Ada yang baru dari suasana pagi ini, entah kebetulan seperti apa yang semesta rencanakan jadi semuanya terkesan seperti komedi.
Dengan latar dua rumah megah dengan pagar rendah sebab mereka tetangga yang bersisian sejak lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Enam orang manusia mulai melakukan perannya masing-masing.
"Heh ujung siwak, ngapain nginep di rumah tetangga ? "tanya Papi Rama ketika melihat anaknya keluar dari rumah keluarga Reza, bersama Niken dan suamianya, ketiganya sibuk tertawa seperti keluarga bahagia.
Mendengar ucapan Papi Rama, Mami Renjani yang sedang fokus mengobrol dengan Jingga secara bersamaan mengalihkan atensi mereka, meskipun berjarak agak jauh tapi kedua mata Jingga berhasil saling tatap dengan iris kelam milik Bagas. Hanya beberapa detik, keduanya segera alihkan pandangan lagi.
"Pagi Bro,"sapa Rama kepada Surya. Dua Bapa-bapa itu memang sering so asik sendiri.
Bunda Niken yang berada di tengah memilih bergegas hampiri anak semata wayangnya, tak lupa menarik tangan Bagas dan ayah agar ikut. Jadi keenam orang itu berkumpul diteras rumah keluarga Bagas.
Tapi ketika Jingga maju ingin peluk Bunda, Niken menghindarinya.
"Gimana, enak mau peluk ditolak?" sindirnya.
"Jingga Sayang, semalem nginep di rumah Mami? Kok enggak pulang dulu ke rumah? "Tanya Ayah, ingin maju peluk anaknya tapi Niken tahan.
Selesai bicara seperti itu berujung Ayah diinjak kakinya oleh Bunda, "jangan dibaikin dulu. Kan kita mau ngejalanin rencana, " bisiknya pelan.
Menit berlalu setelah paham situasi Ayah mengubah raut wajah ramahnya menjadi datar. Jingga tatap Ayahnya heran, malah balas di pelototi. Kenapa ya? Ini ada apa?
"Ayah enggak jadi nanya pertanyaan tadi," ucapnya tanpa beban.
Bagas tatap Papi nya, " Papi tadi nanya Bagas kenapa nginep di rumah Bunda sama Ayah kan? Bagas nginep karena... "
"Ah Papi juga enggak jadi nanya,"
Kan, emang komedi tapi jatohnya enggak lucu. Niken dan Renjani sebagai istri sudah hembuskan napas berat tanda lelah, beruntung bukan hembusan napas terakhir.
Tanpa berlama-lama Renjani memilih peluk Jingga, "kerja yang semangat ya sayang. Harus bahagia, jangan sedih-sedih lagi. Untung kemarin ketemu di jalan, awas ya kedepannya jangan tahan sakit sendirian. Mami kasian sama kamu, cantik, pinter begini malah disakitin jamet,"ucap Mami Renjani sempatkan beri tatapan sinis pada Bagas.
"Disakitin Jamet siapa? Yakin disakitin atau jangan-jangan kebalikannya? Ups." ucap Bunda Niken yang sudah merangkul Bagas.
"Beneran disakitin kok, buktinya ada" Balas Renjani.
"Bagas sayang kalau cape pulang kerja mending pulang ke rumah Bunda aja ya, istirahat, udah besar kalau punya masalah diselesaikan baik-baik ya sayang bukan tiba-tiba minta cerai. Bagas udah bekerja keras selama ini, di luar kota dua minggu bukan buat main-main kan ya, berkas masuk tengah malam harus selesai pagi itu gimana ceritanya. Bagas pasti kurang istirahat, untung enggak tipes." Ucap Bunda Niken, Dia sempatkan menatap Jingga untuk lihat reaksi anaknya.
"Jingga juga selama ini bukan haha hihi, dia sibuk kerja. Kerjanya juga sama cape. Yang bikin Mami salut sama Jingga, di balik sibuknya tetep nyempetin buat siapin makan malam romantis buat nyambut suami pulang, eh suaminya malah makan malam sama cewek lain. Parahnya bukan sekali, diulangin dong sampe dua kali. Apa enggak remuk itu hati."
Baik Bagas atau Jingga sama-sama sibuk pikirkan ucapan kedua orang tuanya, Jingga baru tahu kerjaan Bagas seramai itu. Bagas pun baru tahu Jingga siapkan banyak hal untuk sambut dia pulang.
Termenung, sibuk dengan pikiran masing-masing Jingga dan Bagas baru sadar kedua orangtua mereka sudah sibuk beradu pendapat. Orangtua Bagas sibuk membela Jingga pun begitu sebaliknya. Agak aneh dengan dua keluarga ini, lebih membela anak tetangga dari pada anak sendiri.
Situasi semakin memanas, Bagas ataupun Jingga tak mengerti para orang tua sedang membahas apa.
Jingga tak mau tau lebih banyak, jadi tanpa menunggu perdebatannya selesai dia memilih pamit untuk berangkat ke rumah sakit. Peluk hangat Mami Renjani, sisanya hanya dia salami, termasuk Bagas.
"Jingga pamit ya, perjalanan dari sini ke rumah sakit lumayan jauh. "
"Hati-hati ya sayang, kalau ada apa-apa kabari Mami. "
"Makasih Mami. "
Jingga masuk ke dalam mobil, disusul Bunda yang katanya ingin menumpang untuk pergi ke mini market. Ayah memilih kembali ke rumah, Papi pamit ke kantor, mereka pergi hanya sisakan Bagas yang mematung dan Mami yang tatap anaknya tajam.
Semua yang Jingga lakukan sejak tadi, tidak lepas dari pandangan Bagas, sampai mobil Jingga menghilang dari pandangan, Bagas benar-benar perhatikan semuanya.
"Bisa lihat wajah sembab itu? Kamu ngapain Jingga ? Kalau mau main-main jangan sama anak Mami. "
"Mami,"
"Jingga nangis dan cerita semuanya, kamu mau cerita juga atau gimana?"
"Iya Bagas cerita."
"Kamu berapa tahun kenal Jingga, kenapa belum juga paham, Jingga yang Bagas lihat kemarin cuman lagi pura-pura. Aslinya Jingga terluka."
Sedangkan di dalam mobil ketika Jingga berhenti untuk menurunkan Niken di mini market, Bundanya itu tidak langsung turun. Sebab tujuannya memang tidak benar-benar ingin belanja. Niken hanya ingin bicara dengan anaknya.
"Apapun masalahnya, selesaikan masalahnya dengan baik. Jangan ngambil keputusan ketika marah Jingga, belajar atur emosi lagi. Bagas sampai nangis kemarin. Jangan gampang minta pisah, perceraian bukan lelucon. "
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
HororDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
