Hidup itu lucu kalau kata Bagas, dengan datangnya Arjuna hari ini dia banyak diingatkan tentang masa lalu, salah satunya tentang cinta pertama masing-masing yang tidak berhasil.
Rencananya malam ini Bagas ingin kumpul berempat, sekedar mengobrol atau sambil menonton film kesukaan mereka. Mengulang kegiatan rutin dulu, sebab meskipun gagalnya cinta pertama, dekatnya mereka sebagai sahabat tidak ada yang berubah.
Jadi selesai melihat kelinci, Bagas bersama Caramel dan Candlin berniat kembali ke ruang keluarga. Kedua anak Arjuna itu sudah waktunya tidur. Tapi sebelum benar-benar sampai, langkah Bagas terhenti.
"Ya kan maksud gue baik, mau nolong, " ujar Arjuna dengan tawa.
"Ya selain niat baik lo juga harus mikir cara penyampaian yang baik juga. " protes Jingga.
Mendengar obrolan Arjuna dan Jingga yang penuh tawa buat Bagas ubah tujuan, entah kemana perginya Adimas, sampai Jingga dan Arjuna bisa hanya berdua. Tapi Bagas pilih beri waktu untuk mereka. Dia pilih ajak keponakannya pergi ke tempat lain. Tidak mau ganggu, biarkan keduanya punya kesempatan bicara.
"Kita mau kemana? " tanya Candlin yang kebingungan dibawa melangkah berlawanan arah.
"Ke ruang kerja Om."
"Mending lihat kelinci lagi." ucap Caramel.
"Iya." jawab singkat Bagas buat kedua keponakannya kegirangan.
Cara dan Cali sibuk mengulurkan tangan agar bisa menyentuh bulu lembut kelinci, sedangkan Bagas mulai larut pikirkan banyak hal.
Baik Arjuna ataupun Bagas punya rasa sayang besar untuk Jingga. Mereka bukan sekedar teman, terlalu banyak waktu yang dihabiskan bersama.
Kilasan masa lalu hari ini banyak mampir di pikiran Bagas, tentang bagaimana Arjuna yang di anggap sempurna namun akhirnya tidak berhasil pertahankan apa yang dia sayang. Tentang kerasnya Bagas yang rasakan kehilangan bahkan sebelum memulai. Terakhir, tentang Jingga. Tentang perasaan yang sebelumnya dia punya. Tahun sudah berganti terlalu banyak, ajakan menempuh hidup baru yang Bagas tawarkan juga terkesan buru-buru. Apakah semua yang Bagas lakukan selama ini tidak merugikan siapapun?
Kisah muda mereka belum diceritakan banyak, tapi yang sudah jadi masalalu seharusnya biar tetap ditempatnya. Ingatkan itu agar Bagas berhenti overthinking.
Sepertinya Bagas terlalu fokus lihat tawa Jingga, tapi dia lupa tentang alasan dibalik tawa istrinya.
"Iya, gue juga enggak nyangka. Parodi drakor katanya, niat banget sampe beli bunga sama syal merah. " Ceritakan kelucuan seorang Bagas, Jingga jabarkan dengan detail liburan mereka.
"Bagas sering beliin gue bunga juga hadiah-hadiah kecil, sesederhana gantungan kunci. Setiap pulang dia pasti bawa minimal satu barang lucu."
Sejak tadi Jingga dan Arjuna memang banyak mengobrol, tapi bahasannya tidak lain adalah Bagas sendiri.
"Males lah, malah di sangka yang enggak-enggak Gue. " Giliran Arjuna yang ceritakan hal lucu yang dia alami, diantara jeda dia sempat teguk kopinya.
"Muka lo tuh kriminal. " ledek Jingga, masih dengan tawa.
"Inget Nga, Gue sama suami Lo satu muka. "
"Beda, kalian kembar enggak identik." ucap Jingga. "lo enggak ganteng. "
Obrolan keduanya terhenti disana, berbeda ketika bersama Bagas yang akan buat tidak kehabisan bahasan, hanya mereka berdua memang tidak banyak yang bisa bicarakan. Tawapun tidak akan bertahan lama.
Jingga sudah membuka buku untuk dibaca, Arjuna pilih buka kembali laptopnya. Keduanya pilih habiskan waktu dengan beda. Meskipun jarak yang dekat, rasanya mereka tidak bisa sedekat dulu.
"Om, kenapa ngelamun? " tanya Candlin, anak kecil itu tarik tangan pamannya sampai sadar.
"Om bosen," ucap Cara ikut berkomentar. "Mau Kak Jingga," rengeknya.
Bagas tidak punya pilihan, tidak baik juga jika anak-anak terlalu lama kena angin malam. Dengan itu dia pilih turuti mau keponakannya.
"Kak Nga," panggil Cara, dari pangkuan Bagas dia bergerak tak sabaran. "Turunin." Pintanya.
"Pelan-pelan sayang," tegur Jingga.
"kelincinya boleh dibawa pulang?"
"Caramel mau? "
Suasana ruang keluarga berubah begitu saja, ditambah kedatangan istri Arjuna ramainya semakin menjadi, semua jadi menyenangkan.
"Anak-anak ayo tidur, besok mau lari pagi kan?"
"Lari pagi? " Ulang Bagas.
"Hooh, anak-anak gue tiap weekend suka lari pagi, pulangnya nyari sarapan di luar. "
"Ngapain? "
"Biar sehat. "
Malam yang larut buat mereka pilih sama-sama istirahat. Untuk hari ini, Jingga dan Bagas tidur di tempat yang tidak senyaman biasanya, tapi Bagas bahagia karena Jingga tetap ada di sampingnya, bonus kalau Jingga tidur duluan Bagas bisa lihat wajah damai istrinya sebelum menyusul ke alam mimpi.
Tidur bersebelahan, Bagas pilih tujukan pandangannya pada atap, padahal dia sadar sejak tadi Jingga yang tidur menyamping memperhatikannya.
"Hari ini kita enggak terlalu banyak ngobrol. " ucap Jingga memulai pembicaraan.
Bagas terkekeh, "Gue terlalu sibuk sama dua kunyuk ya? " ucapnya tanpa merubah arah tatap.
"Gapapa, enggak setiap hari." Ucap Jingga yang hanya dijawab deheman oleh Bagas.
Hening, Bagas pilih pejamkan mata. Sedangkan Jingga tersenyum. Langsung terlelap tanpa membuat keributan bukan yang biasa Bagas lakukan, Jingga bisa menebak apa yang buat Bagas sedikit berbeda hari ini.
"Gas," panggil Jingga yang lagi-lagi hanya dijawab deheman.
"Gue kangen." tambah Jingga yang setelahnya bergeser sedikit, ambil tangan Bagas, dia rentangkan kemudian dijadikan Bantal.
Bagas yang melotot kaget tidak di hiraukan, Jingga pilih peluk suaminya.
"I love you," gumam Jingga buat Bagas semakin terpaku. Tak mengerti dengan kalimat tiba-tiba yang tanpa disangka keluar dari mulut seorang Jingga.
"Jing, lo kesurupan?"
Jingga ingin sekali memukul kepala Bagas, tapi tangannya malah berkhianat dengan mengusapnya lembut.
"Jangan terlalu larut mikirin satu hal, kalau ngerasa enggak sanggup bagi ke gue. " Tutur Jingga dengan lembut.
"Jing."
Bagas si perusak suasana, masih tak paham kalau Jingga tidak suka dengan nama panggilan itu.
"Enggak mau nyoba diomongin? Siapa tau abis ini hati lo lega. " tambah Jingga memilih lanjutkan bahasan.
"Serius loh Gas, gue sayang banget."
Ada tarikan napas panjang dan hembusannya yang terkesan berat.
"Dapetin lo itu susah, gue hampir nyerah tapi sekarang gue bahagia lo ada disini."
"Gue juga bahagia," ucap Jingga sengaja di gantung. "Ada Arjuna hari ini."
Jingga becanda, dia eratkan pelukan sambil terkekeh.
Sama saja, kalau jodoh cerminan diri, sebelum bilang Bagas perusak suasana Jingga sepertinya harus berkaca.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
HorrorDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
