chapter 54 : Aniversarry

102 22 1
                                        

Hari kamis, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi tapi tidak seperti biasanya, hari ini Bagas masih bersembunyi di balik selimut.

Tau dibangunkan dengan cara biasa tidak akan mendapatkan hasil buat Jingga terpaksa bangunkan suaminya itu dengan cara baru.

"Sayang bangun, Cepet mandi kamu harus berangkat kerja," ujar Jingga berbisik tepat di telinga suaminya itu.

Jingga termundur, dia kaget sebab cara baru itu begitu ampuh. Dengan ajaib, Bagas yang biasa dipukulpun tidurnya tidak terusik sekarang hanya dengan satu bisikan sudah mengerang kemudian menyingkap selimutnya.

"Pagi sayang," sapa Bagas sambil tersenyum manis, sedang Jingga hanya mengangguk agar mempercepat Bagas bangun.

Bagas turun dari tempat tidur, merenggangkan otot-ototnya kemudian berdiri di depan Jingga.

"Ngapain?"tanya Jingga galak.

"Selamat pagi, "ujar Bagas lagi, dia tersenyum sampai matanya hilang.

"Iya pagi," balas Jingga mengalah, "Cepet mandi, kebiasaan tidur enggak pake baju atasan," omelnya.

"Hehe kan nyaman gini, kalau eng....."

Jingga memilih simpan jari telunjuknya di bibir Bagas, "sssttss, mandi Bagas," ujarnya, dia tidak mau banyak mendengar omong kosong dipagi hari.

Tapi Bagas menggeleng dengan tegas, "mau mandiin anak-anak dulu," ujarnya dengan semangat meskipun terlihat masih mengantuk.

Padahal semalam Bagas baru pulang jam sebelas malam, sudah beberapa hari dia begadang buat kantung mata yang menghitam sudah jadi pemandangan sehari-hari. Tapi separah apapun kantung matanya sekarang, Bagas tidak pernah berpikir untuk menyembunyikannya dari Jingga dengan cara menginap di hotel, tak mau buat kesalah pahaman seperti dua bulan yang lalu. Sudah cukup hampir di talak dua kali, jangan sampai ada lagi.

"Emang kamu bisa?"tanya Jingga ragu, dia balas pernyataan Bagas tadi dengan ekspresi tak percaya.

Bagas mendelik, dia tidak suka diremehkan, sedang Jingga pada akhirnya tidak bisa menahan tawa.

"Aku Bisa, " jawab Bagas dengan percaya diri. "Tapi bantuin ya?" lanjutnya.

Jingga mengangguk dia berhenti dengan tawanya kemudian keluar kamar lebih dulu, sedang Bagas mengambil salah satu kaosnya asal, baru menyusul keluar kamarnya untuk pergi ke kamar Jiva dan Raga.

Sampai di depan kamar kedua anaknya, Bagas buka pelan pintunya lalu masuk dengan hati-hati. Hanya Jiva dan Raga yang berhasil buat Bagas jadi tenang seperti itu, karena  biasanya sifat aktifnya Bagas keluarkan tanpa peduli sekitar.

Bagas menghentikan lankah di depan box bayi, Jingga sudah di sana lebih dulu tapi hanya diam tatapi kedua anaknya yang masih terlelap.

"Tumben belum bangun?"bisik Bagas heran, pasalnya sebelum Bagas bekerja, jam segini biasanya keduanya sudah minum susu dan terbangun mau dimandikan.

Belum Jingga menjawab, kedatangan Bagas disambut adegan lucu, Jiva baru saja membuka mata, anaknya yang perempuan sepertinya memang lebih sensitif dengan suara. Dengar Bagas bicara dia langsung terbangun dari tidur nyenyaknya.

Bertemu tatap dengan mata kecil itu, beberapa saat Bagas diam terpana kemudian tersenyum merekah segera bawa anaknya kepangkuan. Kalau pemandangan paginya seperti ini, rasanya setiap lelah yang kemarin mudah untuk hilang.

"Baru Papa tanyain kok belum bangun, udah bangun aja kamu nak. Gimana tidurya? Mimpi apa tadi?" tanya Bagas bertubi-tubi kemudian dibalas suara khas bayi.

Jingga terkekeh, temani tumbuh dua anaknya bersama Bagas kadang sering dia syukuri. Bagas yang banyak bicara sepertinya akan klop dengan Jiva, sedang dirinya sendiri, meskipun Jingga kadang merasa sedang bercermin ketika melihat Raga, tapi sikap tenangnya Raga sepertinya berbeda. Jingga menggeleng pelan, berusaha usir pikiran anehnya. Dua bulan terlalu singkat untuk simpulkan pribadi anaknya, Jingga pilih kembali fokus pandangi Raga yang masih nyenyak.

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang