Subuh-subuh tadi saat mau membangunkan Ghidan, Bi Oda nyaris terjungkal karena mendapati seorang perempuan baru saja keluar dari kamar majikannya. Matanya sampai melotot memperhatikan si perempuan yang tengah menguap dan mengusap muka, meneliti dari atas sampai bawah berkal-kali.
"Mbak Keira?" tanyanya syok. Agak dramatis sampai menutup mulutnya sendiri.
"Iyalah, Bi, masa setan?" balas Keira tak paham.
Nampaknya, Bi Oda akan lebih percaya kalau perempuan yang hanya mengenakan gaun tidur tipis tanpa bra sehingga payudaranya nyaris kelihatan itu merupakan wanita-wanita sembarangan yang diajak pulang oleh si pemilik rumah saat si nyonya sedang melakukan perjalanan ke luar kota. Bukan nyonya rumah ini yang sebenarnya hal wajar.
"Mbak Keira gak habis ngapa-ngapain kan di dalem?"
Mendengar pertanyaan Bi Oda, Keira kehilangan rasa kantuknya. "Lihat nih aku pakai apa?" tanyanya, lalu memeluk dadanya erat-erat. "Aku habis diapa-apain," cicitnya dengan suara teraniaya.
Mulut Bi Oda kembali terbuka agak lama. Lalu matanya memicing memandang Keira curiga.
"Gak nyuri lagi kayak waktu itu?"
Keira tersenyum masam. Tentu saja kejadian dia mencuri kartu kredit dari dompet Ghidan berbulan-bulan lalu menjadi kejadian traumatis bagi Bi Oda. Perempuan paruh baya itu nyaris menangkap basah Keira, sehingga tidak perlu ada drama-drama tak perlu lanjutan yang menyakiti Ghidan.
"Udah, ih, Bibi masuk aja ke dalem," suruhnya sebelum turun ke lantai bawah.
Bi Oda masuk ke kamar Ghidan sebagaimana rutinitas paginya, mendapati pria itu sudah terbangun dan fokus memainkan laptop di atas kasur yang sprainya berantahkan. Biasanya, Ghidan tidak suka dengan kondisi kamar yang sangat berantahkan. Setelah menyapa, perempuan yang sudah dianggap ibu sendiri oleh Ghidan itu berjalan ke tempat keranjang baju kotor terletak.
Benar saja, dia menemukan pakaian dalam milik perempuan di dalam sana.
"Saya belum mandi, Bi. Entar aja di bawanya," ucap pria itu memberitahu. Kayaknya, memang tidak terjadi keributan apa-apa sebelumnya melihat Ghidan sepenuhnya baik-baik saja.
Bukan hanya Bi Oda yang tidak terbiasa dengan 'akurnya' dua orang pemilik rumah ini. Bi Eni dan Mang Jamal juga tidak terbiasa, mereka bertukar cerita mulai dari Ghidan dan Keira yang pulang berbarengan, ngobrol tanpa ada yang naik pitam, Ghidan yang memakai mobik Keira, atau keduanya yang keluar-masuk kamar satu sama lain tanpa melakukan kejahatan.
"Aku yo seneng liat mereka berdua akur begini. Moga iso terus kayak ngene," ucap Bi Oda yang juga diangguki Bi Eni dan Mang Jamal.
Mereka bertiga, terutama Bi Eni dan Bi Oda merupakan saksi gilanya perselisihan antara Ghidan dan Keira. Pertengkaran mereka seperti tidak akan ada selesainya. Namun, hari ini, melihat bagaimana dua orang itu pergi ke kantor dengan menggunakan mobil yang sama merupakan sebuah doa yang akhirnya menjadi kenyataan juga.
"Saya teh khawatir ini tuh air yang damai dalam sangkar buaya."
Bi Eni memukul bahu Mang Jamal, "amit-amit," lanjutnya kemudian.
***
Keira punya satu alasan masuk akal kenapa dia 'nebeng' di mobil Ghidan pagi ini. Mobilnya masih di bengkel, service tahunan sekaligus membenarkan GPS yang rusak, sesuai saran Ghidan beberapa hari lalu. Seharusnya selesai dalam sehari, akan tetapi, dia mau ganti head unit yang harus inden dulu. Jadilah Keira ke kantor dan harus menumpang di mobil Ghidan lagi.
Pria itu menyetir sendiri karena menugaskan Mang Jamal menemani Bi Oda memesan AC baru untuk menggantikan AC di kamar kecil dekat perpustakaan. Lagipula, kalaupun nanti harus keluar, di kantor ada beberapa supir yang bisa mengantarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marriage Blues (COMPLETED)
Romance"Marriage is hard, divorce is hard. Choose your hard." Menikahi perempuan tukang kontrol dan selalu ingin menang sendiri bukanlah perkara mudah. Hebatnya, Ghidan Herangga berhasil menjalani itu selama tujuh tahun berturut-turut. Tanpa persetujuannya...
