Biasanya, serviks wanita membutuhkan waktu 9,6 jam untuk terbuka secara sepenuhnya agar persalinan berjalan normal. Namun pada persalinan bayi kembar, pembukaan serviks butuh waktu hingga 12,7 jam.
Operasi Caesar untuk mengeluarkan bayi kembar justru disarankan jika kedua atau salah satu bayi kembar posisinya salah.
Melahirkan bayi kembar secara normal memang tidak mudah, karena lebih berisiko tinggi, daripada melahirkan satu orang bayi. Pasalnya, proses kelahiran bayi kembar dapat menyebabkan rahim ibu berkontraksi lebih cepat, cairan ketuban pecah, preeklampsia (peningkatan tekanan darah disertai adanya protein dalam urine), hingga leher rahim mengalami pembukaan dini.
Akibatnya, besar kemungkinan anak kembar lahir prematur. Bayi lahir prematur memiliki organ tubuh yang belum sempurna, sehingga berisiko mengalami gangguan kesehatan. Karenanya, mereka membutuhkan perawatan intensif pascapersalinan.
Kalimat panjang itu terekam jelas di kepala Bagas, sampai terngiang-ngiang padahal hanya sekali dia mendengarnya. Karena tentang ketakutan seorang Jingga, sebenarnya lebih menakutkan bagi Bagas.
Hari sudah larut malam dan seharian sibuk buat tubuh Bagas kelelahan. Tapi ingat lagi genangan merah yang tadi dia temui buat Bagas bergidik ngeri. Sakit fisiknya sekarang tidak ada apa-apanya dibanding dengan perjuangan yang harus Jingga lakukan.
"Jingga Lo harus baik-baik aja," gumam Bagas memohon, sambil menyetir mobil Dia rapalkan banyak doa.
Bagas menyetir dengan kecepatan tinggi, beruntung repleksnya bagus jadi ketika tanpa aba-aba sebuah kucing menyebrang, Dia bisa hentikan mobilnya tepat waktu. Meskipun begitu tetap saja Bagas merasa kaget, napasnya mulai memburu dengan jantung terpacu cepat.
Saat seperti ini Bagas malah teringat masa kecilnya, tentang dia dan Jingga yang tumbuh bersama tanpa terlibat rasa di usia remaja. Kenyataan seperti ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Jingga lahir jadi anak bungsu yang sangat disayangi, bukan hanya oleh keluarga tapi juga oleh banyak orang. Selain merasa gagal menjaga, Bagas juga takut kecewakan banyak orang.
Kembali lajukan mobilnya Bagas menyetir dalam hening. Meskipun jalan raya di hampir tengah malam sepi, dia memilih berkemudi dengan kecepatan sedang. Perjalanan yang biasa ditempuh duapuluh menit sepertinya akan selesai lebih lama.
Bersamaan dengan mobil yang Bagas lajukan hampir sampai di rumah sakit terdekat, dia dapat telpon dari Jafio.
"Hallo Gas, Lo dimana?" tanya Jafio lebih dulu bicara.
"Kak, gak penting gue dimana. Ini lagi nyari Jingga yang dimana,"ujar Bagas dengan suara bergetar. Dia juga merasa bingung sendiri dengan suaranya.
"Beberapa jam lalu Jingga dibawa Juwi ke rumah sakit Medika Cifta," balas Jafio segera, Bagas bisa dengar suara mobil dibunyikan dari sebrang telfon, dia tetap setia menunggu kelanjutan cerita kakak iparnya. Sampai sini Bagas sedikit tenang, sebab Jingga dibawa kerumah sakit yang dia tuju sekarang.
"Juwi tadi ngabarin lewat chat, dia enggak punya kontak Lo jadi enggak bisa ngehubungi," lanjut Jafio dengan tenang.
"Ya, istri Lo enggak pernah lebih dulu ngajak ngobrol dan Gue belum pernah sempet minta kontaknya," ujar Bagas dengan menggebu.
"Gas, jangan panik," tegur Jafio yang rasanya ingin Bagas caci maki. Bagaimana bisa dia tidak panik dalam keadaan seperti ini.
"Jangan nangis, Jingga aman, dia udah ditangani," lanjut Jafio yang tidak dapat sahutan dari Bagas.
"Masih bukaan enam, perkiraan beberapa jam lagi. Hati-hati di jalan, Lo masih punya waktu,"tutup Jafio.
"Kak," panggil Bagas lirih, jika Bagas menangis sekarangpun Jafio akan merasa maklum. Tapi dia harus ingatkan satu hal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
हॉररDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
