Chapter 70 : Target Selanjutnya

4K 571 86
                                        

Disaat itu Yiu baru sadar bahwa ia telah kehilangan seorang sahabat yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri.

Pemuda yang mungkin awalnya sangat terlihat dingin seperti es batu tetapi perhatiannya pada sekitar tidak akan pernah bisa ditandingi oleh siapa pun.

Meskipun berat. Namun, kehidupan harus terus berlanjut. Seluruh kenangannya bersama Ming Zijing akan terus hidup dalam hatinya, disimpannya rapi di sudut hatinya.

Selamat jalan, Ming Zijing. Sekarang bersenang-senanglah di surga sembari menungguku membalaskan kematianmu.

Aku akan sangat merindukanmu.

♣♦♣

Hari itu terasa waktu berjalan begitu lamban. Jasad Pangeran Ming Zijing sudah berangkat menuju Kerajaan Guang Ming untuk dikremasikan.

Yiu duduk sembari mengelap busur panah milik Ming Zijing. Tatapannya kosong seolah jiwanya terserap ke dalam kenangan bersama busur yang kini sudah tak berpemilik.

Sebuah kendi kecil terulur padanya, membuat kesadarannya tertarik kembali. Aroma manis dari kendi arak itu menusuk lembut hidung Yiu.

"Mau minum bersama?" Awalnya, Yiu mengira Wu Xiao datang untuk menghiburnya. Namun, suara berat yang tenang itu membuat Yiu menoleh untuk memastikan.

"Hwang Ge...."

Pangeran Hwang tersenyum manis sembari kembali mengangkat kecil kendi arak yang terulur untuk Yiu.

Kedua kakak beradik itu minum bersama beratap langit malam yang tak berbintang.

"A-Ying, aku ingin bertanya satu hal padamu."

"Tolong jelaskan, Ge."

Hwang menyesap arak terbaik di Kerajaan Zhang Wu yang ia bawa secara eksklusif bersamanya sebelum menoleh dan bertanya, "Apakah kamu masih ingin melanjutkan perang ini?"

Pertanyaan itu spontan mendapat respon negatif dari Yiu. "Apa maksud Gege?! Perang ini harus terus berlanjut sampai kita meraih kemenangan."

Hwang tidak menunjukkan emosi, ekspresinya datar dan tenang bagai sungai tenang yang menghanyutkan.

Ia tersenyum kecil sembari meneguk satu tegukan penuh. "Kau tahu, A-Ying, perang hanya akan merugikan kedua belah pihak. Tidak akan ada pihak yang diuntungkan dalam perang."

Yiu mengeryit curiga, merasa aneh pada sikap kakaknya. "Aku tahu itu. Tetapi aku pernah mendengar sebuah pepatah, 'Jika kamu menginginkan kedamaian bagi dunia maka kamu harus bersiap untuk bertarung melawan dunia' .... Maka dari itu aku sudah mempersiapkan diriku di versi terburuk."

Hwang melirik heran, ia belum pernah mendengar puisi yang sesingkat itu dan tidak memiliki kalimat sastra yang tinggi seperti hanya sebuah ucapan tanpa latar.

Bahasa yang sederhana tetapi penuh makna dibaliknya membuat Hwang kembali terheran-heran. Apakah penyair ini baru saja menapaki dunia sastra?

"Puisi yang indah dan berbobot, A-Ying. Jika kamu yakin dengan jalanmu maka teruslah melangkah tanpa keraguan, Gege akan selalu mendukung di belakangmu walau tidak selamanya."

Yiu yang sedang menenggak araknya tiba-tiba tersedak dan batuk singkat. Hwang yang panik segera menepuk-nepuk ringan pundak Yiu.

"Apa maksud Gege?! Ge, kumohon jangan berkata hal yang tidak masuk akal."

Hwang menyeletuk, "Tidak ada yang tidak masuk akal. Kita semua manusia yang pada akhirnya akan mati, itu sudah takdir yang pasti."

Hwang menggeser duduknya lebih rapat pada Yiu. Diusapnya singkat ujung kepalanya sembari berkata, "A-Ying, aku hanya ingin berpesan bahwa perang ini tidak akan pernah membawa kebahagiaan. Akan banyak darah yang tumpah, kebahagiaan yang terenggut karena sebuah perpisahan. Banyak keluarga yang akan menderita dalam masa-masa seperti ini."

Flower Of War (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang