Untuk Arjie Baskara Shakeel, atau biasa disapa Bagas. Manusia nyebelin yang Gue temui sejak lahir.
Hi Bagas, eh sebentar, tadi siang ada yang negur Gue, katanya enggak sopan manggil suami pake nama doang. Jadi dari tadi siang Gue sibuk nyari panggilan yang cocok. Ribet, belum juga nemu. Untuk sementara Gue panggil suami aja ya. Gapapa kan? Lo kan sekarang emang suami Gue.
Jadi, Hi Suami, selamat malam karena kamu pasti baca surat ini malam nanti. Awalnya aku enggak pernah kepikiran buat balas surat yang pernah kamu kasih. Tapi rasanya enggak adil. Bukan cuman kamu yang punya sesuatu untuk diungkap. Aku juga punya banyak rahasia. Kamu juga berhak tau tentang hatiku.
Satu lagi, Aku-Kamu rasanya terlalu baru untuk kita yang belasan tahun lamanya terbiasa dengan Lo-Gue. Jadi maaf buat ketidak konsistenannya. Aku berusaha coba pakai Aku-Kamu, tapi maaf kalau kadang salah menulis.
Sudah cukup, pembukaannya kebanyakan. Jadi mari segera ke inti.
Sayang, kamu mungkin enggak tau gugupnya Aku, takutnya Aku, cemasnya Aku, semua yang buat pikiranku kacau ketika hubungan serius ini direncanakan kemudian dimulai dengan sangat cepat, tapi Aku beruntung kenal kamu sebagai Bagas. Karena kamu, semuanya selalu bisa dilalui dengan baik.
Seandainya kamu tau setersentuh apa Aku menerima surat dari kamu dulu, rasanya bahagia. Seakan dapat hadiah besar karena semua yang kamu tulis di kertas itu bukan hanya sebuah rangkaian kalimat biasa. Melainkan jawaban dari setiap do'aku.
Surat kamu buat Aku yakin, dengan kamu adalah pilihan yang paling benar. Surat kamu juga buat Aku merasa diharapkan, adanya Aku ternyata tidak terlalu sia-sia.
Suamiku, jangan pernah berpikir cinta kamu sepihak, jangan pernah berpikir jatuhnya kamu sendirian karena dengan sadar ketika Aku menerima Kamu, berarti Aku akan balas sama tulus, karena Aku juga sayang Kamu. Aku sudah sama jatuh.
Aku juga mau kita bahagia, setuju kalau kita bakal bangun bahagia sebagai sepasang yang saling sayang. Serius, bukan main-main.
Terima kasih karena kamu sudah beri tahu Aku sebuah langkah pasti sambil temani.
Terima kasih Kamu bawa aku ke tujuan yang Aku mau.
Karena kamu, semuanya punya jawaban.
Sekali lagi terima kasih sudah mau mengerti, terima kasih sudah berusaha memahami. Kedepannya kita tetap berjuang sama-sama ya.
Oh iya, jangan sembunyi-sembunyi buat perhatian. Gapapa kan kamu udah terlanjur ketahuan bucin. Jangan malu, karena bukan hanya kamu. Aku juga sudah sayang kan?
Dan terakhir, sebelum surat ini aku tutup. Aku selalu ingin minta maaf.
Maaf untuk setiap salah yang sudah ataupun yang akan datang. Sayang, Aku enggak pernah mau pisah, jadi tolong jika dimasa yang akan datang tubuhku berada diluar kendali lagi kamu tahan dan jangan pergi.
Dan di paragraf terakhir, Aku cuman mau beri kabar gembira, sembilan bulan lagi kita sambut kedua anak kita ya. Sepertinya kita harus membiasakan panggilan orangtua saja. Aku mau di panggil Mami, kalau kamu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
KorkuDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
