Epilog 3

985 126 41
                                    

Ano menatap Zora kemudian tersenyum mencium pelipisnya lembut. Gaun putih yang melekat indah pada tubuh mungil Zora sangat membuatnya kagum. Gaun itu tampak biasanya tapi tampak menakjubkan ketika dikenakan oleh Zora. 

"Ini masih lama ya?"

Ano bergidik geli dan tetap menatap Zora yang terlihat menggemaskan karena merajuk. "Resepsinya bentar lagi selesai, sabar aja," bisik Ano membuat Zora menyipitkan matanya sinis.

"Ka Ano enak pake jas dan celana, gaun ini berat banget ya, mana mama Claudia jahat, masa Zora disuruh pake heels setinggi ini supaya pas foto katanya ga pendek-pendek banget!" elu Zora tapi membuat Ano tertawa kuat. Beberapa tamu ikut tersenyum melihat wajah bahagia kedua pasangan tersebut.

"Makanya waktu kecil jangan absen minum susu, kasiannya marmut ka Ano," tawa Ano geli sambil mengelus pipi Zora dengan punggung tangannya. 

Zora menyingkirkan tangan Ano sebal dan menatap tajam pria yang baru saja menjadi suaminya kurang dari 24 jam. Kalau tidak ada tamu undangan sudah ia ajak adu mulut.

6 bulan lalu setelah dia pulang dari Jerman. Ia mengajak Ano pergi ke bioskop seharian dengan alasan ia sudah lama tidak menonton padahal sebenarnya dirinya mau melamar Ano. Ya, tidak ada yang salah. Ia yang akan melamar Ano. Tapi berakhir dengan ia yang mendapatkan kejutan. Jika diingat membuat nya kesal dan malu.

~*

Ano mengikuti kemauan Zora sore ini. Gadis itu mengajaknya bioskop menggunakan motor. Zora menginginkan dirinya menggunakan motor dan Ano menurutinya. Ia meminjam motor Kio dan membawanya ke rumah kediaman Zora.

Ano masuk ke dalam santai menyapa Digo dan Sisi yang terlihat sedang makan.

"Sore om, tante!"

"Sore, Ano," balas Sisi senang.

"Jadi hari ini pergi, No?"

"Jadi om," seru Ano bersemangat.

"Zora kayaknya ketiduran daritadi belum turun dari kamar," ucap Sisi tapi suara Zora yang menggelegar mengatakan yang mamanya katakan tidak lah benar.

"Ih, mama, Zora udah siap kok!" seru Zora cepat kemudian tersenyum menatap Ano.

"Tumben kamu pakai celana jeans panjang?" sapa Ano santai. "Ka Ano gimana sih, kita kan naik motor kalau pake gaun terbanglah, mana motornya tinggi banget lagi!" seru Zora sebal membuat Digo terkekeh mendengar ucapan anaknya.

"Princess papa udah besar aja ya, Zel kamu jangan cepat besar ya!" teriak Digo keras karena anaknya sedang di kamar.

"Digo, kamu tuh!" seru Sisi sebal membuat Digo terkekeh. "Kalau lihat Zora, mirip kamu pas hamil dia ya, manja-manja ngangenin!" bisik Digo membuat Sisi menepuk lengan suaminya sebal.

Zora tertawa memperhatikan kemesraan papa dan mamanya yang tak luntur. Semoga bersama Ano, dirinya bisa seperti itu. Ia menatap Ano, kemudian berlari kepada orang tuanya. Ia pamit dan langsung mengandeng Ano.

"Zora udah siap, yey! naik motor!" seru Zora bersemangat.

Ano memegang tangan Zora kemudian langsung menariknya ke dalam pelukan. Ia sangat gemas pada Zora jika sedang mengeluarkan tingkah bocahnya.

Zora memperhatikan motor yang dibawa oleh Ano. "Motor baru ya?"

"Iya, motor baru Kio, tahukan dia itu hobi koleksi motor gede gini, dia aja udah habis dimarahin sama Lanny," tawa Ano geli.

"Eh, kok bisa?"

"Iya, awalnya dia mau sombong gitu pamer ke Lanny habis beli motor hampir 2 M, tapi dia malah dimarahin, didepan rumah dilihatin papa sama mama, kamu harus lihat muka cengo dia," ucap Ano geli membuat Zora tersenyum menatap wajah Ano yang ceria hari ini.

Devilish (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang