chapter 34 : pulang lebih awal

214 43 2
                                        

Sudah empat hari Bagas pergi, dua hari tidak mengabari sudah cukup buat Jingga khawatir.

Perkiraan cuaca hari sabtu ini cerah, banyak rencana yang sudah Jingga susun untuk dikerjakan di hari libur, salah satunya dia ingin belanja bunga juga mengganti semua gorden, karena menata dan membereskan rumah sudah jadi kegemaran baru seorang Jingga.

Sudah dua bulan lebih Jingga menempuh hidup baru, seisi rumah yang disiapkan Bagas memang cukup, namun makin kesini Jingga rasa belum lengkap saja.

Yang Jingga tau, Bundanya sangat senang mengubah suasana rumah, entah mengganti dekorasi atau tata letak lemari. Dan prilaku itu mungkin menurun padanya. Kenapa mungkin? Karena sebenarnya Jingga mau namun sayangnya tidak pernah punya kesempatan untuk memilih ini itu. Selama ini seisi rumah adalah keputusan Bunda, jadi sekarang Jingga tidak mau sia-siakan kesempatan.

Masih banyak sudut kosong yang akan lebih bagus kalau diatur ulang. Bahkan sebelumnya Bagas sudah bilang ingin buat tempat gym dan playground. Rumah baru yang masih perlu diatur, mereka berencana merombaknya secara bertahap.

Tapi sepertinya semua rencana yang Jingga susun tidak bisa terlaksana dengan baik. Terbangun di pagi sebelum matahari terbit, turun dari tempat tidur, Jingga segera berlari ke kamar mandi untuk muntahkan sesuatu yang rasanya sangat mengganggu tenggorokan.

Coba mengingat terakhir makan apa, tapi rasanya tidak ada yang aneh. Semalam semuanya berjalan dengan lancar, semalam dia merasa baik-baik saja.

Bersihkan mulut, sebab rasa mual yang semakin menjadi Jingga memilih ke dapur untuk ambil minum. Suasana rumah masih sepi dan entah kenapa rasanya Jingga ingin menangis saja.

Selesai meneguk minumnya, Jingga harus kembali berlari ke kamar mandi karena mualnya masih ada.

"Neng mual lagi? " tanya Mbak Sekar, perempuan berumur hampir empat puluh tahun itu sudah seminggu bekerja di rumah Bagas dan Jingga.

Jingga perlahan duduk dimeja makan, dia menjawab pertanyaan dengan anggukan lemah.

"Mbak bikinin teh jahe ya? "tanya Mbak Sekar lagi.

Jingga mengangguk, tak lupa ucapkan terima kasih dengan suara yang lemah. Agak lama menunggu, Jingga memilih pamit ke kamar untuk mengambil aroma therapy yang biasa dia cium agar mualnya bisa sedikit berkurang.

Sebentar hilang, tapi datang lagi kemudian, lumayan lelah.

Menatap kosong wastafel dengan air keran yang dibiarkan mengalir kecil, Jingga memilih berdiri di sana cukup lama. Masih rasakan mual namun tak ada lagi yang bisa dimuntahkan, tubuhnya sudah terlalu lemas.

Entah sudah muntah berapa kali, kepala Jingga menunduk. Sedang sibuk dengan mualnya, Jingga merasakan pijatan pelan di bahu.

"Sejak kapan muntah-muntah gini?" tanya Bagas pelan.

"Tadi pas bangun tidur," jawab Jingga lirih.

"Muka kamu pucat banget," komentar Bagas khawatir.

"Enggak tau udah berapa puluh kali bulak-balik toilet," balas Jingga.

"Kasian."

Jingga mengangguk lemah, ikut mengasihani dirinya sendiri. Melihat pantulan dirinya di cermin, masih pagi, tapi rambutnya sudah berantakan karena tidak sempat disisir.

"Ada wastafel portable enggak sih, yang bisa dibawa-bawa biar enggak perlu lari-lari gini," tanya Jingga membuat Bagas tidak bisa menahan tawanya.

"Pake keresek item aja mau?" tanya Bagas menyebalkan.

"Orang lagi kesakitan malah dibecandain," amuk Jingga.

"Ya maaf, lagian aneh aneh aja mau wastafel portable segara, dikira apa."

"Ya nanyain aja, siapa tau ada," sewot Jingga.

"Iya, udah. Lagi lemes gitu ngapain banyak ngomong, ayo istirahat. Bentar lagi sarapan."

"Elo duluan," tuduh Jingga.

Seperti inilah pagi di rumah orang yang lemas karena bulak-balik ke kamar mandi dan orang yang lelah baru pulang dari luar kota. Secape apapun, bukan Bagas dan Jingga kalau tidak beradu argumen.

Tanpa bertanya Bagas angkat tubuh lemah Jingga, dipikir akan mendapat protesan, yang terjadi malah Jingga mengalungkan tangannya di leher Bagas kemudian benamkan wajah di bahu suaminya.

"Lemes banget?"

"Iya."

Jingga peluk erat Bagas, akan Bagas rebahkan di atas tempat tidur tapi menolak lepas.

"Diem, mau peluk. Deket gini mualnya langsung ilang," ujar Jingga.

"Serius? emang bisa gitu? " tanya Bagas menyebalkan.

"Kamu enggak percaya?" sewot Jingga, tak lupa sambil melotot galak.

Tapi Bagas tidak takut, melainkan malah menanggapi Jingga dengan kekehan.

"Percaya kok, anak Aku pengen deket Papinya. Kasian ya masih kecil udah di tinggalin. Maafin Papi ya adek." Bagas berkata begitu sambil menatap Jingga dalam.

"Kamu barusan ngomong buat siapa?" tanya Jingga.

"Bentar, Aku simpen kamu di atas tempat tidur ya. Kamu rebahan nanti Aku peluk. "

Jingga yang merasa kasihan mengangguk patuh, buat Bagas terkekeh lagi.

"Aku berat ya? "

Bagas segera menggeleng, segera naik ke tempat tidur untuk peluk.

"Ringan kok Nga, cuman karena cape enggak tidur semalaman, Gue agak lemes."

"Enggak tidur semalam?" sewot Jingga yang buat Bagas merasa salah bicara. Ini topik sensitive, harusnya Bagas tidak bahas hal-hal yang akan bahayakan kesehatan di depan Jingga.

"Kalau enggak tau waktu Aku enggak akan ijinin kamu ke luar kota lagi," ancam Jingga.

Bagas usak kepala Jingga, sambil membenarkan letak tidurnya, kemudian ulurkan tangan untuk peluk sambil mencari posisi nyaman.

"Panggilan adeknya buat Anak sama istri, biar sekalian." Ucap Bagas coba alihkan pembicaraan.

"Kita seumuran ya, enggak ada adek adek. " kesal Jingga,

"Ya udah, ini tidur dulu aja, mungpung libur. Mending istirahat." ujar Bagas berusah alihkan pembicaraan.

"Kamu belum jawab pertanyaan Aku, kenapa semalam enggak tidur?" ulang Jingga menunggu.

"Ngebut selesain kerjaan, udah kangen pengen cepet pulang," jawab Bagas ragu, dalam hati dia menghitung mundur, tiga...dua...satu...

"Mau pulang ke mana pake acara begadang segala?" sewot Jingga, prasangka Bagas benar-benar terjadi.

"Mau pulang ke asal Hah? Jangan main-main ya Bagas. Sehat kamu prioritas, enggak ada begadang sampe enggak tidur gitu lagi, kalau kamu sakit gimana? " omel Jingga kesal.

"Iya iya maaf, " ucap Bagas yang mulai merasa tak enak.

"Gampang banget bilang maaf, kalau kamu sampe sakit gimana?"

"Enggak sakit Nga, liat aku di hadapan kamu sekarang, masih baik-baik aja begini. "

"Enggak tau ah, sebel aku sama kamu." ucap Jingga yang segera turun dari tempat tidur kemudian berjalan keluar kamar.

"Nga."

"Diem."

"Katanya tadi lemes sama bawaan adek nya pengen dipeluk aku," tanya Bagas.

"Udah enggak. "ketus Jingga.

"Terus sekarang mau kemana?"

"Ke tempat yang enggak ada kamu nya. "

"Nga jangan becanda ah, aku... "

"Tidur. Sampe turun dari tempat tidur, Lo gue botakin ya Gas. "

Jingga sudah pakai Lo-Gue lagi, Bagas pasrah, sepertinya Mood Jingga sedang sangat berantakan. Daripada menyusul, Bagas memilih dengarkan perintah nyonya.

Tbc

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang