Hanya tinggal menunggu hari, Jingga sudah siapkan banyak hal untuk jadi orangtua. Pun dengan Bagas, berbekal nasihat dari banyak orang, dia sudah berencana mengambil cuti. Sudah lama dia bekerja keras, sudah sepantasnya ambil rehat sejenak habiskan sedikit waktu dengan fokus pada istri dan anak-anaknya.
Tibalah hari ini, menyusul rencana cuti yang sudah Bagas ajukan beberapa minggu lalu, Opa menunjuk orang untuk pengganti sementara cucunya di kantor. Mami Renjani sebenarnya mengajukan diri tapi jika keluarga sama saja tidak akan fokus. Sebenarnya banyak orang yang bisa dipercaya, tapi Alih-alih menunjuk karyawan lama, Opa malah membawa seorang pria muda yang sejak tadi dia puji-puji.
Pikiran sinetron Bagas sempat bertanya-tanya, apakah pria yang Opa bawa adalah cucu dari selingkuhannya yang selama ini disembunyikan? Atau justru pria itu adalah anak Opa dari istri muda. Bagas sampai menunjukkan ekspresi rumit yang Opa sadarkan dengan menepuknya.
"Arjie, mikir apa kamu?" tegur Opa.
Bagas menggeleng pelan, tak berani ungkapkan isi kepalanya. Dia memang belum pernah bertemu dengan orang yang akan menggantikannya, ini pertemuan pertama juga kali pertama Opa membawanya kekantor.
"Sekarang kalian kenalan dulu, besok ada rapat untuk kenalkan secara resmi," jelas Opa.
Bagas merespon dengan anggukan, sambil dengarkan penjelasan Opa, dia tatap pria itu dari atas sampai bawah.
Yang ditatap jadi ikut memperhatikan tubuhnya sendiri, merutuk sebab hanya pakai jas berwarna coklat dan celana jeans biru. Dia tidak sepenuhnya kenakan pakaian pormal karena ajakan Opa adalah bertemu sambil makan malam bersama cucunya, dia merasa tidak sopan tapi bukan salahnya, siapa yang akan menyangka ajakan makan malam berakhir di ajak langsung datang ke kantor, ini terlalu larut.
Merasa salah kostum, padahal Bagas yang melihatnya dalam hati memuji penampilannya terlihat keren. Wajahnya juga tampan dengan kesan pangeran, sulit untuk Bagas jelaskan detailnya, mengatakan pria lain tampan buat Bagas bergidik ngeri meskipun hanya dalam hati.
"Ayo kenalan," suara Opa mengintrupsi. Bagas lebih dulu ulurkan tangan kanannya, mereka diperkenalkan untuk urusan pekerjaan, mengapa suasananya terasa mencekam.
"Jayden," ujar pria itu akhirnya buka suara lebih dulu, memperkenalkan diri sambil bersalaman dengan Bagas dan Bagas mengangguk sambil sebutkan namanya juga. Tak banyak bicara, hanya menyebutkan nama lalu diam lagi.
"Jadi Bagas, Jayden yang akan gantikan posisi kamu sementara," ulang Opa
"Selamanya juga gapapa," gurau Bagas yang segera dapat pelototan tajam.
"Jangan main-main Arjie," tegasnya.
"Yang jelas Eyang, mau manggil Bagas atau Arjie?" ucap Arjie lagi tanpa raza takut.
"Sama saja,"
Bagas tertawa pelan, tapi Jayden tidak bereaksi apa-apa. Dingin dan mengintimidasi adalah aura yang Jayden pancarkan, menurut pendapat Bagas. Padahal selama ini, Bagas merasa dirinya paling garang di kantor tapi setelah bertatapan dengan orang yang datang bersama Opa, pemikirannya berubah.
"Jadi kalau udah ada yang gantiin Bagas, cutinya bisa lama kan ya?" tanya Bagas lagi.
"Jangan main-main Bagas."
Waktu mengalir diisi penjelasan Opa tentang Jayden pun sebaliknya Padahal jika harus akrab satu sama lain harusnya mereka di biarkan bicara berdua. Tapi terserah Opa, maunya bagaimana dua anak muda mengikutinya saja.
"Udahkan Opa?" tanya Bagas tidak bermaksud kurang ajar, tapi malam sudah larut dan Bagas harus segera pulang. Waktu seperti ini belakangan terasa mengganggu. Bagas yang banyak bicara mendadak tidak mau habiskan waktunya untuk berbasa-basi, hanya ingin segera pulang.
"Makan malam dulu sebentar," putus Opa yang diangguki Bagas dengan patuh. Percuma melawan tidak akan ada hasilnya, lebih cepat diiyakan, lebih baik. Beruntung Bagas minta pergi ke restoran di dekat kantor dan Opa menyetujuinya.
Setelah ketiganya memesan, mengalirlah sebuah cerita, Bagas tau beberapa tahun lalu Opa pernah kecelakaan dan ada yang selamatkan Opa sampai orang itu koma, dan orang itu Jayden. Pada Jayden Opa punya hutang nyawa dan belum punya kesempatan untuk membalasnya. Jayden dari luar kota, dua hari yang lalu Opa menemukannya sedang mencari pekerjaan dan tanpa pikir dua kali Opa beri penawaran. Awalnya Jayden menolak, tapi kali ini berniat balas budipun Opa tetap menyebutnya sebagai permintaan tolong dengan alasan sementara. Padahal dalam pikiran Bagas sudah bisa menebak, banyak pekerjaan yang orang sejenius Jayden bisa lakukan, Opa tidak akan menyia-nyiakannya kesempatan dengan melepaskannya.
Jam sepuluh lewat delapan menit, Bagas baru sampai di rumah. Hening menyambut padahal di rumah Jingga tidak sendiri melainkan di temani Jafio dan keluarga kecilnya yang baru bisa tepati janji untuk menginap kemarin. Tapi Bagas baru teringat Jafio belum pulang, kakak sepupu iparnya itu mengabari baru bisa sampai paling cepat jam sebelas malam, Bagas pernah bertanya apakah tidak masalah pulang selarut itu, apakah istrinya tidak marah, tapi yang mengejutkan adalah kenyataan bahwa pria sibuk itu type Juwita. Yang Bagas tidak tau, perempuan itu punya trauma sampai tidak bisa melihat seorang pria malas-malasan.
Berhenti bahas hal diluar konteks, kembali pada keadaan rumah yang hening dan Bagas berusaha berpikir positif bahwa mereka sudah tidur. Tapi tentang Jingga, dia biasanya menunggu diruang keluaga. Apa mungkin karena ada dua keponakannya Jingga jadi tidur bersama mereka.
Banyak pertanyaan di kelapa Bagas, tapi kerongkongannya yang terasa kering buat Bagas pilih pergi ke dapur dulu untuk ambil minum baru setelah itu cari Jingga.
Bagas biasanya setiap pulang berteriak memanggil, tapi kali ini takut bangunkan dua anak kecil. Nanti Jingga bisa marah kalau Bagas ganggu tidur keponakannya.
Melangkah menuju kamarnya, baru sampai di lorong Bagas temukan genangan merah dan pecahan gelas tak jauh dari sana. Banyak pertanyaan dan prasangka kembali memenuhi pikirannya.
Berlari ke kamar kemudian berkeliling di sekitar rumah dan tidak temukan siapapun buat Bagas terduduk lemas kembali pandangi genangan darah tadi.
Kenapa kedua pekerjanya harus pulang kampung disaat seperti ini, kenapa Bagas lalai sampai biarkan hanya dua perempuan dan dua anak kecil dirumah tanpa penjagaan.
Tanpa sadar tetes bening mengalir deras, dia bangkit dengan panik berlari menuju mobil. Untuk pertama kalinya, Bagas merasa bodoh dan lemah.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
HorrorDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
