Mobil bergerak cepat, berbelok di tikungan awalnya memilih pulang tapi gadis dihadapannya sangat pucat membuat Ano khawatir. Ia segera menuju rumah sakit.
"Mama," isakkan kecil Zora membuat Ano segera menggenggam tangan Zora.
Mobil berhenti dan Ano segera menggendong Zora keluar dan menaruh di brankar melihat perawat keluar. Zora segera ditangani dan Ano hanya bisa menghela nafas melepas jas kerjanya.
Dokter sibuk memeriksa dan suster sibuk memasangkan infus. Beberapa suster menutup tirai. Ano hanya bisa bersandar di dinding menunggu pemeriksaan.
"Malam pak, dari hasil pemeriksaan keadaan pacar bapak tidak kenapa-napa, ia terlalu banyak mengonsumsi alkohol saja, dan terus muntah muntah sehingga badannya lemas dan tekanan darahnya menurun," Ano tersenyum kikuk mendengar ucapan dokter dihadapannya.
'Pacar?' batin Ano tak percaya.
"Saya memberikan vitamin dan kita lihat dulu reaksi alergi yang muncul, karena sudah muncul ruam ditangan nya, biasanya itu hanya reaksi alami yang muncul untuk orang yang pertama kali mengkonsumsi alkohol tapi kadang kala ada yang sampai demam atau sesak nafas jadi saya sarankan dia di opname, untuk melihat perkembangan, jika subuh nanti keadaan nya membaik, besok dia bisa pulang."
Ano mendekati Zora yang sudah berganti pakaian rumah sakit. Ia seperti mengalami dejavu. Dulu ia sering melihat gadis dihadapannya menggunakan baju ini. Ia menarik kursi dan duduk menatap Zora dalam diam.
Ini semua karena ia tak bisa menjaga Zora. Rasanya kepalanya sakit memikirkan yang terjadi. Apalagi isakkan Zora terngiang dikepalanya membuat perasaan nya tidak karuan. Bunyi deringan ponselnya membuatnya tersadar.
"Halo."
"Halo, Ka, Zora gimana, udah mau pulang kan, aku sampe rumah kok ga ada, masih di dekat klub."
Suara Kio di sebrang sana terdengar khawatir. "Di rumah sakit, Zora lemas banget, jadi ka Ano antar ke sini."
"Oh, oke, nanti Kio jelasin sama Azel, biar ga khawatir kakaknya ga pulang."
"Kio.."
"Besok pagi Kio ceritakan, terlalu panjang sampe Kio juga bingung ngomong nya, intinya ini semua karena Sarah.
Lagi-lagi Ano diam. Ia kembali mendengar nama Sarah. Nama yang cukup familiar dan tentunya sangat ia y yg ⁶. Gadis yang terus menganggu Zora.
"Ehm, ini bukan kesalahan ka Ano, dan jangan berfikir terlalu banyak, Zora tidak apa-apa," Suara Kio diseberang sana mencoba menyakinkan Ano. Ia paham bagaimana kakaknya. Ano akan menyalahkan dirinya untuk sesuatu yang kadang bukan dilakukannya.
"Ka..."
"Iya, aku tahu, aku paham," potong Ano cepat dan mengakhiri teleponnya sepihak.
Zora sedikit tersadar dan tersenyum menatap Ano yang sedang memperhatikan nya. Ia bangun dan duduk. Ia merasakan kepalanya pusing, badannya panas, gatal dan haus. Mata mereka bersitatap, Ano tersenyum membalas senyuman Zora.
"Mau sesuatu?" tanya Ano akhirnya bersuara.
Zora tampak berfikir dan tersenyum. "Ka Ano peluk!"
Ano berdiri bergerak tanpa sadar memeluk Zora erat. Zora tersenyum menaruh dagunya pada bahu dan menepuk lembut punggung Ano.
"Ka maafin Zora ya, Zora nyusahin ya?"
Ano hanya diam masih memeluk Zora. Perasaan nya campur aduk sekarang. Lega dan marah. "Ka Ano harus selalu sama Zora ya, karena Zora bakal lindungin ka Ano."

KAMU SEDANG MEMBACA
Devilish (END)
RomanceAku Ozora, panggil saja Zora. Aku menyukai seorang pria tanpa ingin rasa memiliki, karena aku tahu pria ini sangat susah untuk didekati. Dan aku sadar diri, anak pecicilan sepertiku bersanding dengan dinding es. Rasanya mustahil. Tapi karena hukuman...