chapter 10 : Ribut lagi

152 25 12
                                        

Tak butuh waktu lama untuk menunggu Bagas selesai mandi, yang jadi masalah adalah tentang pakaian. Berangkat untuk berlibur, dia baru sadar kopernya yang berisi keperluan berlibur tertukar dengan koper yang berisi baju untuk bekerja.

Terbiasa sibuk mengurus beberapa perusahaan, bepergian dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain, buat seorang Arjie Baskara membiasakan diri untuk gesit dan menyiapkan keperluan cadangan. Termasuk sebuah koper berisi beberapa kemeja, celana bahan, dasi, jas bahkan sepatu. Tidak ada satupun baju santai disana karena pakaian sehari-hari Arjie adalah pakaian pormal.

Jingga yang sedang membaca buku menghentikan kegiatannya karena penasaran kenapa Bagas anteng. Baru mau bertanya sudah di dahului.

"Kopernya ketuker," lirih Bagas yang buat Jingga melotot. Bagas dengan handuk kimononya menatap Jingga dan kopernya bergantian.

"Kok bisa ketuker ? Kenapa enggak hapal sama barang sendiri ? " tanya Jingga, bangkit dari duduk dia mendekat pada Bagas kemudian ikut memeriska isi koper.

"Ini koper yang sama," komentar Jingga, dia masih ingat koper yang Bagas bawa, bagaimanapun di Bus semalam tidak ada penumpang lain yang bawa koper sama ataupun mirip.

"Emang koper yang sama, ketuker di bagasi mobil bukan di Bus. Ini keperluan kerja, koper isi perlengkapan liburan berarti di bagasi," jelas Bagas dalam satu tarikan napas.

"Lo ngomong atau ngerap? " ejek Jingga sebal.

"Ini gue gimana? "ulang Bagas dengan rengekan.

"Ribet amat, pake yang ada aja. " jawab Jingga santai.

"Masa gue pake jas sedangkan elo kaosan sama rok santai gitu, Lo umur udah deket kepala tiga masih imut imut kaya masih Maba. Kalau gue pake pormal disamping lo enggak cocok, nanti gue disangka bodyguard. " protes Bagas panjang lebar.

Jingga menghembuskan napas lelah, "ribet banget jadi Lo. Pake celana sama kemejanya ajakan bisa, " sarannya.

"Ini kemejanya enggak ada yang panjang, " ucap Bagas sambil mengambil satu dari tiga pasang baju yang ada di dalam koper.

"Maksudnya gimana?" heran Jingga.

"Gue suka gerah, jadi ini desain kemejanya emang tanpa lengan, kalau gue pake Kemeja doang malah aneh," keluh Bagas.

"Terus Lo mau pake baju apa? " tanya Jingga lirih, berusaha menahan diri agar tidak menendang wajah menyebalkan di depannya. Perkara baju, sudah menguras tenaga untuk berdebat padahal hari masih pagi juga perut yang belum terisi.

"Ya gue bingung, masa pakai baju semalem, kan kotor."

"Pake yang ada aja,"ulang Jingga.

"Enggak cocok,"

"Ya salah siapa ceroboh. "

Pada akhirnya Jingga memilih ambil jarak kemudian berinisiatip pesan Sarapan kepada pihak hotel untuk dikirim ke Kamarnya saja. Lebih baik mengisi kekosongan perut terlebih dahulu, baru nanti mengisi kekosongan otak suaminya yang ribet perkara baju.

"Ini gue pake baju apa? "ulang Bagas.

"Enggak usah, enggak usah pake baju." kesal Jingga tak tertahan.

"Ya udah, tapi lo temenin, Lo juga lepas," ucap Bagas dengan senyum menyebalkan diakhiri kedipan mata yang buat Jingga merinding.

"Lo tunggu disini, gue beliin baju dulu deh. "putus Jingga pada akhirnya, dia yang sejak tadi sudah siap dengan pakaian sederhananya beranjak mengambil dompet kemudian bergegas. Bagaimanapun dengan Bagas dia masih belum terbiasa untuk terus berdua dalam waktu lama.

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang