Sudah hampir sebulan Jingga berangkat dan pulang bersama Bagas. Lebih tepatnya, Bagas yang memaksa untuk antar dan jemput. Jingga senang, si manusia workaholic menyempatkan diri untuk lakukan hal yang sebenarnya bisa saja diganti oranglain. Karena perkara antar jemput bukan hal mudah untuk seorang Bagas yang sibuk, Jingga sudah menyarankan seorang supir tapi di tolak.
Berkat kesepakatan yang Jingga tak tau persis isinya antara Bagas dan sang Opa, Bagas tidak lagi perlu bulak-balik ke luar kota.
"Aku kerja buat anak sama istri, kalau kerjaannya enggak bisa untuk sekedar jaga kalian ngapain?" ujar Bagas kala mereka berdebat.
Jadi, sore ini Jingga sudah bersiap-siap untuk pulang. Duapuluh menit yang lalu Bagas mengabari jika dirinya sudah berangkat. Biasanya tidak butuh waktu lama untuk sampai.
Jingga dengan riang melangkah, makin lama dia merasa bahagia ketika bertemu dengan Bagas. Biasanya Bagas menunggu sambil bersandar di luar mobil, tapi setelah sampai di parkiran Jingga tidak berhasil menemukan mobilnya.
Merongoh handphone yang tadi Dia simpan di tas, Jingga kebingungan sebab tidak ada pesan apapun dari Bagas, lebih bingung ketika dicoba telpon panggilannya tidak terhubung.
"Jingga, nyari Bagas ya?"tanya Helen alihkan Jingga yang sejak tadi sibuk pada handpone.
"Iya, jalan macet parah kah? Tadi dia udah bilang hampir sampe. "
"Tadi Gue liat dia di Lilac Resto simpang depan, kalian enggak janjian disana?" tanya Helen lagi.
"Suami Kak Jingga yang mana?"tanya Bianka, suster baru di sana.
"Yang pake kemeja ijo." jawab Helen.
"Loh yang pelukan sama cewek ?" tanya Bianka heboh, buat Helen kaget dan mengatupkan bibir sambil memiringkan kepala, kode agar Bianka tidak melanjutkan ucapannya.
"Tadi mereka bahas mantan, berarti mereka mantanan kan ya? Aku kira mereka pasangan, bajunya aja serasi gitu," lanjut Bianka tak paham situasi.
"Jingga, tapi keliatannya enggak yang kamu pikirin kok," bela Helen.
Jingga hanya tersenyum, baru mau bicara seseorang lewat dihadapan mereka buat ketiganya mengangguk sopan.
Dokter Fahmi, tanpa ketiganya sadari sejak awal sengaja dengar pembicaraan mereka.
"Jingga mau ke Lilac resto? Kebetulan saya juga mau kesana? Mau bareng?"
Bianka dan Helen saling pandang, Helen memilih menarik Bianka menjauh sebelum dia berkomentar yang lain-lain.
Tak buruh lama keduanya sampai karena Lilac Resto dengan rumah sakit hanya berjarak ratusan meter. Turun dari mobil, Jingga merasa tidak enak sebenarnya tapi memaksakan untuk terlihat biasa saja jalan bersisian dengan dokter Fahmi.
"Kamu mau cari orang?"tanya Fahmi berbasa-basi.
"Iya, katanya tadi Helen ketemu Bagas di sini, " jawab Jingga jujur.
Fahmi mengangguk kalem, dia membuka pintu masuk dan mempersilahkan Jingga untuk masuk lebih dulu.
Keramaian menyambut, Jingga perhatikan seisi ruangan dengan teliti sampai pandangannya berhenti di meja pojok dekat jendela. Bagas ada di sana, sedang berdebat tapi kemudian tertawa, bersama perempuan yang hanya bisa Jingga lihat punggunya.
Perempuan itu rambutnya lurus sebahu, pakai kemeja warna hijau army yang entah bagaimana bisa persis dengan yang dipakai Bagas.
Jingga masih diam ditempatnya, tapi Fahmi sudah melangkah ke salah satu kursi, Jingga heran Fahmi terlihat menghampiri meja kosong di dekat Bagas.
"Bagas." kesal perempuan yang dari suaranya Jingga merasa tidak asing.
Jingga pernah mendengar suara itu, tapi kenapa bisa sampai lupa siapa pemiliknya. Terlalu banyak berpikir buat Bagas lebih dulu menyadari kehadiran Jingga.
"Jingga," sapa Bagas buat perhatian seseorang beralih padanya. Pada akhirnya Jingga bisa bertemu tatap dengan perempuan yang duduk bersama Bagas tadi.
"Loh kak Juwi?"
"Jingga."
Jingga baru mau melangkah, tapi pintu restoran terbuka menampilkan seorang pria tinggi yang membawa keresek mini market malah mengalihkan atensinya.
"Loh Jingga," sapa pria itu kaget.
"Abang," panggil Jingga sama kagetnya. Pria tinggi tadi segera hampiri Jingga, keduanya berpelukan untuk melepas rindu satu sama lain.
Lengkapnya Jafio Taraka, Jata atau Jo biasa disapa. Sepupu paling besar yang pribadinya sangat Jingga kagumi, Abang kesayagan Jingga.
Beriringan dengan Jafio, Jingga berjalan ke arah Bagas.
"Kalian saling kenal?"tanya Jafio pada Bagas dan Juwita.
"Kita temen sekolah," jawab Juwita segera.
Teman sekolah yang dekat, Juwita dan Bagas memang teman sekelas. Juga satu sama lain adalah cinta pertama. Benar yang di sampaikan Bianka tadi, Juwita memang mantan Bagas. Meskipun hanya sempat berpacaran satu bulan di awal SMA, bisa juga disebut cinta monyet. Tapi takdir lucu, pada akhirnya Juwita menikah dengan sepupu Jingga.
"Papaa, "sapa cadel anak dipangkuan Juwita dengan susah payah. Perhatian mereka teralih, Jafio dengan sigap mengambil alih anak berumur satu tahun itu.
"Hallo jagoan. Sudah makan siang?"
Pertanyaan Jafio dijawab suara yang belum bisa dipahami khas bayi, tapi Jafio tertawa mendengarnya. Anaknya lucu.
"Kakak yang betul makannya nak, dihabisin." tegur Jafio yang melihat anak sulungnya hanya makan daging sedang jagung dan buncisnya dia sisihkan.
Terlalu larut pikirkan Bagas dengan perempuan buat Jingga lupa menyapa keponakannya.
"Hey, Mai lupa ya sama Tante Jingga?" Sapa Jingga pada anak berumur lima tahun itu.
Maikha Shajara Seketika mendongak kemudian bertemu tatap dengan Jingga. Dia bangkit untuk peluk.
"Tante Jingga dari mana?" tanya Maikha yang terlihat menahan tangis. Merasa rindu, jadi yang paling sering tanyakan keberadaan Jingga sampai dia menyerah.
"Ada sayang, tante Jingga sekarang tinggal di sini." jawab Jingga lembut.
"Kenapa enggak pulang?"
Jingga kebingungan merangkai kata apa untuk bisa dimengerti anak lima tahun.
"Kita makan bareng aja ya?" tanya Jafio. Baik Bagas atau Jingga tidak bisa menolaknya.
"Makan sama tante Jingga mau?"
Semuanya mengalir, Jingga tau dia tidak perlu merasa khawatir, satu-satunya wanita yang pernah Bagas cintai sudah punya hidup bahagia, jika tidakpun Juwita bukan manusia yang suka merusak kebahagian oranglain.
"Kakak nginep dimana?" tanya Jingga, berharap Jafio bisa menginap di rumah dirinya dan Bagas.
"Di rumah mertua," jawab Jafio, dia yang peka bisa lihat sepupunya kecewa.
"Kakak lama di sini, Maikha bisa nginep kapan-kapan."
"Bener ya, sempetin nginep."
Jafio mengangguk, usap penuh sayang kepala Jingga. Juwita sibuk suapi anak bungsunya sedang Bagas yang kehilangan selera makan, dia paham Jafio sepupu Jingga tapi tetap saja merasa tak rela.
"Pukpuk Jingga tugas gue,"batinnya berteriak.
Yang ketemu mantan siapa, yang terbakar api cemburu malah dia sendiri.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
TerrorDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
