Kenapa ya ketika sedih, hujan lebat kadang tiba-tiba datang. Dukung suasana agar terasa lebih menyedihkan.
Sesak dan isak yang sejak dari rumah dan perjalanan Jingga tahan akhirnya luruh juga. Di pinggir jalan yang sepi Jingga hentikan mobilnya kemudian pukul setir untuk lampiaskan kekesalan.
Inginnya turun dari mobil kemudian nikmati hujan, tapi Jingga tidak mau membahayakan anaknya. Sekalut apapun hati, yang ada di pikiran Jingga adalah tentang mereka.
"Maaf hari ini kalian harus ngerasain sedih, tapi Mami janji untuk baik-baik aja. "Lirih Jingga.
"Kenapa semuanya jadi gini?" lirihnya pilu, terisak sejak tadi berusaha kurangi semua sakitnya.
Jingga belum paham tentang apa yang dia lakukan pada Bagas tadi benar apa salah tapi hatinya sungguhan sakit.
Cukup lama Jingga menangis mungkin takan berhenti dengan waktu singkat. Sampai tak lama kemudian seseorang mengetuk kaca mobilnya.
Jingga panik, jalanan yang sepi buat dia segera nyalakan mobil.
"Jingga, sayang, ini kamu? "
Suara itu, tidak terdengar jelas tapi Jingga mengenalinya.
Jingga turun dari mobil, peluk wanita paruh baya yang tadi ketuk kaca mobilnya.
"Mami, " panggil Jingga lirih.
"Sayang, ngapain malem-malem berhenti disini? "tanya Renjani panik.
Renjani belum lihat wajah berantakan Jingga, dia baru dengar suara seraknya saja sebab tadi setelah keluar dari mobil, Jingga yang memakai tudung hoodie langsung memeluknya.
Cukup lama mereka diam dengan posisi seperti itu, terlepas dari status Mertua, Mami Renjani adalah orangtua kedua yang Jingga punya. Melihat Jingga dari lahir dan perhatikan tumbuh kembangnya Renjani sangat menyayangi anak ini.
Jadi ketika Jingga urai peluk dengan tudung hoodie yang tidak lagi menutupi sebagian wajahnya, Renjani melotot dan mulai tersulut emosinya melihat berantakannya Jingga sekarang.
"Jingga sayang, kok berantakan banget, kamu kenapa? " tanyanya khawatir.
Jingga belum jawab karena tangisnya malah kembali berlanjut. Renjani peluk anak itu, coba membuat Jingga lebih tenang dengan usap bahunya lembut. Dirasa tangisnya tak kunjung reda tapi udara luar yang dingin, Renjani bawa Jingga ke mobilnya yang di parkirkan tepat dibelakang mobil Jingga.
"Papi enggak ada ahlak, bukannya ikut turun temenin istri mastiin ini menantunya atau bukan, khawatir kek sedikit. Malah diem ngedekem duduk anteng di mobil. " Mami Renjani mengomel dengan kecepatan penuh.
"Turun," Perintah Renjani, Rama yang duduk di kursi penumpang depan turun tanpa protes.
Setelah Rama turun, tanpa peduli suaminya kedinginan, Renjani kemudian beri isyatat agar Jingga gantian duduk disana.
"Dingin Mi, ini Papi cuman pake kaos pendek. Udah malem ditambah baru reda abis hujan lebat. "
"Terserah, benerkan itu mobil Jingga. Mami hapal plat nomornya. Ini anak aku berantakan gini, pasti gara-gara anak kamu. "
"Anak aku siapa? "tanya Papi Rama heran.
"Si Brengsek Bagas. "
"Jangan langsung nyimpulin gitu dong enggak baik nuduh-nuduh tanpa bukti."
"Ya kalau disakitinnya sama orang lain sekarang Jingga lagi ditenangin sama Bagas, tapi sekarang dia malah sendiri. Besar kemungkinan malah Bagas penyebabnya. "
Jingga diam, memilih menunggu pasangan ini berdebat argument mereka. Dipinggir jalan. Jujur Jingga sudah biasa jadi penontonnya.
"Ya udah terus sekarang gimana?" tanya Rama.
"Ya kita pulang, tuh kamu nyetir sendiri bawa mobil anak kesayangan aku," jawab Renjani.
"Kok jadi nyetir," keluh Rama.
"Cepet ih kasian anak Aku, udah malem dia harus istirahat. "
"Kamu enggak kasian sama Aku? " keluh Rama lagi.
"Jangan banyak drama ya Aki-aki. Buruan. "
Rama menurut dengan segera masuk kemudian duduk di kursi kemudi mobil Jingga. Belum nyalakan mobil, memilih biarkan Rencana dulu yang jalan.
"Hati-hati bawa mobilnya. " Rama tersenyum dengar pesan dari Renjani, setidaknya istrinya masih punya rasa peduli"awas jangan sampe lecet mobil anak aku. "
Detik kemudian senyumnya pudar, digantikan wajah masam.
"Yang di khawatirin mobilnya," gumam lelaki paruh baya itu, mulai jalankan mobil agar jaraknya tidak jauh degan mobil sang istri.
*
*
*
"Bagas bilang pulang dua hari yang lalu tapi batal, janji pulang kedua kalinya batal lagi. Hari ini dia pulang. Jingga mau tau cerita Bagas tapi di suruh nunggu, sedangkan sama cewek lain ditelpon Bagas cerita sambil ketawa-ketawa. "
Pada akhirnya, tanpa dipaksapun malam sudah larut tapi sambil Renjani peluk Jingga menceritakan semuanya degan rinci.
"Beberapa hari ini setiap Jingga telpon yang ngangkatnya cewek, Jingga tau Bagas lebih milih makan malam diluar sama perempuan lain daripada pulang dan makan banyak makanan yang dengan susah payah Jingga siapin."
"Jingga marah mami, gimana bisa Bagas percaya ponselnya orang lain pegang padahal Jingga sendiri enggak pernah diijinin genggam. "
"Sejak kapan Mami, Jingga enggak mau bagi Bagas sama cewek lain. "
"Bagas punya Jingga kan Mami? "
"Jingga tau Jingga salah udah ajak Bagas berantem. Jingga bohong pasang wajah angkuh didepan Bagas, sebenarnya Jingga takut Mami. Jingga yang minta pisah tapi Jingga enggak mau. Bagas bakal tetep sama Jingga kan Mami? Bagas bakal jadi Papi anak anak jingga, Bagas bakal tetep ada sama Jingga kan Mami?"
Semua keluh kesah itu Jingga keluarkan malam ini, Renjani tidak bisa mengintrupsinya, dia memilih dengarkan agar Jingga setelah ini bisa istirahat dengan tenang.
"Jingga yang sabar ya, dengan siapapun Jingga menikah pertengkaran pasti ada, belajar ngambil keputusan yang baik ya sayang. Jangan larut dipikirin, sini makan yang banyak Mami masak makanan kesukaan kamu, mau yang lain? Mau apa sini sebutin."
"Mami kenapa Jingga harus jadi menantu Mami, Jingga maunya jadi anak Mami aja. "
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
HorreurDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
