Chapter 15 : Sayang diri sendiri

254 51 8
                                        

Sejak Bagas sakit, Jingga melarangnya begadang dan selalu perhatikan makanan lebih ketat. Tidak mau tau, jam sepuluh sudah harus istirahat, jangan pikirkan pekerjaan terus, berhenti membuat pekerjaan lebih penting dari kesehatan, mulai perhatikan asupan nutrisi juga olahraga rutin.

Kalau soal olahraga, Bagas memang sudah rajin. Tapi soal sayur dia masih sering mengeluh, seenak apapun masakan jingga, jika itu hijau semua, Bagas masih punya celah untuk menghinanya.

Juga tentang tidur jam sepuluh, "anak SD jam segitu lagi ngerjain PR," kilahnya tidak masuk akal.

Jingga bawel tentang ini itu, niatnya baik, hanya untuk pastikan Bagas tidak sakit lagi, meskipun kadang jengkel dengan banyak alasan yang Bagas beri.

"Enggak kerasa, udah sebulan aja kita nikah. " ucap Bagas ketika keduanya sedang duduk berhadapan di meja makan. Sarapan hari ini nasi goreng spesial buatan Jingga.

"Hah, enggak kerasa. "ucap Jingga masih kaget, sebenarnya dia tidak ingat tentang hal itu, beruntung Bagas tidak membahasnya.

"Kerasa sih buat gue," gumam Bagas memasang wajah menyebalkan.

Mereka berbeda opini sudah terlalu sering, ekspresi wajah menyebalkan itu juga sudah biasa Jingga lihat. Jadi dia memilih tidak menanggapi dan segera selesaikan sarapannya.

Bagas di tempatnya mulai memasang wajah keruh, Jingga lupa jika suaminya itu sangat sensitif dan tidak suka ditinggal. Selesai menyimpan piring kotornya di wastafel, Jingga kembali duduk sambil memikirkan bahan obrolan.

"Hari ini enggak ke kantor?"tanya Jingga.

"Ini hari minggu," jawab Bagas ketus.

Hening,"Kebayang enggak sih kalau kita enggak kenal sejak kecil, kita bakal jatuh cinta di pertemuan ke berapa?" tanya Jingga tiba-tiba. Bagas di tempatnya mengerjap kemudian meneguk air putih setelah selesai makan. Jingga bersorak dalam hari, merasa pertanyaannya berhasil memancing Bagas untuk banyak bicara.

Bagas menggeleng,"gue belum ngebayangin sampai sana, tapi dulu ya, gue selalu berharap rasain Love at the first sight, gue bingung ngomongin cinta tapi kalo tentang siapa yang di sayang selain Papa mama, tentang rasa nyaman dan siapa orang yang mau gue jaga kebayangnya Elo." jelas Bagas panjang lebar. Jingga mengangguk, mulai merasa terharu. Namun mengingat sesuatu buat dia meringis.

"Tapi cinta pertama Lo bukan gue," cicit Jingga.

Bagas di kursinya merapatkan bibir merasa salah bicara, dua puluh tujuh tahun dia hidup memang belum pernah serius mengencani wanita. Bagas hanya pernah berpacaran sekali di kelas satu SMA. Apa itu sudah disebut cinta pertama? Karena hubungan sederhana itu hanya berjalan kurang dari satu bulan.

"Gue minta maaf." ujar Bagas pada akhirnya. "Gue udah terlanjur ketemu elo dari bayi. Gue terlalu larut liat lo, liat lo sebagai Jingga, bukan cewek cantik lucu feminim seperti yang orang lain tau. Jadi bingung juga kalo ditanya ngerasain jatuh cinta sama lo sejak kapan. Tapi yang harus Lo tau, Lo satu-satunya buat sekarang sampai akhir. "Bagas menjawab dengan serius, Jingga yang dengar hanya diam kagum. Jingga tadi hanya becanda, dia tidak berniat membahas masalalu disini sebab Jingga mengenal mantan pacar Bagas dan tau bagaimana orangnya.

"Kok diem? " tanya Bagas akhirnya.

Jingga menggeleng, "kaget aja, sedikit terharu sama bingung mau jawab apa," ucap Jingga sambil bangkit kembali dari duduknya.

"Mau kemana? belum selesai." larang Bagas. Jingga tidak membalas, dia kembali duduk di tempatnya.

"Oh iya, gue mau ngobrolin ini," ucap Bagas terlihat ragu, "rumah ini kan gede dan lo kerja, kita pake asisten rumah tangga ya?"

Jingga tak langsung menjawab melainkan tatap suaminya heran.

"Gimana? "ulang Bagas.

"Kenapa harus? "tanya Jingga, bangkit dari duduk kemudian mencuci dua piring bekas sarapan barusan. Dia merasa yang Bagas bicarakan tidak terlalu penting dan bisa dia dengar sambil beraktifitas.

Bagas bangkit, ambil alih piring lanjut dia yang mencuci, "Sama seperti lo yang selalu peduli, gue juga enggak mau liat lo kecapean."

"Enggak cape kok," balas Jingga segera.

"Biar kamu ada temen juga. "ucap Bagas lembut.

"Temen apa, kan sibuk kerja. Kalau malam kan ada kamu," balas Jingga.

Keduanya sudah bicara memakai Aku-Kamu yang artinya tidak terlalu baik. Agak aneh pasangan ini memang, disaat orang lain memakai Lo-Gue ketika bertengkar, mereka sebaliknya.

"Nah itu, besok aku harus ke luar kota,"ucap Bagas diakhiri cengiran. Bagas tau, Jingga tidak pernah suka ditinggal apalagi diberitahu mendadak. Bagas hari ini melakukan kesalahan double.

Tapi teringat kembali pesan sang Ibu, 'sebeda apapun pendapat kalian, sebertentangan apapun keputusan kalian, tolong jangan mencoba untuk bertengkar sebelum empatpuluh hari pernikahan.'

Menghembuskan napas kasar, Jingga redam marahnya. " Ya udah, apa yang perlu aku siapin? "

"Enggak perlu, kamu kerja aja yang tenang. "

"Mana bisa, kamu mau bawa baju berapa? "

Bagas menggeleng, "Aku siapin sendiri nanti, sekarang ngomongin tentang kamu dulu, mau stay di rumah atau mau nginep di rumah Bunda, ah atau di rumah Mami? "

Jingga tampak berpikir, kemudian sebuah keputusan terlintas dipikiran.

"Aku mau belajar mandiri aja, mungkin hari-hari berikutnya Aku baru kesana. Lagian ke rumah sakit lebih dekat dari sini."

Bagas berdiri di hadapan Jingga, mengikis jarak kemudian rengkuh tubuh di depannya.

"Makasih udah ngerti Nga,"bisik Bagas tulus. "Gue pasti kangen di peluk gini," lanjutnya.

"Jangan peluk siapapun disana," peringat Jingga.

"Mana berani, gila aja. Istri gue udah cantik, pinter, paket komplit gini. Ngapain nyari lagi. "

Jingga cubit perut Bagas agar berhenti dengan mulut buayanya.

"Gue harus kerja, " ujar Jingga, dia mendorong Bagas pelan.

"Kita belum selesai ngomongin asisten rumah tangga," peringat Bagas.

"Gue belum perlu, udah biasa kerjain semuanya sendirian juga. Lagian enggak banyak kan yang bisa dikerjain di rumah ini?" tanya Jingga.

Bagas ingin bicara lagi tapi Jingga menggeleng, "sama kaya Elo yang janji bakal jaga kesehatan, Gue juga bakal baik-baik disini,"ucap Jingga dengan santai.

"Bener? "

"Justru yang perlu dikhawatirin disini itu Elo, Gue udah biasa hidup sehat," ujar Jingga jumawa.

"Aduh iya, iya Bu docter cantik. Aku percaya. Ngomong-ngomong, kuat enggak ya Aku jauh lama-lama dari kamu. "

Jingga melotot karena merasa merinding dengar ucapan Bagas barusan.

"Berhenti menjijikan," ucap Jingga tegas.

"Aku sayang kamu," balas Bagas yang dengan cepat kecup lembut pipi Jingga.

"Gue sayang diri gue sendiri. "

Tbc

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang