"Hal yang tidak boleh kamu lakukan adalah balas setiap marah dengan kemurkaan lebih besar, Bagas jadi suami itu bukan perkara mudah. Ego kamu enggak harus selalu menang, argument kamu yang tanpa ada habisnya enggak bisa selalu kamu pakai. Sebagai kepala keluarga, kamu enggak bisa mikirin diri sendiri. Nanti dengan berjalannya waktu, kamu akan belajar dari pengalaman."
"Papi."
"Apa? Mau bilang, Papi aku udah tua udah hatam itu, kaya biasanya? Dengerin aja, Papi tau anak Papi sekolah tinggi dan udah pinter, tapi Papi mau nasihatin kamu kaya Bapa bapa diluar sana. "
Masih terduduk dengan lemah ditempat yang sama saat pertengkaran, Bagas tatap kertas cerai yang Jingga beri. Tadi dia memang sudah pegang pulpen dan mengukir sesuatu diatasnya.
Bukan, bukan setuju dengan menanda tangani justru mencoret-coretnya sampai tidak berbentuk. Di akhir Bagas patahkan pulpennya, dalam sekali tekan.
Obrolan dengan sang Papi sebelum dirinya akad terus berputar dipikiran. Bukan hanya dari Papi, namun juga dari beberapa orangtua seperti Mami, Paman bahkan Bibi. Semuanya berikan nasihat yang sama. Harus belajar redam ego, harus pintar atur emosi, tidak boleh kasar, jadi pemimpin yang baik, bertengkar yang sehat. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya Bagas ketika dihadapkam dengan kemarahan Jingga seolah lupa dengan semuanya.
Mana si pemimpin hebat yang bisa dengan tenang bicara dalam berbagai situasi, mana Arjie yang bertanggung jawab dengan baik, mana Baskara yang wawasannya luas dan pandai pahami situasi, mana Bagas yang pintar sekali mengatur emosinya, mana, mana keluarga Shakeel yang gentlemen. Tadi, semua hal baik yang ada di diri Bagas seakan hilang.
Satu kalimat Jingga ucap seolah mampu hilangkan kewarasannya. Apakah selemah itu pertahanan Bagas ketika berbicara dengan Jingga?
Tapi apakah semuanya murni salah Bagas? Bahkan Bagas yang sekarang belum paham sama sekali apa yang terjadi.
Dia lelah, sungguhan. Matanya sudah mengantuk tapi tidak bisa di buat tenang. Bagas pikir Jingga sudah paham tentang pekerjaannya yang menguras waktu sampai kurang tidur.
Bagas merasa kecewa, tapi bukan itu yang sekarang harus dia lakukan. Redam marahnya sedikit, Bagas memilih ambil kunci motor untuk susul Jingga.
Pakai motor lebih cepat, pikirnya. Tapi Bagas lupa bahwa cuaca sejak sore sudah mendung. Dan ketika hujan turun, Bagas tidak bisa lanjutkan perjalanan. Sangat khawatirkan Jingga memang, tapi keputusannya memilih berteduh sebentar lebih baik daripada terjadi sesuatu dengan dirinya sendiri.
Hanya pakai celana rumahan selutut dipadukan kaos polo yang ditutupi jaket kulit, Bagas terkekeh sendirian melihat sendal jepit yang dia pakai kemudian perhatikan motor hitam dan helm full facenya.
"Baru mau muji diri ngerasa jadi cowok ganteng motoran malem-malem, baru inget karena buru-buru jadi cuman pake sandal jepit. " gumamnya bodoh, terkekeh sendiri.
"Gas lo ganteng emang, tapi jangan jadi duda. "gumamnya lagi.
Membahas banyak hal, mencoba menghibur diri dan lupakan kepalanya yang sesekali berdenyut sakit.
Jam sudah menunjukkan hampir pertengahan malam. Entah berapa lama tepatnya Bagas terjebak, kemudian setelah agak reda dia lajukan kembali motornya. Tujuan Bagas sekarang adalah rumah mertuanya. Tidak ingin berkunjung, hanya ingin pastikan Jingga aman.
Tapi sampai dikawasan komplek, Bagas melihat mobil Jingga terparkir di depan rumah kedua orangtuanya, agak heran tapi jadi tersulut.
"Oh, ngadunya ke Mami?" geramnya.
Dan keputusan Bagas selanjutnya adalah memilih datang ke rumah kedua orang tua Jingga. Sebab bukan hanya Mami Renjani, Bunda Niken pun sudah dekat dan menganggap Bagas adalah anaknya sendiri.
"Kalo mau lo ngadu ke Mami, gue juga bisa ngadu ke Bunda, "lirih Bagas.
Tak lama setelah Bagas memencet bel, pintu utama rumah keluarga Reza terbuka. Dengan Bunda Niken menatap kaget menantunya yang datang tengah malam dengan wajah sendu.
"Bunda," lirih Bagas seperti menahan isak. Niken benar-benar tidak bisa menahan kaget. Bagaimana bisa anak jagoan yang selalu dia puji sudah tumbuh jadi pria hebat datang malam-malam ke rumahnya dengan wajah kusut. Kantung mata menghitam menandakan belakangan ini menantunya itu tidak dapat istirahat dengan baik.
Untung saja halaman rumah keluarga Reza punya penerangan yang bagus, jadi sebelum membuka pintu pun Niken sudah tau kedatangan siapa karena mengintip di balik jendela.
"Ngapain malem-malem kesini? "
"Bunda, Jingga.... " ucap Bagas menggantung. Setelah itu menundukkan kepala tak peduli Niken menunggu lanjutannya.
"Bagas, kamu kenapa? Jingga juga kenapa? Kalian baik-baik aja kan?"
"Kita.... "
"Loh loh Gas, kenapa nangis sayang. Sini ayo masuk, cerita sama Bunda."
Bunda Niken mengenal Bagas dengan baik, lemah atau kuatnya, murung juga bahagianya. Dulu pernah muka babak belur saja anak ini cuman meringis, masalah seperti apa yang dihadapi sampai Bagas terlihat berantakan dan hampir menangis.
Dan malam itu, di temani Ayah Jingga juga, Bagas ceritakan semuanya dengan rinci.
"Bagas tau, Bagas salah udah bilang mau pulang beberapa hari yang lalu tapi nyatanya baru pulang hari ini. Kerjaan yang benar-benar nguras tenaga Bagas, berkas kirim tengah malam harus beres sebelum pagi bener-bener bikin kewarasan Bagas nyaris hilang. Semua itu emang enggak layak dijadiin alasan, tapi Bagas serius mau istirahat. Nanti Bagas akan cerita semuanya sama Jingga. Tapi mungkin Jingga kelelahan, salah Bagas yang terlalu lama buat Jingga nunggu."
"Sayang, Bunda enggak ngerti apa yang dilalui atau dipikirin Jingga sampai seperti itu ke kamu, tapi coba memahami apa yang kamu ceritakan, Bunda cukup kaget. Semua itu kaya bukan Jingga, Barbar bukan sikap Jingga nak, kamu juga mikir hal yang sama kan kaya Bunda? . "
Bagas mengangguk lemah.
"Kalian mungkin cuman salah paham, di satu sisi Bagas sudah berjuang keras, tapi kita enggak bisa nyimpulin apapun sebelum tau cerita dari Jingga. Yang sabar ya sayang, tetap jadi Bagas yang kuat tapi jangan lupa istirahat. "
"Makasih Bunda. "
"Udah makan belum? Bunda bikinin teh anget dulu ya, setelah itu kamu bisa istirahat. Tidur dikamar Jingga ya. Tadi kamu neduh lama kan pas hujan? Bajunya basah enggak? Nanti Bunda bawain baju buat ganti pinjem punya ayah."
"Bunda jadi Bundanya Bagas aja ya, selama ini Bagas kalau cerita nya ke Mami suka dikatain, mana pernah diusap sayang sama diperhatiin begini. "
"Jangan ngadi-ngadi, cepet ke kamar ini bawa." ucap Ayah yang baru datang sambil membawa segelas teh hangat. "Enggak perlu ganti baju lah, minum, lepas jaket nya terus istirahat, jangan banyak drama udah tengah malam Ayah ngantuk. "
"Kapan ayah pergi ke dapurnya?" tanya Bagas heran.
"Tadi, pas Bunda nanya Bagas udah makan atau belum. Karena kalau nungguin kalian sampe selesai ngobrol, hari udah jadi pagi,"jawab Ayah.
"Ini masalah serius loh ayah. " ujar Bagas.
"Salah paham doang, Ayah lagi males mikir besok aja lanjutinnya. Kalau salahnya di Bagas ayah tonjok, Jingga itu kesayangan Ayah."
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
TerrorDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
