chapter 33 : ditinggal

76 19 0
                                        

29 tahun Bagas hidup, selama itu pula dia mengenal keluarga besarnya. Tujuh belas tahun tumbuh di bawah didikan Ayah Bunda, selebihnya dia habiskan dengan mengikuti apa yang Opa dan Oma mau.

Bagas yang paling patuh, itu menurut mereka. Jadi cucu yang paling dekat, Bagas sudah paham watak sang kakek yang keras dan tidak dermawan sama sekali, tapi dua minggu yang lalu entah karena sudah larut malam jadi kesadarannya menipis atau karena terlalu kaget dan terbawa suasana bahagia yang Jingga rasakan sampai Bagas bisa terlena dengan hadiah bernilai fantastis yang Kakeknya beri.

Karena seperti yang sudah terjadi, hadiah mahal itu tidak gratis, dibayar mahal oleh waktu dan tenaga.

"Opa, Bagas baru sebulan yang lalu pulang dari luar kota, masa harus ninggalin Jingga yang lagi hamil muda," keluh Bagas yang sebenarnya  sia-sia.

"Kamu mau punya anak, harus kerja lebih keras untuk biaya hidup mereka," ujar sang Opa santai, dia duduk dihadapan Bagas, baru beberapa menit yang lalu masuk keruangan kerja cucunya kemudian beri perintah. Padahal dikantor itu  jabatan Bagas yang paling tinggi, tapi Bagas bisa apa jika si pemilik yang pinta.

Bagas mau menjawab tapi coba dia tahan, dia sangat ingin berteriak, " kalau cuman buat hidup dua anak, tanah kemaren juga cukup." tapi hanya sampai di tenggorokan.

Sulit untuk Bagas menjelaskan pada kakeknya bahwa Bagas yang sekarang bukan dia yang dulu, tidak bisa seenaknya pergi kesana kemari meninggalkan istri. Tapi Bagas tidak punya pilihan, dia tidak punya kuasa untuk menolak. Jika seperti ini, Bagas kadang ingin berdo'a salah satu sepupunya bangkrut sampai tidak punya pilihan selain ikut urusi perusahaan keluarga. Agar dia punya teman dan bisa bagi tanggung jawab sebagai keturunan Wiyoko tapi Bagas tidak setega itu, dia hanya berdo'a agar selalu punya kekuatan untuk melewatinya.

Lama bicara dengan sang kakek yang tidak dapatkan hasil apa-apa selain keputusan awal yang sudah diputuskan, Bagas pulang kerumah larut malam dengan raut wajah sendu, memarkirkan mobil kemudian
turun sambil longgarkan dasinya yang terasa mencekik, dia mencari keberadaan Jingga yang sepertinya sudah pulang lebih dulu karena mobilnya sudah ada.

"Nga," panggil Bagas berteriak tapi tidak terdengar oleh Jingga karena dia sedang memasak makan malam di dapur.

"Jingga," ulang Bagas lebih kencang sambil melangkah lebih dalam masuk dan kali ini berhasil didengar.

"Gue di dapur," Balas Jingga sama berteriak, dia cuci pisau yang sudah dipakai untuk mengiris bawang bombai, kemudian menyimpannya kembali ke tempat pisau. Diam sebentar, Jingga tunggu jawaban dari Bagas namun setelah beberapa saat tidak ada.

"Mandi dulu, baju gantinya udah di atas tempat tidur, gue tanggung lagi masak." ujar Jingga lebih kencang setelah itu nyalakan kompor kembali fokus pada kegiatan memasaknya.

Bagas lelah, dia juga kebingungan bagaimana cara sampaikan pamit yang baik. Lebih dari takut Jingga marah, Bagas berkali lipat lebih takut dirinya jauh dengan Jingga. Dua belas tahun yang dia habiskan untuk kepentingan keluarga, kenapa setelah selama itu Bagas masih harus fokuskan diri pada hal yang sama.

Bagas melangkah pelan, menuju sumber suara Jingga. Melewati lorong yang sebagian dindingnya di hiasi photo pernikahan buat Bagas menghembuskan napas berat. Lama Bagas berjalan, dia sampai di ambang pintu dan bisa lihat punggung Jingga. Melihat pemandangan Jingga yang sibuk di depannya tanpa sadar mata Bagas berkaca-kaca. Bagas hanya ingin bersandar, dia maju untuk rengkuh tubuh Jingga dan sandarkan kepalanya disana.

"Heh ngapain?"Respon Jingga, dia cukup kaget karena dapat pelukan tiba-tiba.

Bagas diam, yang tak lama Jingga bisa rasakan tetes hangat sampai di pundaknya.

Jingga khawatir, dia baru saja menumis bumbu jadi bimbang antara lanjutkan memasak atau pedulikan Bagas.

"Gas," panggil Jingga kemudian tepuk pelan tangan Bagas yang melingkar di perutnya.

"Gini bentar," gumam Bagas pelan.

Jingga pasrah, daripada bertanya lebih banyak, dia memilih bergerak ambil potongan brokoli di dalam mangkuk yang sudah di cuci kemudian memasukkannya ke wajan. Beruntung setiap masak, Jingga selalu siapkan bahannya di tempat terdekat sehingga pelukan Bagas tidak mengganggu selama Jingga masih bisa gerakkan dua tangannya.

Kurang dari sepuluh menit masakan sederhana buatan Jingga selesai, tapi Bagas tidak mengubah posisinya sama sekali. Hanya isaknya yang sudah berhenti.

"Bagas," panggil Jingga lembut,"boleh lepas peluknya bentar, gue mau kita hadapan," Ujar Jingga meminta pengertian. Tapi Bagas menggeleng, yang buat Jingga mengambil keputusan sendiri. Dia dengan sekali gerakan bisa melepaskan diri, ijin tadi hanya basa-basi.

"Kenapa? Ada masalah di kantor?" tanya Jingga langsung tepat sasaran. Bagas di hadapannya segera mengangguk.

"Opa..." Bagas tidak melanjutkan ucapannya, dia alihkan pandangan yang sebelumnya saling tatap dengan Jingga dengan kepalan tangan yang buat jari-jarinya memerah.

"Kalau marah enggak perlu disembunyiin, akui aja biar mudah damai sama diri sendirinya," ujar Jingga. Dia bawa piring berisi cah brokoli kemudian menyimpannya di meja makan bersama ayam yang sebelumnya dia goreng.

Jingga lebih dulu duduk disalah satu kursi kemudian tarik kursi didekatnya agar tepat disamping kemudian pinta Bagas agar duduk disana.

"Kamu bikin kesalahan?" tanya Jingga lembut.

Bagas menggeleng.

"Dipecat? " tebak Jingga asal.

"Kalau bisa udah lama gue resign dari perusahaan brengsek ini," sewot Bagas. Jingga tanggapi dengan tertawa, buat Bagas mendelik tapi di waktu bersamaan sedikit sedihnya menguar ke udara.

"Kenapa? Kerjaannya banyak?" tanya Jingga lagi.

"Gue harus ke luar kota lagi," jawab Bagas diakhiri helaan napas berat, was-was menunggu reaksi marah Jingga.

Tiga...dua....satu...

"Ya terus?" tanya Jingga santai, diluar ekspetasi Bagas.

"Ya Gue mikirin Elo, mana bisa ditinggal terus," jawab Bagas.

"Bisa, Gue gapapa ditinggal dengan alasan pekerjaan."

"Gue enggak mau," balas Bagas.

"Gas Denger gue, tentang mimpi Lo jadi pilot. Mungkin Lo udah menyerah dengan mimpi itu. Gue tau Elo punya mimpi lain. Tapi, Mimpi Lo kan emang lebih tinggi dari keliling luar kota, kalau Lo serius, mimpi keliling dunia itu sangat mungkin Lo wujudin."

Padahal setelah kandungannya menginjak usia tujuh minggu, Jingga sering mengalami morning sickness dan mau banyak hal. Tapi dia tidak bisa egois, Bagas harus bekerja. Tanggung jawab besar yang dia pegang hanya perlu Jingga beri dukungan. Salah jika Bagas berpikir Jingga akan melarangnya, yang Jingga akan lakukan adalah mengurangi beban suaminya, bukan sebaliknya.

"Dengan cara beda tapi tujuan yang sama, fokus sama hal baiknya lalu nikmatin kesempatan yang mampir, ambil bahagianya sebanyak mungkin. Kalau udah dititik cape yang enggak bisa sembuh dengan istirahat, Lo bisa berhenti. Inget, sekarang lo enggak akan sendirian jalani hal berat, Gue disini. Dukung apapun keputusan baiknya."

Tbc

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang