahan melambat kan jalannya sambil memperhatikan sekitar.

Devilish (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang