chapter 40: perkara sarapan

171 37 3
                                        

"Mau ngapain? " Tanya Bagas ketika lihat Jingga sedang pasang apron dibadannya. Hari masih sangat pagi, langit masih cukup gelap untuk memulai kegiatan di hari libur. Jika tidak haus, Bagas malas sekali untuk datang ke dapur.

"Masak sarapan," jawab Jingga singkat, cuci tangan untuk kesekian kali dia kemudian ambil paksa botol air dingin yang ada di tangan Bagas. "Jangan aneh-aneh deh," omelnya sambil simpan kembali botolnya di kulkas kemudian pilah bahan masakan untuk dia bawa ke meja dekat kompor.

"Gerah ini, " ucap Bagas yang sudah bergerak hendak ambil kembali botol minumnya dan Jingga lebih dulu tarik kerah kemeja Bagas dari belakang.

Dapat pelototan dari sang istri tidak membuat Bagas gentar, itu juga Jingga pahami makanya daripada berdebat Jingga pilih ambil gelas kemudian isi dengan air putih hangat.

"Diminum, sambil duduk. " perintahnya. Dan Bagas tidak terima. Dia baru akan bicara, tapi istrinya sudah lebih dulu menyela. "Enggak ada air dingin atau kopi, "

"Enggak bisa gitu." protes Bagas.

Jingga mendekat, tarik Bagas agar duduk disalah satu kursi meja makan.

"Kalau kopi boleh enggak, masa air dingin aja gak bisa," protes Bagas masih pada pendiriannya. "Kan cuma se...." Belum selesai bicara sudah dibuat bungkam dengan kecupan sekilas yang mendarat di pipinya.

"Jangan banyak komentar, simpen tenaganya buat bersihin rumah. Aku mau masak dulu. "

Ini Bagas mimpi ya? Tapi kaya nyata. Mana pernah Jingga mau duluan bersikap manis padanya.

"Hey, diminum." ucap Jingga hentikan lamunan sang suami. Dengan cepat Bagas teguk habis airnya kemudian bangkit.

"Bisa minta tolong beresin tempat tidur? Selimutnya dilipat rapi. "

Bagas mengangguk dengan kesadaran yang tidak utuh, berjalan pelan dia pergi dari dapur menuju lantai tiga.

"Jangan kecapean," peringat Bagas ketika sampai di ambang pintu. Dengan mengangguk, Jingga rasa cukup jadi jawaban kemudian lanjutkan kegiatannya untuk mulai mengiris bawang.

Setelah kepergian Bagas, Jingga di tempatnya tak bisa menahan tawa, "dasar lemah, " ejeknya.

"Enggak pesan jadi aja? " tanya Bagas yang datang lagi padahal belum sampai di ujung tangga, dia belum lima menit keluar dari dapur. Buat Jingga kaget dan khawatir ucapan terakhirnya di dengar.

"Yakin mau masak? Apa enggak kecapean? "

Jingga sudah nyalakan kompor untuk tumis bumbu terlebih dahulu, ambil spatula dia acuhkan pertanyaan Bagas.

"Kok tetep lanjut masak? " tanyanya.

"Bagas, tadi kan gue udah minta tolong apa? Enggak bisa ya? "

Dengar Jingga kembali bicara normal buat Bagas sadar. "Lo dibilangin ngeyel." ucapnya dengan sebal.

Jingga tidak peduli, dia memilih fokus pada masakannya. Setelah dua puluh menit berlalu Bagas kembali.

"Masak apa aja sih? Udah atuh Jingga kasian anak gue."

Bagas mulai meracau, beberapa menit sekali datang hanya untuk beri sebaris komentar kemudian pergi lagi. Jingga dengan telinga yang sudah kebal meneruskan pekerjaannya dengan tenang.

"Besok-besok gue jual nih dapur," ucap Bagas datang lagi sambil taruh tangan dipinggang. Pasang wajah so marah, yang Jingga sendiri tau bahwa itu bukan benar-benar cara marahnya Bagas.

"Jingga sayang udah yu, Lo harus kerja, ini mending dua jam sebelum berangkatnya di pake istirahat. " ucapnya sambil berdiri di samping sang istri.

"Gue cuman masak, bukan bikin perumahan. " jawab Jingga singkat sambil tata meja makan, belum genap jam tujuh semua sudah siap.

"Ya kan gue cuman takut lo kecapean." ucap Bagas yang sudah berdiri menghadap Jingga.

"Cuman siapin sarapan Bagas. "

"Siapain sarapan buat sekomplek sampe dua jam belum selesai."

"Jangan berlebihan deh, cuman delapan puluh tujuh menit. "

Bagas tak paham dengan ketepatan hitungan sang istri. Dia jadi hilang kata, buat Jingga perhatikan Bagas cukup lama, tak bisa tahan kekehan yang buat Bagas kembali bertanya.

"Kenapa? "

"Suami gue lucu banget pagi-pagi." puji Jingga yang buat Bagas merasa merinding. Apalagi setelah itu Jingga bawa tangannya untuk menangkup pipi Bagas. Ingat, Jingga yang bersikap manis duluan, memuji, mau sentuh Bagas dan pakai panggilan Aku adalah jiwa yang tidak normal menurut Bagas.

"Nga kalau mau cium lagi jangan di dapur, takut ada yang liat." bisik Bagas yang buat Jingga eratkan pegangannya di pipi Bagas sampai tertekan. Jingga beri senyum manis tapi buat Bagas merasa semakin aneh.

"Bagas sayang, enggak perlu khawatir gue kecapean. Jujur tingkah lo yang lebih bikin gue capek sih."ucap Jingga lembut, tapi maknanya bisa Bagas pahami.

'Gue yang cape sama tingkah Lo pagi ini' Ujar batin Bagas tak terima. Tapi Raganya masih tetap diam, tatapi Jingga yang terlihat selalu lebih cantik dari hari ke hari.

"Dari pada so perhatian sama gue, mending lo mulai perbaiki atau cari kandang kelinci baru buat ganti yang udah lo patahin semalem. "

"Loh kok Lo udah tau? " tanya Bagas polos, dengar ucapan Jingga semalam buat kesadarannya kembali penuh.

"Mending sekarang lo mandi dan lakuin apa yang barusan gue perintah, sebelum gue patahin jari-jari lo. " ucap Jingga yang buat Bagas bergegas pergi.

'Udah normal lagi' batin Bagas.

Jingga hembuskan napas berat, sebelum ambil keputusan, dia sudah tau konsekuensinya habiskan waktu seumur hidup dengan seorang Baskara. Karena itu sekarang dia hanya bisa akui perasaan marahnya.

Bagun dengan bahagia, tersenyum cerah di tempat tidur ternyata tidak menjamin harinya dimulai dengan baik. Sebelum masuk ke dapur untuk memasak, Jingga putuskan untuk periksa halaman belakang. Kebetulan bertemu Cara diujung tangga yang baru bangun. Keponakannya itu yang ceritakan "semalam Om Agas keliatan marah terus tendang kaki kandang kelincinya sampai patah. "

"Marah kenapa? " tanya Jingga.

"Sebelum itu kita ke dalam rumah lihat Kak Jingga duduk di ruang tamu sama Papi? Cemburu mungkin? "

Jingga bingung mau bereaksi seperti apa, hingga memasak jadi pilihan untuk hibur hatinya. Dan melarang Bagas ini itu jadi hukuman yang kedua. Jangan cuman Jingga yang dibuat pusing oleh kelakuan Bagas, kalau bisa sebaliknya atau saling kenapa enggak?

Tbc

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang