Tinggi, tubuhnya berotot tapi wajahnya seperti bayi, matanya selalu hilang ketika tersenyum lebar. Dia manis, tapi ketika marah, mata pandanya yang lucu selalu terlihat menyeramkan.
Dia setengah bad boy, hobinya berantem. Enggak pernah mau mengalah dan keras kepala. Ucapannya pedas, selalu menang perdebatan, Konplik tidak bisa diselesaikan dengan mulut tidak pernah jadi masalah, baginya lebih enak kalau semua selesai dengan adu otot.
Tontonannya nyeleneh, kadang dengar ceramah di youtube dengan volume full, kadang nonton doraemon. Tapi lebih sering nonton pertarungan tinju, apalagi tawuran secara live. Jiwa anarkisnya menggebu-gebu.
Meskipun begitu dia tidak pernah jadi yang pertama memulai. Suka berantem berbeda dengan suka cari masalah katanya. Bukan penurut tetapi dia cukup penyayang.
"Tangan kosong kalau berani! " sindirnya, tak peduli lawannya sedikit atau banyak, dia seolah terlahir tanpa rasa takut.
"Lo kalau enggak mau bantu gue, gue acak-acak ya hidup lo." ancaman pada setiap orang yang tidak sejalan. Kedua adik yang paling sering jadi korban.
"Itu bibir pake gincu atau abis makan orok? " komentar pedas tanpa dipinta, "mbak pake rok cuman sejengkal, bagus jadi artis kpop, ngapain jadi piaraan om-om," dia buat rusuh di mana-mana.
Lengkapnya Arjie Baskara Shakeel, si tengil, usil dan julid. Anak pertama, punya sodara kembar dan satu adik. Nama panggilannya Bagas, atas dasar kemaunya sendiri sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Bagas, padahal dari kecil dia biasa di panggil Arjie. Seirama dengan sodara kembarnya, Arjuna. Bahkan dengan Adimas, adik bungsunya. Kedua orangtua buat nama ketiga anaknya cukup seirama tapi seorang Arjie Baskara punya keputusannya sendiri. Si sulung lebih senang dipanggil dengan nama ciftaannya sendiri.
Keluarga Bagas tidak bisa di bilang sederhana, Ibunya adalah anak konglomerat, sebelum menikah dia bahkan sudah jadi pimpinan salah satu perusahaan.
Terlahir dengan harta berlimpah tapi tumbuh dengan pola asuh semua mau bisa dipenuhi tapi kedua orangtua yang sibuk buat Terena belajar dari masa lalu. Pengalaman-pengalaman sederhana yang dia kumpulkan jadi sebuah bekal.
Bertahun pegang tanggung jawab pada ribuan karyawan, Terena pikir mengurus tiga anak adalah hal cukup mudah. Tapi kenyataannya, "Arjie anak siapa lagi yang kamu bikin nangis? " adalah teriakan Terena yang lelah dengan sikap jail anak sulungnya.
Niat mulia ingin merawat anak sendiri dengan penuh cinta kadang masih jadi perdebatan hati, dia masih bisa menegur dengan lemah lembut dua anak yang lain, tapi pada Arjie Baskara tidak pernah mudah.
Pada ribuan karyawan, Terena bisa tegur mereka yang tidak bisa bekerja dengan baik, peringati mereka atau paling parah pemutusan hubungan kerja. Tapi pada satu anaknya yang bebal dan seolah tidak punya rasa takut, Terena sering kebingungan.
Harapan Terena untuk tidak punya jarak dengan darah dagingnya tercapai, tapi tensi darahnya sering naik.
Setelah anak-anaknya remaja, Dia memilih kembali sibuk turun tangan dalam mengembangkan usaha keluarganya. Lebih baik jadi sibuk lagi dari pada di rumah hanya akan berakhir terkena struk ringan.
"Arjie kalo kamu masih nyebelin gini Papi masukin ke pesantren ya." ancam Papi yang sama lelahnya. Bandelnya Arjie sejak kecil kadang buat dia berniat memasukkannya ke pesantren sejak sekolah dasar.
Papi Rama juga seorang pengusaha, tegap dan tegasnya Bagas adalah turunan dirinya. Pemimpin yang mengayomi dan disegani. Selalu berhasil menangkan proyek besar. Tapi dia selalu kalah, tidak pernah berhasil berdamai dengan Bagas yang hampir tujuh puluh lima persen menuruni sikap ibunya.
"Bang Gue enggak mau," adalah penolakan tanpa tenaga si sodara kembar. Hobi olahraga , aktif 24/7 adalah ciri khas Arjie Baskara, berbanding terbalik dengan sodara kembarnya yang lebih sering diam di kamarnya menghabiskan waktu dengan tidur. Jika Bagas selalu menggunakan seratur persen energinya, Arjuna si sodara kembar selalu melalui hari seperti dengan sisa tenaga.
"Abang, Adimas lagi belajar," tidak berani menolak titah kakaknya karena seorang Bagas tidak bisa dibantah, kecuali punya alasan tentang belajar. Tapi dibanding dengan Arjuna, Adimas lebih punya beberapa kesamaan dengan Bagas, sepersi suka skate board dan karate. Tau cita-citanya adik bungsunya jadi dokter buat Bagas memberi waktu lebih untuk tidak sering menggangu.
Tengilnya Bagas berbeda dengan penurutnya Arjuna ataupun Adimas. Arjie Baskara memang punya besar tenaga yang berbeda dengan kedua sodaranya. Ototnya besar suka banting orang. Berbeda dengan Arjuna yang disenggol sedikit saja suka mengaduh dan Adimas dengan sikap lemah lembutnya.
Julidnya Bagas lebih cocok disandingkan dengan judesnya Jingga. Itu juga alasan mengapa sejak kecil Bagas lebih senang menggangu Jingga. Perempuan itu tidak akan diam dan marahnya lucu. Sekali Bagas ejek, dia balas dua kali lipat.
Bagas juga pernah memaksa Jingga untuk di panggil Bria saja. Makanya sejak masuk PAUD bukan Arjuna, orang-orang beranggapan Jingga lah sodara kembar Bagas.
Dengan Jingga, Bagas juga lebih mudah di atur. Sejak kecil daripada turun tangga satu persatu, dia lebih senang jadikan pegangan tangga sebagai perosotan. Tak ada yang bisa melarang, tapi sekali Jingga tegur dia tidak melakukannya lagi.
"Arjie, "
"Bagas,"
"Abang. "
Adalah teriakan prustasi seisi rumah, kebingungan mereka karena Jingga yang sakit dan Bagas tidak ada teman untuk dijahili.
Pengusaha, turun temurun profesi yang keluarga Wiyoko tekuni. Sebenarnya di generasi seorang Arjie Baskara, semuanya sudah cukup stabil. Tapi Demi ijinkan sodara kembarnya mengejar cita-cita untuk menjadi koki dan adik bungsunya menjadi dokter, Bagas harus bisa mengurus semuanya sendirian. Terlebih sepupunya juga punya usaha sendiri. Dari enam cucu laki-laki, hanya Bagas dan satu sepupu yang mau terlibat dalam usaha keluarga.
Bukan tanpa alasan kedua orangtua berikan si sulung kebebasan waktu remaja, sebab menuju dewasa mau tidak mau anak-anaknya harus ambil tanggung jawab.
Baru berulang tahun ke tujuh belas, Arjie Baskara sudah di beri jadwal datang ke kantor pusat untuk temani sang Nenek. Di ajarkan banyak hal, di beri tanggung jawab besar, semua cucu keluarga Wiyoko punya masa remaja berbeda dengan anak kebanyakan.
Semua itu adalah alasan jarak yang Bagas beri pada Jingga. Dia tidak bisa banyak main-main. Sebenarnya tidak benar-benar jauh, selama ini mereka masih saling bertegur sapa. Meskipun Bagas yang tengil dan usil berubah jadi kaku buat Jingga merasa tidak nyaman berteman dengan cara asing.
Dengar kabar kepulangan Jingga, niat awalnya hanya ingin perbaiki kembali jadi sepasang sahabat. Tapi hati manusia siapa yang tau, jalannya keduanya harus jadi sepasang yang lain.
Tbc
Do'ain mulai besok update tiap hari ya🐣
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
TerrorDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
