chapter 6 : Hadiah

382 64 26
                                        

Malam ini, hati Jingga di buat semakin luluh. Di duduk di ujung tempat tidur, tidak menyangka Pria menyebalkan yang sering membuatnya jengkel sejak dulu kini merangkai kalimat manis untuk dirinya baca.

Apalagi jika ingat perjuangan Bagas untuk dapatkan restu dari ketiga sepupu yang sempat buat Bagas susah. Tentang surat ijin menikah, ketiganya kompak memerintah Bagas untuk buat surat yang entah seperti apa ketentuannya tapi seharian Bagas bulak balik dari rumahnya ke rumah Jingga hanya untuk disalahkan. Dimulai dari tanda baca, salah memilah kata dan masih banyak lagi. Jingga tak menyangka di hari pernikahan mereka, Bagas buat surat menyentuh untuknya.

Sebenarnya pesta tadi rasanya melelahkan, di tambah pikirannya yang terus berkelana ciptakan takut dan banyak pikiran lain. Tapi sekarang lelahnya seakan hilang, ragunya juga. Hanya tersisa bahagia yang mendominasi hati, mata Jingga sudah berkaca-kaca sejak tadi.

Walaupun sebenarnya saat membuka surat, Jingga harus merasakan agak jengkel diawal, bagaimana tidak Bagas dengan sengaja menuliskan setiap kata indahnya bukan diatas kertas bagus atau baru melainkan kertas kusam bekas nota belanja.

Beberapa kali ditatap, sempat membulak balikkan kertasnya juga, setelah puas Jingga memutuskan untuk melipat kembali kertas yang berisikan tulisan tangan Bagas itu. Seburuk apapun kertasnya, akan dia simpan untuk kenang-kenangan.

Menghembuskan napas berat, Jingga memilih mengeringkan rambutnya yang masih dililit handuk, terlalu penasaran dengan isi surat buat Jingga lupa selesaikan rutinitasnya.

"Semoga beneran enggak salah pilih." ucap Jingga pelan, dia juga menyempatkan diri hapus air matanya. Bersamaan dengan Jingga bangkit, ada surat lain yang jatuh dari ujung tempat tidur. Lama perhatikan, jika tadi hanya berkaca-kaca, setelah ini Jingga mulai terisak.

"Loh Jin, lo kenapa? " tanya Bagas yang baru keluar dari kamar mandi."Kok nangis sih, tadi sebelum ditinggal mandi masih ketawa-ketawa loh. Kenapa duduk di lantai?" lanjut Bagas tanpa jeda, dia ikut bersimpuh di depan Jingga.

"Jin..." Tidak dapat jawab, Bagas perhatikan sekekeliling, berharap bisa temukan alasan, tapi semua tampak baik-baik saja. Tak ada hal bahaya.

"Kalau ngejelasin kenapa terlalu rumit, sekarang jawab ! Siapa yang bikin lo nangis? "

Tak perlu menunggu, selesai Bagas berucap kepala Jingga langsung mendongak. Di detik itu tatapan keduanya bertemu.

"ELO !" jawab Jingga judes, Bagas tak bisa menahan kaget, heran juga sebab tanya lembut penuh khawatirnya dijawab tidak bersahabat di tambah melotot.

"Jing... "

"Ini, maksud lo apa hah? " tanya Jingga dengan wajah galak tapi mata yang berkaca-kaca, tangannya mengepal mengangkat kertas .

"Oh. "jawab Bagas tenang, dia mulai paham situasi.

"Oh doang? " Jingga bangkit dari duduk di lantainya, memilih berpindah duduk di ujung tempat tidur yang empuk.

"Ya terus gue harus gimana?" tanya Bagas menyusul, ingin dia duduk disamping Jingga tapi baru mau sudah dicegah.

"Berdiri disitu! " titah Jingga galak. Dan Laki-laki yang sebenarnya tidak kalah galak malah sangat menyebalkan itu menurut diam di tempat.

Hening sebentar dan Bagas tidak suka akan hal itu.

"Jangan marah Jing," mohonnya

Tidak mendapat jawaban.

"Lagian gue beli rumah itu karena punya alasan. "

"Apa? "

"Waktu kecil kan gue pernah rusakin mainan rumah-rumahan lo, jadi sekarang gue ganti. "

"Udah lah berisik, males gue sama lo."

Jingga bangkit dari duduknya, meraih handphone dan mulai sibuk sendiri.
Bagas kelabakan, sejak tadi berusaha merangkai kalimat penenang di otaknya untuk membela diri. Masa belum sehari jadi pasangan sudah bertengkar.

Jingga berdiri, hendak mencari pengering rambut namun dia lupa tidak membawanya. Berakhir dia ambil sisir, cukup merapikan rambut basahnya.

"Jing, maafin gue ya," mohon Bagas.

Jingga menatap ke arah si pemuda maret yang sudah memelas.

"Lo,,," jeda sebentar,"Gue enggak ngerti lagi Gas. Rumah di daerah itu tuh Mahal, MAHAl BANGET Bagas, bangunannya besar juga. Kita cuman berdua, Lo keluar duit berapa,  prosesnya gimana? Gue nyesel pernah ngomongin impian gue ke Elo. "

"Jin,,, jangan ngomong gitu. Kok nyesel sih. Lo enggak boleh nyesel ajak gue ngomong,"ucap Bagas.

"Kenapa seniat itu sampe dapet nomor rumahnya tanggal lahir gue. Gue lagi nabung buat raih itu, kenapa lo repot-repot."

"Jin,,,"

"Biar gue ganti, kayanya tabungan gue udah ada. Paling enggak buat bayar setengahnya deh. Serius ini tuh kemahalan buat jadi hadiah, gue cicil ya? "

Bagas menggeleng, tanpa Jingga sadari Bagas sudah berjongkok di depannya sejak tadi.

"Apasih lebay pake ganti, ini hadiah Jingga, lo ngarti kata hadiah enggak? Kalau hadiah terserah maunya yang ngasih dong. Ribet amat kan nanti di pake tempat tinggal gue juga. "

"Lo enggak diskusi dulu sama gue. "

"Ya namanya juga niatnya buat hadiah kejutan. Lo terkejut berarti gue berhasil. "

"Bukan terkejut, cuman enggak habis pikir aja. Tiga hari, baru tiga hari yang lalu gue bilang mau rumah ini kok elo udah bisa urus ini semua? "

"Ya namanya juga punya duit."jawab Bagas tengil.

"Punya duit juga harus punya otak,"

Selesai bicara begitu Jingga di buat heran karena Bagas diam. Agak aneh, mana mungkin dia kehabisan kata untuk mempertahankan argumennya.

"Maaf ya. "

Double kill, untuk kedua kalinya Jingga dibuat terpana. Kata maaf bukan yang biasa Bagas ucap.

Jingga menggeleng, membaca ulang kertas yang berhasil buat nya menangis, adalah sebuah surat kepemilikan rumah atas nama dirinya yang dibeli Bagas.

"Lo kalau inget dosa dosa masa kecil sama gue dan niat ganti mainan yang udah lo rusak kan banyak, Kepala Barbie yang buntung, stik drum yang patah, panci pancian yang pecah, ikan cupang yang mati, yang paling gue inget tuh sepatu kaca yang lo anyutin ke sungai sebelah. Kenapa enggak ganti salah satu dari itu aja. "

"Lo kalau pake sepatu kaca kaya princess, enggak bisa gue ajak lari. "

Masih teringat jelas, di suatu siang Jingga kecil yang baru selesai merayakan pesta ulangtahunnya yang ke lima menangis karena sepatu kaca nya hilang sebelah, ulah Bagas yang sengaja.

"Bagas, Jingga udah cantik pake gaun Cinderella. "

"Jingga pake kolor juga udah cantik." jawab Bagas kecil.

Keduanya terdiam, sama-sama mengenang masa lalu. Sampai genggaman tangan Bagas menghentikan lamunan Jingga.

"Udah nostalgianya, kita udah kenal sejauh ini. Dari lo lahir, kita udah sering bareng-bareng. Sekarang kita nikmatin sisanya bareng-bareng juga ya. Tapi bedanya lo enggak gue ajak main lagi, tapi gue ajak bikin anak. "

Bagas selesai bicara, Jingga tidak bisa sembunyikan muka memerahnya.

"Bagas brengsek lo gila. "

"Kan lo yang bilang rumahnya kegedean kalau dipake berdua. "

"Berisik, lo enggak usah ngomong. "

Tbc

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang