Perjalanan menuju rumah orangtua yang memakan waktu lebih dari satu jam sudah mereka lalui setengahnya. Bagas sangat senang bercerita, biasanya diperjalanan panjang seperti ini dia akan ceritakan banyak hal kepada siapapun yang bersamanya.
Tapi dengan Jingga kali ini ada yang berbeda, dia masih sangat suka bercerita namun lebih menyarankan istrinya untuk istirahat. Tak apa mulutnya gatal ingin bahas banyak hal, Bagas bisa menahannya sebab lihat Jingga tertidur dengan nyenyak ternyata lebih menyenangkan.
Jingga itu cantik, Bagas sudah tau dari dulu. Tapi tentang rasa damai hanya dengan melihatnya terlelap, Bagas baru menyadari rasa itu sekarang.
Sederhana, hari ini Jingga hanya pakai kaos putih lengan pendek yang dipadukan dengan rok biru muda selutut. Tapi dimata Bagas sekarang indahnya Jingga melebihi buket bunga yang tadi dia beli.
"Harusnya tadi gue bilang, bunganya jangan kamu yang bawa. Nanti mereka minder karena kalah cantik." bisik Bagas diakhiri kekehan.
Dasar Arjie Bucin Baskara Shakeel, sedang menyetirpun sempatkan diri untuk sering-sering lihat ke samping. Jika Jingga tidak tidur, dia pasti marah karena khawatir Bagas sakit leher, atau mungkin marah untuk menutupi salah tingkahnya. Karena sebenarnya, dua-duanya sama bucin.
*
Belasan menit yang dilalui dengan hening, Bagas yang sadar tak lama lagi mereka akan sampai memilih buka mulut.
"Sebentar lagi sampe," gumam Bagas yang tak lama kemudian buat Jingga terbangun. Agak kaget, Bagas sebenarnya hanya bergumam pada diri sendiri, tidak berniat membangunkan Jingga. Merasa bersalah, karena sudah terlanjur, jadi dia hanya terkekeh perhatikan Jingga yang masih setengah sadar.
"Pusing? " tanya Bagas setelah beberapa menit dia menunggu tapi Jingga tidak bicara. Setelah ditanyapun Jingga menjawab dengan menggeleng lemah.
"Laper?" tanya Bagas lagi, sedikit khawatir tentu saja.
"Kita baru makan sejam yang lalu," ucap Jingga lirih.
"Kamu kan makannya buat bertiga."
"Enggak sebanyak itu. "
"Sebanyak apa emangnya?"
Kan namanya juga orang cerewet, padahal cuman enggak ngomong kurang dari satu jam, melihat ada kesempatan langsung tancap gas.
Sampai di gerbang komplek keduanya baru kepikiran akan satu hal,"mau ke rumah Mami atau Bunda duluan?" tanya Bagas yang buat Jingga ikut bingung.
Masalahnya dua emak-emak itu kadang bertingkah seperti anak kecil, sama-sama ingin didahulukan dan merasa kalah jika jadi yang kedua dikunjungi.
"Kalau sendiri-sendiri gimana? " Saran Jingga yang tentunya tidak disetujui Bagas.
"Enggak ah, kaya yang lagi berantem Nga. Aku udah niat turun dari mobil mau jalan gandengan."
"Ngapain jalan gandengan? Kita enggak nyebrang jalan. "
"Ya mau aja, gandengan sama lo.."Bagas menggantung kalimatnya, setelah sadar ada kesalahan dia memilih tepuk mulutnya kemudian mengulang kalimat, "maksud aku, gandengan tangan sama kamu jadi hobby baru gue sekarang, eh maksud nya hobby baru aku. "
Jingga tidak bisa menahan tawa. Baru jalan seminggu, wajar jika sesekali Bagas lupa. Jingga pun begitu.
"Sorry ya, kebiasan belasan tahun emang agak susah diubah. "sesal Bagas.
"Gapapa sih, padahal kita sama-sama enggak perlu maksain. Senyamannya aja. " ucap Jingga.
"Aku-kamu udah nyaman kok,"
"Udahan bahas itu, ini sebentar lagi sampai. Mau gimana? "
"Parkir mobil ditengah-tengahnya aja, nanti bunyiin klakson, yang pertama keluar kita samperin. " Saran Bagas yang langsung disetujui Jingga.
Semuanya berjalan seperti rencana. Bagas sudah hentikan mobil kemudian bunyikan klakson. Tak butuh waktu lama, dua pasang manusia keluar secara bersamaan.
"Gimana?" tanya Jingga yang bingung harus langkahkan kaki ke arah kanan atau kiri.
"Diem aja, biar mereka yang nyamperin," Bisik Bagas.
"Sopan enggak sih?"
"Gapapa daripada ribut."
Jingga mengangguk pasrah, tak lama Bunda Niken lebih dulu bergegas hampiri Jingga dan peluk anak semata wayangnya.
"Gimana ? " tanya Mami yang juga sudah sampai didepan Bagas.
"Gimana apanya?" Balas Bagas bingung.
"Diliat-liat lagi akur nih," sindir Renjani.
"Kenapa, udahan berantemnya?" tanya Surya juga tak mau ketinggalan untuk bertanya.
"Bagas enggak ke luar kota ninggalin bini sendirian lagi di rumah? " sindir Rama.
"Jangan bahas itu lagi, kita gapapa. Ini kita mau kumpul dimana? "tanya Bagas.
"Ke rumah Bunda aja, "ucap Niken segera.
"Rumah Mami aja. "ucap Renjani tak mau kalah.
"Dirumah Bunda ada makanan kesukaan Bagas,"
"Dirumah Mami siapin cemilan kesukaan Jingga. "
"Dirumah Bunda aja. "
"Rumah Mami. "
"Bunda."
"Mami."
"Loh kok malah rebutan, " ucap Jingga tapi tidak didengar.
"Pokonya kumpul dirumah Bunda. "
"Enggak, dirumah Mami aja. "
Bagas merentangkan tangannya ke depan, membentuk gerakan memisahkan Renjani dan Niken yang sudah berhadapan. Takut mereka saling cakar.
"Udah udah, enggak malu apa berantem depan cucu?"
Baru keduanya mau bicara, Rama sudah lebih dulu sadar akan ucapan Bagas.
"Cucu apa? "tanyanya bersamaan dengan Surya.
"Ini loh, anak-anak aku yang masih di dalam perut mau berkunjung ke rumah kakek neneknya. " ucap Bagas sambil rangkul Jingga.
"Jingga hamil? "tanya keempatnya bersamaan.
Bagas mengangguk, tunjukkan senyum yang buat matanya hilang.
"Iya, katanya kembar. Ini mereka mau berkunjung ke rumah kakek neneknya. Jadi mau kemana dulu? "
"Ya udah ayo ke rumah Bunda aja," ucap Niken, kali ini Renjani tidak menolak. Dia malah berdiri di samping Jingga kemudian merangkulnya.
"Ayo masuk ngapain lama-lama di pinggir jalan gini, " ucap Renjani.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
TerrorDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
