Bayangin lo nikah sama sahabat lo, pas malam pertama dia nanya, "lo mau ngapain? "
Minggu pagi dengan cuaca cerah dan suasana yang lumayan berisik tapi terasa damai. Di gedung pilihan Papi. Dengan gaun pengantin saran dari Mami, catering pilihan Bunda dan dekor pilihan Ayah yang menjadikan semuanya lengkap hanya dalam waktu satu bulan.
"Senyum Jingga, kamu harus bahagia di acara jadi Ratu sehari ini," batin seseorang yang kini sedang duduk di depan meja rias dengan alat make up yang lebih banyak dari biasanya.
Kalau ditanya gugup atau tidak, jawabannya pasti iya, tapi sepertinya ada orang yang lebih besar gugupnya daripada Jingga. Sungguh, jika bukan orangtua dengan senang hati Jingga akan menertawakan Ayah yang berdiri di ambang pintu, sedang menatapnya dengan tangan bergetar.
Jingga sempat saling tatap dengan Mbak Hanun, kemudian tersenyum cerah saat periasnya itu mengangguk.
"Ayah, "sapa Jingga sambil bangkit dari duduknya, dia berjalan pelan untuk menghampiri namun di dahului oleh langkah lebar sang Ayah yang segera merengkuh tubuh anak bungsunya, sangat erat dan terlihat berusaha menahan tangis.
Cukup lama waktu yang dibuat hening, tapi detik terus berjalan tanpa mau menunggu. Tak ada pilihan lain, meskipun tidak rela Jingga harus jadi orang pertama yang mengurai peluk.
"Ayah," panggil Jingga lagi, masih dengan lembut yang malah dijawab dengan isak.
"Kok ayah sedih dihari bahagia Jingga? " tanya sang Anak diakhiri kekeh. Tak menyangka akan melihat sosok lain sang Ayah seperti ini. Sebab sebelumnya, Ayah yang Jingga kenal adalah pria tegas yang tangguh.
"Maaf Ayah," gumam Jingga, "maaf karena Jingga bikin Ayah sedih," lanjutnya merasa bersalah.
"Enggak, Ayah enggak sedih. Ayah cuman terlalu bahagia," balas Ayah.
Jingga lagi-lagi terkekeh, ia tau Ayah nya pasti jujur bahwa dia bahagia tapi ada kebohongan yang ditutupi, Jingga tau sang Ayah juga bersedih.
"Yaudah Jingga mau dirias, Ayah tunggu di luar sama Bunda aja. "
Tapi sang Ayah enggan, dengan segera meraih tangan Jingga untuk dia genggam.
"Enggak boleh nemenin di sini aja?" tanyanya lagi. Dan kali ini Jingga tidak bisa menahan tawa.
"Kalau ditemenin nanti hasilnya enggak surprise Ayah. Nanti aja, nanti Ayah boleh jadi yang pertama liat Jingga yang udah cantik."
"Anak Ayah walaupun enggak dimake-up, dia sangat cantik. "
Sekali lagi, Jingga dibuat terkekeh.
"Terima kasih pujiannya Ayah, tapi Ayah tetep harus tunggu diluar. "
"Ya udah, Ayah keluar."
Jingga mengangguk, dia juga berjalan kembali untuk duduk di depan meja rias.
"Tapi sayang," panggil sang Ayah berhasil menarik atensi.
"Kenapa?"tanya Jingga berusaha sabar.
"Emang harus hari ini banget nikahnya?"
Jingga berbahak, begitu pula dengan periasnya. Tidak menjawab, Jingga memilih kembali berdiri untuk mengantar sang ayah sampai ke ambang pintu kemudian menguncinya dari dalam.
Tawa si perias belum selesai, sampai akhirnya Jingga bicara,"ngeriasnya udah bisa di mulai Mbak,"
"Hahah iya, maaf ya Jingga ketawa mulu, abisnya Ayah Mbak lucu, bucin banget sama anak sendiri."
Jingga tersenyum, selesai mengatasi kehadiran sang Ayah, sekarang tinggal Jingga berdua dengan perias. Dan tanpa menunggu lama, make up mulai dipoleskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
HorrorDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
