Chapter 55 : sambut bahagia

223 23 0
                                        

Di jum'at sore kali ini, sepulang dari bekerja Bagas tidak berlama-lama diam di rumah, turun dari mobil tujuannya langsung membersihkan diri, mengganti celana bahannya dengan jeans biru juga mengganti kemeja dan jasnya dengan kaos putih dibalut jaket hitam, berpenampilan santai, dia berniat pergi ke super market tanpa Jingga.

Bercermin sebentar, Bagas yang sudah merasa siap segera bergegas ke halaman belakang, di mana terdapat ruangan bermain tempat biasa kedua anaknya menghabiskan waktu, karena perginya Bagas sekarang tidak sendiri, melainkan bersama Jiva dan Raga.

"Ada orang di rumah?" tanya Bagas dengan riang, tadi sepulangnya Bagas tidak sempat bertemu dua anaknya.

"Papa," ujar Jiva dan Raga setempak, satu sama lain bermaksud memberi tahukan keberadaan Bagas. Dengar pertanyaan Bagas tapi keduanya tak segera menjawab, melainkan malah saling pandang dengan perhatikan mainan yang sedang di pegang masing-masing.

"Papa pulang siang?" tanya si anak perempuan.

"Ngapain?" tanya balik si anak laki-laki. Berakhir, keduanya menggeleng bersamaan.

"Samperin?"tanya Raga meminta persetujuan Jiva.

"Paling nyariin Mama, biarin aja, ini kita main," saran Jiva yang dapat anggukan Raga.

Keduanya kembali bermain tebak-tebakan. Sebuah permainan sederhana yang hanya pakai sebuah koin dan bedak. Dengan bergiliran keduanya menyembunyikan koin di salah satu kepalan tangan, menebak koinnya ada di tangan kanan atau kiri, lalu jika tebakannya salah dapat coretan bedak. Jiva sering kalah, mukanya yang paling penuh dengan bedak. Sedang asik bermain Bagas akhirnya sampai di depan keduanya.

"Kalian lagi ngapain?"tanya Bagas cukup kaget, "tinggal digoreng, jadi Jiva Raga krispi,"tambahnya.

"Main,"jawab keduanya setempak, "ini bedak bukan tepung Papa,"tambah Jiva.

"Kamu yang paling sering kalah ya Ji?" ledek Bagas pada Jiva,"bisa mainnya enggak ?"sambungnya diakhiri tawa.

Jiva tidak menjawab, dia sedang serius menebak, dia menepuk pelan tangan kanan Raga yang terkepal dan bersorak karena tebakannya benar.

Melumuri semua tangannya dengan bedak, karena kesal dengan ejekan Bagas, Jiva melampiaskan kekesalannya dengan mencoret wajah sodara kembarnya sepenuh mungkin.

Bagas perhatikan itu, dia tertawa tapi tak lama.

"Emang mainnya harus cemong-cemongan gini?" tanya Bagas segera maju, dia cari tisu basah untuk bantu bersihkan. Tapi Raga menolak, dia bangkit mau bersihkan wajahnya sendiri di kamar mandi.

"Kalau mainnya enggak ada hukuman enggak seru Papa," balas Jiva yang diam saja ketika Bagas membersihkan mukanya.

"Kalian udah makan?" tanya Bagas lagi.

"Makan siang udah kelewat, makan malam masih lama. Papa nanya yang mana?" tanya balik Jiva.

"Yang mana aja,"sahut Bagas.

"Kita belanja sebelum jemput Mama, sana siap-siap ajakin Raganya," perintah Bagas.

"Berarti belanjanya tanpa Mama?" tanya Jiva, "memang Papa bisa?" lanjutnya ragu.

"Mama udah bikinin daftarnya," sahut Bagas, "udah disimpen dulu pertanyaannya, kamu mau pakai ini atau ganti baju?"

Jiva tak langsung menjawab, dia tatap baju yang dipakai. Sepertinya cukup pantas dipakai keluar.

"Gini aja,"jawabnya segera. Bagas mengangguk, bersamaan dengan Raga yang datang setelah mencuci mukanya.

"Udah? Kita mau belanja sebelum jemput Mama. Mau pakai ini atau ganti baju?" tanya Bagas pada Raga.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 07, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang