Manikya terus tertuju pada interaksi antara Wu Xiao dan Ming Lihua yang kini tengah saling bercanda gurau. Membuat emosi Yiu entah mengapa semakin naik di tengah panasnya sinar mentari yang bersinar.
Emosi yang semakin memuncak itu bersaing dengan rasa perih nan sesak di dadanya. Entah mengapa rasanya begitu sesak hanya dengan melihat interaksi antara Ming Lihua dan Wu Xiao.
Memori tentang Wu Xiao yang terus menganggu hidupnya kini menjadi sesuatu yang terus menganggunya. Bukankah ini yang dulu selalu ia inginkan, damai bersama pikirannya tanpa gangguan dari pria gila yang kini sudah menemukan seseorang yang sama gila dengannya dan akan hidup bahagia selamanya?
Huh, lagi-lagi Yiu bertengkar dengan pikirannya sendiri. Mungkin ini yang seharusnya terjadi, keduanya menemukan kehidupan yang mereka impikan. Takdir yang pahit selalu adil.
♣♦♣
Pasukan itu melewati jalur gunung yang cukup landai walau berbatas jurang untuk segera sampai ke Qiu Wang.
Formasi pemimpin akan berputar tiba-tiba sebanyak lima kali sepanjang perjalanan dengan genderang perang sebagai sinyal demi menghindari musuh yang bisa saja mengintai Yiu, secara dia adalah jenderal sekaligus pemimpin inti pasukan.
Sinar mentari yang menyengat bertengger di atas kepala, angin yang berhembus pun menjadi angin panas dalam sauna. Yiu melajukan kuda memutar posisi sembari mengelap peluh dengan ujung jubah perangnya secara tak sadar.
Ia bergumam, "Sudah masuk musim panas rupanya, seluruh kulitku terasa sangat terbakar."
Tiba-tiba sebuah tangan bertengger di pundaknya sembari memegang sebuah payung kertas.
Yiu segera menoleh dan mendapati Wu Xiao tengah mengipasi dirinya sembari memayungi keduanya.
Belum sempat Yiu ingin menyemprot tindakan tidak pantas itu, Wu Xiao seakan sudah menebak pikirannya dengan segera mendekatkan kipas lukis itu di depan wajahnya.
Sejuk.
"Aku hanya merasa hawanya terlalu panas, bagaimana sejuk, 'kan? Kita bisa bergantian mengipas, aku yang akan memegang payungnya."
"Wu Xiao! Kita sedang di ruang publik! Hei pegang tali kudamu, bagaimana jika ia lepas kendali?!"
Wu Xiao terlihat tidak peduli dan terus memandang ke depan.
"Kuda ini bisa berjalan sendiri, tenang saja."
Kemudian wajahnya mendekat dan sedikit berbisik pada telinga Yiu, "Hmm, memangnya kenapa? Lagipula aku memiliki niat baik melindungi Jenderal agar tidak kepanasan."
Yiu mengesampingkan rasa pegal di pundaknya akibat menahan tangan Wu Xiao, sebaliknya sekujur tubuhnya hampir merinding mendengar suara bisikan lembut itu menerpa halus daun telinganya.
Yiu refleks membuang muka dengan wajah tersulut api, hal itu membuat naluri menggoda Wu Xiao semakin bermekaran. Smirk dan manik penuh semangat di wajahnya tergambar sangat jelas.
Masih dengan berbisik lembut, "Jenderal, apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
Yiu yang masih berkelahi dengan dirinya sendiri refleks menjawab sembari menghempaskan tangan Wu Xiao di bahunya dengan kasar, "Yah, dan itu kau! Kenapa kau tidak menganggu Putri kesayanganmu itu saja? Menyebalkan!"
Alis Wu Xiao berkerut dibarengi suara "Hmm?". Ia terdiam beberapa saat walau tangannya perlahan kembali memayungi Yiu, mencerna sesuatu, wajahnya kembali antusias.
"Jenderal, apa kau *minum cuka?"
*Idiom China Of The Day*
Minum cuka (吃醋)= Cemburu
醋(cù) artinya cuka, karena cuka rasanya asam, istilah ini merujuk ke ekspresi ketika seseorang memakan sesuatu yang masam makanya wajahnya jadi asam seperti saat melihat dia bersama yang lain walaupun di depannya senyum sambil bilang, "Cieee".
KAMU SEDANG MEMBACA
Flower Of War (Slow Update)
FantasyYiu Jiefang, gadis berusia 27 tahun, menjabat sebagai Komandan Pasukan Elite Angkatan Darat China yang terkenal akan kejeniusannya dalam bidang militer terutama dalam hal mengatur strategi. Keahlian dalam menggunakan berbagai macam senjata tidak per...
