Dress rumahan yang tadi pagi dipakai sudah berganti jadi kemeja biru oversize yang dipadukan celana pendek diatas lutut. Jingga baru selesai keringkan rambut, dia sisir rambutnya sampai rapi lalu ikat menggunakan sponge hair bun, menyisakan poni sedagunya yang terurai, model mengikat rambut seperti ini adalah yang baru pertama kali dia coba.
Jingga sebelum punya anak lebih senang mengurai rambutnya, sesekali ikat dua atau ikat setengah, karena sejak kecil baik pada anak sulung atau bungsunya Bunda jarang sekali menata rambut macam-macam. Tapi adanya Jiva dan Raga buat Jingga memilih merubah banyak hal, dia tak mau sampai rambutnya yang panjang mengenai kedua anaknya lalu membuat mereka tak nyaman.
Selesai dengan rambut, Jingga memakai pelembab wajah lalu pelembab bibir. Setelah itu selesai, Jingga menata dirinya dengan sederhana.
Kegiatan apapun yang dilakukan sendirian Jingga ingin segera selesaikan, karena setiap detik bersama dua anaknya adalah waktu yang sangat berharga.
Jingga keluar dari kamarnya, baru beberapa langkah suara bell terdengar buat dia berbalik arah mengganti tujuan.
"Siapa Mbak?"tanya Jingga pada Mbak Sekar.
"Saya baru mau cek Non," jawab mbak Sekar sopan.
"Biar saya aja, mbak tolong cek anak-anak udah bangun atau belum ya?" ujar Jingga. Dia melangkah lebih cepat karena dengar bel pertama belum berhenti tamu diluar malah menekannya beberapa kali.
Jingga membuka pintu utama, dia termundur kaget melihat perempuan dengan mini dress berwarna merah terang tanpa lengan yang roknya tidak sampai menutupi setengah paha berdiri tepat di depan pintu, bukan hanya itu sepatu tinggi warna hijau neon yang depannya saja Jingga kira lima sentimeter, juga dandanan eye shadow hijau dipadukan dengan maskara tebal dan bibir berwarna merah keunguan buat Jingga mengucap istigfar dalam hati.
Juwita yang suka warna hijaupun Jingga yakini tidak akan pernah mau pakai sepatu itu.
"Mau cari siapa ya?" tanya Jingga setelah berhasil atur napasnya. Dia tetap bicara sopan meskipun tamunya tidak lakukan hal yang sama.
"Bener ini rumah Arjie Baskara?"
Jingga mulai menebak-nebak, punya hubungan apa suaminya dengan perempuan yang terlihat seperti mau berangkat ke pesta halloween itu. Jingga mungkin tidak tau banyak tentang seaneh apa pergaulan Bagas, suaminya itu bisa mengobrol dengan siapapun tapi untuk berteman sampai harus datang ke rumah, semudah apapun Bagas bergaul dia masih punya batasan yang tidak bisa oranglain lewati. Teman bahkan sahabat SMA-nya pun kebanyakan tidak pernah dia bawa main ke rumah.
"Sebelumnya namanya Siapa, sama ada perlu apa ya Mbak nya?" tanya balik Jingga, memilih tak mengiyakan pertanyaan perempuan tadi.
"Mbak? " sahut perempuan itu dengan nada suara tinggi seperti kaget, "Sejak kapan saya kerja di rumah Kamu? Enggak sopan. Saya mau ketemu Arjie. Kamu enggak denger?" omel perempuan itu.
Jingga sudah terbiasa bertemu dengan orang-orang menyebalkan, dia tatap perempuan itu sebentar sambil berusaha mengatur napas.
"Kalau Mbak sebutin nama dan ada keperluan apa, saya bisa langsung sampaikan, " tutur Jingga.
"Natalies, panggil Miss Alies," jawab perempuan itu tak santai, "cewek yang mau dinikahin Arjie tahun depan," lanjutnya sambil memasang wajah congkak.
Seolah ada epek petir yang menegaskan bahwa alampun tidak setuju dengan apa yang diucapkan seorang manusia barusan. Jingga yang biasa tanggap mendadak terdiam, apa Jingga ketiduran di kursi meja makan, mungkin karena posisi tidurnya tak nyaman dia jadi mimpi buruk yang sangat hancur. Jingga bergidik ngeri, tatap perempuan bernama Natalies di depannya yang menunggu tanggapan Jingga. Tapi mulut Jingga rasanya kelu, sayangnya dia tidak biasa mengumpat.
"Kamu siapanya?" tanya Natalies yang tidak juga mendapat respon Jingga,"Hey," tegurnya lagi buat Jingga terperanjat.
Jingga mencubit pelan tangannya tapi setelahnya merasa sakit.
"Saya adiknya," balas Jingga segera, dia berusaha untuk tidak menunjukkan permusuhan.
"Oh adeknya, Jadi sekarang si Arjie dimana?" tanya Natalies sambil menatap Jingga galak.
Ini pikiran Jingga yang salah karena mengira setiap orang pasti akan bersikap sopan kepada calon adik iparnya atau memang Natalies masuk pengecualian karena beranggapan tidak perlu.
"Miss Natalies memang gini ya cara bicaranya? Saya adiknya Mas Arjie loh," tegur Jingga.
"Iya emang gini, masalah buat Lo? Cuman adiknya kan? Enggak penting,"
"Miss Natalies tadi bilang mau nikah sama Mas Arjie, enggak tau kalau Mas Arjie udah nikah?" tanya Jingga penasaran.
"Tau, katanya istrinya cantik. Tapi karena enggak bisa dibandingin sama Gue, Lo mau di bandingin sama dia enggak?" tanya Natalies.
"Kalau Miss mau bandingin boleh," jawab Jingga.
"Menurut Gue cakepan lo lah sama istrinya. Kulit Lo mulus, rambut Lo juga bagus, Mami Papi Lo yang kaya itu sering manjain ya?"
Jingga menjawab dengan anggukan, buat Miss Natalies berpikir kemudian kembali bertanya dengan suara keras seolah baru mendapatkan pencerahan.
"Eh tapi, Lo anak dari selingkuhan Bapa Si Arjie ya? Setau Gue si Arjie cuman punya dua adek cowok. Waktu Gue dikenalin ke keluarganya enggak ada Elo."
Jingga meringis tapi kemudian mengangguk, berbohong sekali hanya akan buat kebohongan-kebohongan lain, tapi sudah terlanjur. Mencerna kembali ucapan Natalies barusan buat Jingga bertanya-tanya seserius itu ternyata hubungan Bagas dan Natalies, sampai sudah bertemu dengan orangtua. Cinta itu buta, apakah berlaku di mata Bagas?
"Miss tau istrinya Mas Arjie ?" tanya Jingga berusaha mengontrol pikirannya, dia pilih cari informasi sebanyak yang dia bisa dahulu.
"Enggak tau, tapi palingan jelek," jawabnya acuh.
"Miss tetap mau menikah meskipun Mas Arjie udah punya istri?"
"Gapapa, ini janji yang harus di tepatin. Kita berdua enggak bisa ngelak."
"Kapan Miss dikenalin sama keluarga besar?" tanya Jingga.
"Empat tahun lalu. Eh, Woy dek, Lo nanya mulu. Sekarang jawab Kakak Lo di mana?" tanya Natalies lagi.
"Di tempat kerjanya," jawab Jingga
"Ah buang-buang waktu, ngomong kek dari tadi. Tau gitu gue pergi kesana,"
"Miss tau alamat kantornya?" tanya Jingga yang dibuat kaget untuk kesekian kalinya, padahal setelah menikahpun Jingga baru Bagas bawa kesana beberapa bulan lalu.
Jingga memang dokter, tapi masalah patah yang seperti ini dia pasti kebingungan untuk tulis resep obatnya. Setelah Natalies temui Bagas, selanjutnya Bagaimana?
Tbc
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.