chapter 17 : Si paling kangen

267 51 6
                                        

Hanya sebulan, baru sebulan Jingga jalani hari-hari ribut yang diciftakan seorang Bagas, tapi rasanya sudah sangat terbiasa hingga ketika keributan itu hilang, Jingga merasa sangat kosong.

Beberapa kali Jingga sampai lupa memasak makanan untuk porsi dua orang, di hari pertama Jingga juga lupa malah meyiapkan baju untuk Bagas bekerja. Bodohnya Jingga berharap dapat teriakan di pagi hari, tentang Bagas yang menyenggol rak asesoris atau ciftakan keributan lain. Apapun itu, Jingga sudah terbiasa dan mulai merindukannya.

Ketika duduk sendirian di meja makan, muncul juga sebuah pertanyaan di kepala Jingga, apakah di balik sibuknya Bagas, dia punya rindu yang semakin menjadi seperti yang Jingga rasakan?  Apakah Bagas juga berharap segera pulang karena berpikir, sesering apapun mereka berkomunikasi lewat telpon, tak bisa hilangkan ingin peluk

Berteman dekat sejak kecil, diberi jarak tiba-tiba lalu dinikahi tiba-tiba juga, Jingga kadang masih penasaran dengan banyak hal. Jingga sering bertanya-tanya tentang jalan pikiran seorang Bagas ketika memutuskan sesuatu, namun tidak pernah dapat jawaban. Dengan mudah berubah dari menyebalkan sering mengganggu menjadi menyebalkan karena berhenti menyapa, apa alasan dibalik perubahan di waktu yang singkat itu.
Menunggu waktu yang memjawab semuanya.

Jingga kadang masih heran kenapa dirinya sendiri selama ini hanya mengikuti alur, mudah menerima semua hal. Bukankah lebih baik jika dia tanyakan semua pertanyaan yang ada di kepalanya. Jingga rasa, dia berkah tau alasan dari perubahan seorang Bagas di masalalu.

Cukup pertanyaan tentang masa depan yang Jingga simpan sendirian, selanjutnya akan bagaimana jadi pertanyaan yang terus berputar di kepala, tapi untuk hal ini jawabannya tidak ada pada Bagas. Meskipun kadang Jingga ingin berbagi ketakutan, selama Bagas pergi yang dia khawatirkan ketika pulang Bagas kembali berubah dari ramai jadi kaku.

Kesedirian buat Jingga pikirkan banyak hal setiap harinya. Hari-hari yang dilalui dengan sepi tapi isi kepala yang ramai, sampai di hari ke enam Jingga memilih tetap di rumahnya sendiri, tidak menginap ke rumah orangtuanya ataupun orangtua Bagas, juga tidak memberitahu perihal kesendiriannya kepada siapapun.

Dan sekarang tepat seminggu, Jingga rasanya kelelahan sebab sejak Bagas pergi dia memilih lebih menyibukkan diri. Seperti hari ini, setelah beberapa jam yang Jingga habiskan untuk mengecek pasien dari satu ruangan ke ruangan lain, dia langsung setuju ketika diminta bertukar jadwal jaga malam. Padahal sepertinya tubuh Jingga sedang tidak benar-benar baik.

"Tetap di rumah sakit rasanya lebih baik dari pada tidur sendirian di rumah luas," batin Jingga getir.

"Disini, ada orang yang bisa Gue ajak bicara, jadi enggak terlalu mikir yang aneh-aneh," gumannya.

Berjam waktu Jingga lalui dengan sedikit waktu rehat.

"Dokter Jingga, istirahat dulu, " tegur salah satu dokter yang berpapasan dengan Jingga.

Jingga menggeleng, tetap paksakan lanjutkan tugasnya bersama dokter-dokter lain menangani pasien yang berdatangan masuk IGD.

"Dokter Jingga, wajah Anda pucat sekali, sebaiknya istirahat dulu," tegur dokter yang lain.

Entah untuk keberapa kali bahasan yang sama Jingga terima tapi dari orang yang berbeda-beda. Tetap tidak bisa hentikan Jingga yang keras kepala ingin sibukkan diri agar lupa akan rindunya.

Lagi-lagi kalimat jodoh itu suka mirip benar-benar terjadi, Bagas yang gila kerja sebenarnya tidak ada bedanya dengan Jingga. Jika sudah fokus begini, tidak ada yang bisa menghentikannya. Sedikit pusing atau badan yang melemah tidak Jingga rasakan. Sampai tengah malam, ketika semua pasien yang datang sudah di tangani, Jingga yang hendak kembali ke ruangan dokternya kehilangan kesadaran. Beruntung ada salah satu perawat yang berjarak dekat dengannya jadi bisa menahan tubuh Jingga sebelum membentur lantai.

Jingga punya daya tahan tubuh yang baik, tapi jika terus memaksakan diri dalam waktu panjang tidak akan ada yang menjamin dia baik-baik saja.

"Bisa-bisanya gue tumbang," gumam Jingga ketika baru siuman, Suster Helen yang sejak tadi menemani bangkit dari duduknya kemudian menghampiri.

"Kecapean ditambah dehidrasi," ujar Helen, memberitahukan keadaan Jingga secara singkat,"Lo ada masalah  ya?" tanyanya ragu.

"Enggak," jawab Jingga lirih, dia berusaha merubah posisi dari berbaring jadi duduk, Helen juga membantunya.

"Jam berapa sekarang? "tanya Jingga.

"Jam dua pagi," jawab Helen.

Jingga menggangguk paham, dia yang baru siuman, menyibak selimut berniat turun dari tempat tidur kemudian lepas jarum impus di tangannya lalu lanjut bekerja, tapi Helen yang ada disana segera menggagalkan rencana Jingga.

"Heh mau ngapain?"tanya Helen panik.

"Banyak yang harus gue kerjain," jawab Jingga lemah.

"Enggak ada, Lo harus istirahat." perintah Helen tegas.

"Gue gapapa," tolak Jingga keras kepala.

"Enggak biasanya seorang Jingga sampai kurang nutrisi begini, jadi dia beneran harus istirahat" ujar Helen.

"Gue gapapa," balas Jingga lagi.

"Iya-iya, Lo gapapa makanya sampe pingsan gini,"balas Helen sarkas,"tapi kedepannya jangan terus maksain diri, sekarang Lo benar-benar harus istirahat. Tidur disini, besok pagi cek ke dokter Dina." ujar Suster Helen panjang lebar, Jingga yang duduk merasa kepalanya semakin pening dan masih kebingungan tapi berusaha menguatkan diri.

"Tuh kan, sakit kan? Udah tidur lagi aja. Istirahat yang cukup, jangan sampe keponakan Gue kenapa-napa." ujar Helen lagi.

"Temui Dokter Dina? keponakan? " Tanya Jingga lirih. Alisnya terangkat tanda heran. Otaknya masih memproses setiap kata yang diucapkan perawat Helen.

Kenapa Jingga harus temui dokter spesialis Obsygin dan ginekologi alias dokter kandungan di rumah sakit ini?
Siapa juga keponakan yang dimaksud perawat Helen?

Jingga ingin kembali bertanya, tapi kepalanya semakin memberat dan suster Helen juga harus pamit untuk lanjut bekerja. Dia pergi setelah membantu Jingga kembali berbaring.

Tbc

Mau ngumpat, udah ngetik dua chapter satunya ilang enggak ke save. Gininih yang bikin males:(

Argumen, Jihoon x HeejinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang