Usia kandungan Jingga sudah lebih dari tujuh bulan, dia sudah berhenti bekerja di rumah sakit dan mulai sedikit sibuk mengurus persiapan persalinannya. Sebenarnya masih cukup lama, tapi bagi Jingga sendiri banyak keperluan yang harus dia pelajari dan butuh waktu.
Rencananya hari ini Jingga akan pergi ke toko perlengkapan bayi, ditemani yang sudah berpengalaman di bidangnya, Jafio dan Juwita. Sudah mau sebulan berlalu sedangkan menginap yang Jafio bicarakan belum sempat terlaksana, dua hari setelah pertemuan mereka di restoran ternyata Jafio harus kembali.
"Jadi kapan bisa menginap?" tanya Jingga menagih janji sepupunya. Jafio yang datang ke rumah Jingga untuk menjemput tak bisa menahan tawa.
"Iya nanti,"jawabnya kalem.
"Dih, yang kaya gini tuh bukan Abang Jafio banget,"sindir Jingga pura-pura kesal. Sebab kakak sepupunya itu tidak pernah ikar janji, dia juga punya jawaban tepat tidak seperti sekarang. Tapi obrolan tentang menginap tidak dilanjutkan bersamaan dengan Juwita yang turun bersama kedua anaknya untuk menyapa Jingga.
"Mbak Juwi gapapa kan nganter aku belanja?"tanya Jingga, dia sebenarnya tak enak sebab melihat kaka iparnya sudah kerepotan mengurus dua anak sekarang harus ditambah membantunya. Salahkan Bagas yang sibuk sampai tidak bisa temani.
"Gapapa Jingga, Aku juga sekalian ada yang mau dibeli." ujar Juwita sambil tersenyum ramah, meskipun dia sedikit canggung perihal panggilan Mbak yang Jingga beri. Mereka memang sekelas tapi umur Juwita lebih muda satu tahun, sudah bertahun-tahun berlalu tetap saja dia merasa tak biasa di panggil Mbak meskipun tau Jingga adalah adik iparnya.
"Jingga mau duduk di mana?" tanya Juwita memberi tawaran. Melirik ke dalam mobil, Jingga bisa lihat di kursi belakang terdapat dua car seat punya Maikha dan Raikala.
"Kayanya belanjanya banyak, aku bawa mobil sendiri aja ya?" tanya Jingga yang langsung dapat gelengan dari keduanya.
"Selama ada Abang, jangan dulu nyetir sendiri Adek," ujar Jafio yang di tambah anggukan Juwita.
Jingga tak mau melawan, dia masuk ke mobil untuk duduk di kursi samping kemudi. Sedang Juwita di tengah dan dia apit dua anaknya.
"Nyaman duduknya?" tanya Jafio.
Jingga mengangguk, mereka berangkat ke tempat tujuan, selama di perjalanan diisi obrolan menyenangkan.
Memasuki mall, dengan Jafio yang mendorong troli berisi anak bungsunya yang tertidur dan tangan kanan yang menuntun anak sulungnya, Jingga yang dituntun Juwita berjalan paling depan, mengobrol tentang tema kamar anak.
"Anaknya cowok cewek kan ya? Nanti kita cari barang kembaran yang lucu-lucu," ajak Juwita sudah antusias. Padahal dia tidak suka belanja tapi belanja kebutuhan bayi masuk pengecualian.
"Soal warna yang kamu suka atau enggak suka mending bilang dari sekarang," ujar Jafio yang buat Juwita dan Jingga serempak menoleh.
"Soalnya kalau manut doang sama Juwi, nanti semuanya bisa warna hijau," Ujar Jafio diakhiri tawa. Sang istri sudah melotot galak, sedang Raikala yang baru terjaga dari tidurnya membeo, "hiaw," ujarnya berusaha mengulang.
Langkah tiga orang dewasa itu jadi terhenti setelah dengar suara lucu itu, Juwita sempatkan berjongkok untuk kecup pelan pipi putranya, "Rai bangun enggak nangis sayang? Udah bisa bilang hijau? Rai hebat," puji Juwita sambil bertepuk tangan. Tapi tidak sampai di sana, Juwita juga sedikit membungkuk untuk kecup pipi si sulung juga, "Maikha juga hebat, Mama Bangga hari ini Kakak tenang jalan digenggam Daddy, temani Mama cari keperluan untuk anak Tante Jingga ya, nanti kita beli apa yang Maikha mau."
"Okey," balas anak berumur lima tahun itu lucu.
Jingga dibuat terpana sampai tak berkedip memperhatikannya, hari ini dia pelajari tentang hal sederhana tapi bermakna. Sangat berguna untuk diterapkan nanti pada si kembar. Ketika satu anaknya buat bangga, anak yang lain juga sudah bekerja keras dan harus dihargai. Bagaimanapun orangtua harus mampu tunjukkan rasa sayang pada setiap anak yang sama besar.
"Kayanya warna netral aja deh,"putus Jingga yang mengambil sebuah handuk.
Juwita ambil beberapa sarung tangan, "Jingga lebih suka yang mana?"
"Hijau lucu, merah juga bagus." jawab Jingga. Lama keduanya memilih keperluan bayi sampai dirasa lengkap Juwita mengajak Jingga ke perlengkapan Ibu.
"Mbak waktu ngelahirin Raikala sempat koma ya?" tanya Jingga yang buat Jafio di belakang meringis, teringat kenangan yang paling menyedihkan dihidupnya.
"Jingga," tegur Juwita lembut.
"Aku cuman pengen tau aja," balas Jingga sambil meringis.
"Iya, waktu itu tidurnya dua hari. Tapi lihat, sekarang aku disini, semuanya baik-baik aja," balas Juwita dengan senyum.
Tapi Jingga tak bisa hilangkan khawatirnya, sebuah kenyataan yang mengganggu pikiran Jingga belakangan ini, tentang proses melahirkan yang pertaruhkan nyawa, di sekelilingnya sudah banyak yang berbagi pengalaman bahagia tapi ada juga tentang pahit.
Jingga tau kisah hidup seorang Juwita, dia kuat karena sering melalui titik rendah. Tapi Jingga juga ingat titik terendah sepupunya, Jafio yang menangis putus asa karena istrinya tak kunjung bangun. Jingga jadi saksi dari luka dan kehancuran itu.
"Jangan jadiin pengalaman buruk Aku sebagai tolak ukur," ujar Juwita yang genggam tangan Jingga berusaha menenangkan. "Nanti aku cerita bahagianya yang banyak. Kalau kamu tau, sakit dan pengorbanan masih kalah jauh dari rasa bahagia kami," ujar Juwita lagi.
Juwita mengangguk pelan.
"Selalu percaya apapun yang terjadi Bagas ada di samping kamu, semua bakal baik-baik aja,"
Jingga membalas senyum Juwita, tapi kemudian teringat sesuatu,"tapi sekarang orangnya sibuk kerja."
"Tapi keburu nyusul," ujar suara yang buat Jingga kaget.
"Loh, Ngapain?" tanya Jingga.
"Ya nyusul lah, kebutuhan anak-anak aku kan tanggung jawab Aku."
"Tadi katanya ada kerjaan," sindir Jingga.
"Udah beres, sekarang tinggal metik hasilnya." balas Bagas sambil menaik turunkan alisnya membuat ekspresi menyebalkan.
"Gimana bisa beres, belum juga satu jam kamu pergi,"
"Bisa lah, Bagas." Ujarnya sombong, dia kemudian berjalan untuk berdiri di samping Jingga, sempatkan untuk usap pelan rambut istrinya."Nanti pulang sama aku, jangan ngerecokin keluarga kecil ini terus," perintah Bagas yang dijawab anggukan Jingga.
"Siapa yang ngerecokin, orang kita seneng-seneng aja nemenin Jingga."
Bagas mengatupkan mulut, merasa salah bicara. Direspon tawa tiga orang lainnya.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
HorrorDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
