chapter 42 : Kisah yang di bangun berdua

91 18 0
                                        

Di detik setelah Jingga anggukan kepala setujui ajakan Bagas untuk cari bahagia sama-sama, keduanya simpan harapan jalani kehidupan yang lebih baik jika bergandeng tangan berdua, dan Bagas tidak akan menunda lama, dia akan buat Jingga bahagia sekarang juga.

Hari mulai petang, kurang dari satu jam pasti sudah gelap. Selesaikan berpelukan dan mulai jalankan mobil, Bagas berkali-kali curi pandang kesamping, dia tau Jingga sudah kelelahan setelah beraktifitas seharian tapi dia tidak mau langsung pulang, Bagas mau bawa Jingga ke tempat biasa dia mencari ketenangan.

"Ini bukan jalan pulang," ujar Jingga yang kebingungan lihat Bagas ambil jalur berlawanan.

"Iya, ini arah ke kantor." jawab Bagas santai.

"Ngapain?" tanya Jingga heran. Dia tahu suaminya manusia sibuk tapi tidak lucu jika sedang libur sehari sorenya tetap ada pekerjaan yang tidak bisa menunggu besok.

"Bagas," panggil Jingga karena pertanyaannya tadi tidak dapat jawaban. Dan bukannya menjawab, Bagas malah menghentikan mobilnya sebentar, sibuk dengan hanphone kemudian melajukannya lagi.

"Iya cuekin aja terus," sindir Jingga yang malah dapat respon tawa.

"Denger, beberapa menit lalu kita udah janji buat cari bahagia sama-sama." ujar Bagas santai.

"Gimana mau bahagia, Gue nanya aja lo enggak jawab,"balas Jingga kesal.

Bagas terkekeh lagi, anehnya diantara kesal Jingga malah menyempatkan diri untuk terpesona. Berapa lama waktu yang Jingga habiskan untuk menyadari bahwa suaminya punya senyum sangat manis meskipun matanya selalu hilang.

Biasanya Bagas lebih sering disetiri oleh asistennya sehingga dia terbiasa duduk di kursi belakang sambil memeriksa dokumen, tapi sekarang bersama Jingga dia duduk dibelakang kemudi, tangan kekarnya dengan lihat mengontrol setir mobil.

"Lo cakep, "komentar Jingga setelah tatap lama Bagas dari samping, tidak sedang makan atau minum, tapi kometar Jingga buat Bagas tersedak ludahnya sendiri.

Kali ini giliran Jingga yang tertawa dan diantara kagetnya Bagas, ada hati yang jatuh pada pesona luar biasa.

"Enggak sadar diri," komentar Bagas dalam hati, dia tidak mau berhenti mengagumi, jangan hanya sekali, Bagas ingin selalu lihat bahagia itu.

Lima belas menit sisa perjalanan mereka selesaikan dengan hening, Bagas parkirkan mobilnya di tempat biasa lalu segera bukakan pintu samping sebelum Jingga membukanya sendiri.

"Gue bisa," ujar Jingga sambil memutar bola mata.

"Gue lebih bisa," balas Bagas.

Tidak sampai di sana, setelah keluar mobil Bagas meraih tangan Jingga lalu menggenggamnya. Berjalan sambil bergandengan tangan, sampai di lobby keduanya langsung jadi pusat perhatian banyak orang.

Si pemimpin perusahaan yang mereka ketahui hari ini tidak masuk, di sore hari hampir jam pulang datang sambil menggandeng tangan  istrinya.

Bagas bukan pemimpin yang dingin, sebaliknya dia dikenal sangat ramah meskipun punya sisi sadis dalam hal kecerobohan karyawannya. Bagas bisa dengan santai makan bersama atau mengobrol hal sehari-hari dengan kartawan bagian manapun. Disegani, tapi juga di kagumi.

Baik karyawan lama ataupun baru tidak pernah tau tentang percintaan Bosnya itu. Padahal Bagas bukan orang tertutup, lewat media sosial atau bercerita langsung dia cerita banyak hal. Hewan peliharaannya bahkan pernah jadi bahan obrolan. Tapi tentang perempuan tidak pernah sama sekali.

Kabar pernikahan Bagas lima bulan yang lalu cukup mengagetkan. Gosip dijodohan yang paling bisa dipercaya.
Apalagi setelah menikah tidak banyak yang berubah, Bagas masih gila kerja dan tidak terlihat pernah membahas istrinya sama sekali.

Meskipun keheranan dan kagum lihat paras istri atasannya, semua orang yang berpapasan tak lupa untuk memberi salam hormat.

"Pak Arjie," gumam seseorang yang baru muncul dari lift tak jauh dari tempat Bagas berdiri.

Itu Samuel, Jingga mengenalnya sebagai wakil Bagas.

"Apa dokumen yang saya kirim kurang tepat?" tanya Samuel ragu, dia kebingungan sebab Bagas sampai harus datang di waktu menjelang malam. Tapi dia tidak merasa salah, semua tugas Bagas yang dia gantikan berjalan dengan semestinya.

"Ah bukan itu, cuman mau mampir," jawab Bagas, Buat Samuel lega.

Bagas tatap sekelilingnya, tidak enak jadi pusat perhatian dan buat suasana canggung, Bagas memilih tarik napas dalam sebelum bicara.

"Ini istri saya, Jingga namanya," ujar Bagas, semua orang serempak mengangguk sopan.

"Udah ayo," ujar Bagas yang tarik Jingga pelan, membawanya berjalan beriringan menuju lift untuk sampai ke ruangannya di lantai paling atas.

"Itu tadi perkenalan?" tanya Jingga heran, "kok singkat banget." komentarnya, "kita belum pamit loh."

"Ssstttsss, mereka cukup tau nama kamu Jingga,"balas Bagas santai.

"Itu nama panggilan, nama aslinya Jinngga," ujar Jingga.

"Sama aja, paling nanti dipanggil Bu Arjie."

"Kamu di kantor dipanggil Arjie?" tanya Jingga baru tahu fakta itu.

"Itu nama aku," balas Bagas.

"Tapi ya aneh aja, biasanya Bagas. Terus kenapa tadi langsung pergi, kenalannya singkat, pergi enggak pamit juga." omel Jingga.

"Gapapa ini kantor aku," ujar Bagas dengan sombongnya.

"Punya Eyang," peringat Jingga. "Cih katanya pengen resign dari kantor brengsek ini," sindir Jingga mengingatkan Bagas akan ucapannya beberapa bulan lalu.

"Aku mau nunjukkin kamu sesuatu," ujar Bagas bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Keduanya sampai di lantai sembilan gedung di mana ada ruangan Bagas jadi salah satu penghuninya.

"Ruangan kerja kamu? "tebak Jingga asal. Dan Bagas segera menjawab dengan anggukan.

Bagas membukakan pintu dan mempersilahkan Jingga untuk masuk lebih dulu, Jingga patuh meskipun kebingungan dengan rencana Bagas.

Ruangan luas dengan kesan mewah menyambut, tapi bukan itu yang jadi fokus Jingga melainkan buket bunga besar di atas meja kerja. Dengan perlahan Jingga menghampirinya.

"Tadi di jalan gue pegang hp buat ini,"ujar Bagas menjelaskan, "bentung ada toko bunga di bawah. Asisten Gue juga udah biasa ngadepin Gue jadi bisa cepet beliin. Meskipun enggak sempet riques, buket bunganya cukup indah kan?" tanya Bagas.

Jingga yang sudah berdiri di samping meja mengangguk dengan senyum, Bagas menghampirinya, dia bawa Jingga ke ujung ruangan dengan wajah menghadap kaca besar yang memperlihatkan keindahan langit biru sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Jingga tersenyum juga kaget karena terlalu mengagumi bunga sampai tidak menyadari indahnya pemandangan dari lantai paling atas gedung tempat Bagas habiskan waktunya ini.

"Cantik, nyaman, pantesan Lo betah." sindir Jingga bermaksud becanda. Bagas merespon dengan kekehan, dia berdiri di belakang Jingga untuk peluk dari sana.

"Ada yang lebih cantik, dan ada yang lebih bikin nyaman, enggak ada yang bisa ngalahin Jinngga briannee dari bikin betah sekelilingnya," ujar Bagas manis. "Ini baru tanda jadi, belum DP belum ada apa-apanya. Gue serius soal kita yang bakal sama-sama bahagia."

"Gas," panggil Jingga tanpa bisa tahan tetes bening di ujung matanya. Dengan itu Bagas berkali-kali usap rambut Jingga penuh sayang, terakhir dengan pemandangan indah jadi saksi, Bagas kecup kening Jingga lama. Tulus.

Tbc

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang