Chapter 59 : Kamu Tidak Sendirian

8.5K 1.3K 120
                                        

Hai Ran menyunggingkan senyum tipis. "Aku tidak menyangka kau akan memaksaku hingga ke titik ini. Satu hal yang perlu kamu tahu, sebanyak dan sekeras apa pun kamu berusaha, membunuh hampir setengah pasukanku.... Sia-sia saja. Kalian tidak akan bisa dan tidak akan pernah."

Hwang mengeluarkan suara dingin, "Dasar Binatang! Tidak tahu malu! Aku akan menyeretmu ke neraka bersamaku!"

"Yohh?! Kamu begitu bersemangat sekali, Pangeran. Apa kamu masih suka berkhayal seperti dulu?"

"Cukup!" Yiu menyela dan mendesis, "Hai Ran... Aku akan menghabisimu hingga tulang pun tidak bersisa."

♣♦♣

Hai Ran kembali menyunggingkan sudut bibirnya sembari mengeluarkan pedang yang berkilat dari pinggangnya.

"Coba saja kalau bisa."

Tanah bergetar, derap langkah tegas mengalun seirama dengan suara dentingan nyaring bagai musik perang yang selalu mengiringi perjalanan mereka.

Yiu sudah memperkirakan hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Ia mengeluarkan pedangnya dan dengan gesit menebas pasukan lawan yang menuju ke arahnya.

Pasukan milik Hai Ran tidak terlalu banyak, awalnya bisa Yiu perkirakan ia membawa seratus orang tapi dengan keyakinan yang sama ia dapat mengetahui jika pasukan Hai Ran kali ini berkurang lebih dari setengah ditambah mereka sekarang terpencar-pencar.

Di sisi lain, Hwang yang sudah termakan api mulai mengamuk dengan gerakan pedang yang begitu kuat.

Meskipun ia tidak terlalu menguasai seni pedang. Namun, kali ini ia seolah dirasuki oleh roh pedang yang membuatnya semakin berapi-api.

Pedang keduanya berdenting memekakkan telinga, Hai Ran masih dengan mudah menghadapi serangan cepat itu walau sedikit demi sedikit merasakan perubahan.

Bagaimana rasanya berhadapan kembali dengan pembunuh kedua orang tuamu yang ternyata lebih kuat darimu?

Apakah kamu kesulitan bernapas saat melihat bayangan orang tercintamu berdiri dengan wajah pucat di samping pembunuhnya?

Apakah kamu memiliki keberanian untuk membalas? Apakah kamu sanggup menghadapi wajah mereka saat mereka tahu kamu tidak cukup kuat?

Musim dingin hampir berakhir, hawa dingin masih memeluk erat tubuh lemahmu, dan ranting-ranting pohon itu masih belum tertutup hijaunya daun. Menyeramkan dan menyedihkan. Itulah Hwang sekarang.

Dengan susah payah ia menahan air matanya yang terus mendesak keluar, tangannya yang kokoh gemetar, mata kelabunya berubah merah semerah luka yang sudah muncul di beberapa titik tubuhnya. Meski begitu, ia mengabaikan semuanya dan tetap berusaha mengalahkan Hai Ran dengan tekad sekuat baja, tak tergoyahkan.

Yiu yang berada tak jauh dari kakaknya terus mencuri pandang pada luka-luka kecil kakaknya yang terus berdarah.

"Gege! Biarkan aku saja!"

"Diam! Biar Bajingan ini aku yang membunuhnya!"

Merasa ia harus melakukan sesuatu untuk membantu kakaknya, Yiu memutar kepalanya mencari bayangan Wu Xiao.

Ia berteriak, "Wu Xiao!"

Merasa namanya dipanggil, sang pemilik nama mengalihkan atensinya.

Ia tahu betul suara itu milik Liyingnya, manik keduanya bertemu untuk beberapa saat dan Wu Xiao segera mengerti maksudnya.

Ia menggores beberapa leher sebelum berlari mendekati Yiu, ia menyarungkan pedangnya dan menggulung naik lengan kanannya hingga terlihatlah sebuah benda melingkari lengan putih itu.

Flower Of War (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang