Sampai di rumah pukul tujuh, Jingga dibantu Mbak Sekar menata meja makan, menyiapkan makanan yang dia beli di jalan pulang sedangkan Bagas mendatangi satu persatu kamar tempat keluarganya tidur untuk mengajak mereka makan malam bersama.
"Siapa yang masak?" tanya Mami, dia sebenarnya baru punya rencana untuk memasak bersama dua menantunya yang lain, niatnya memang makan jam delapan nanti soalnya dua jam lalu mereka baru makan puding yang Jingga buat dan camilan yang jingga belikan.
"Kita beli di jalan," jawab Bagas, tak menerima pertanyaan yang lain dia bergegas turun dari tangga menuju belakang rumah tempat keponakannya bermain dengan kelinci ditemani Papa masing-masing. Sisa mereka yang belum Bagas ajak makan bersama.
Sebenarnya kalau mau cepat, sampai di rumah tadi, setelah simpan makanan di dapur Bagas bisa langsung ke halaman belakang, ruangan yang memang paling dekat. Tapi karena pria itu kebanyakan tenaga, dia memilih berkeliling rumah dulu.
"Tiap hari pulang jam segini?" tanya Arjuna ketika berpapasan dengan Bagas diambang pintu, ada jarak cukup jauh dengan keberadaan tiga anak kecil dan Adimas yang berdiri di dekat kandang kelinci.
"Jam lima udah pulang, cuman tadi Gue ajak Jingga mampir ke kantor," jawab Bagas santai.
"Dia beneran enggak bisa sembarangan libur?" tanya Arjuna lagi. Bagas mengangguk, dia memilih menyandarkan punggung ke tembok, bisa membaca gelagat Arjuna yang akan banyak bertanya.
"Dia enggak pernah kecapean?"
"Dua hari disini, Lo bisa nilai sendiri gimana dia dalam ngatur waktu," jawab Aji acuh.
"Tapi..."
"Kerjaan dia berhubungan sama nyawa, bukan hal sederhana." jelas Bagas.
"Sesibuk apa?" tanya Arjuna lagi.
"Lo udah tau sibuknya gue gimana," jawab Bagas sambil menaikkan alisnya, menatap heran Arjuna karena pertanyaan anehnya.
"Bukan Elo, kita lagi bahas Jingga," tegas Arjuna.
"Kenapa sama istri Gue?" heran Bagas, Arjuna tidak bisa menilai apa saat ini Bagas benar tak mengerti atau hanya pura-pura.
"Jingga lagi hamil, dia...."
Bagas menepuk bahu saudaranya pelan, tersenyum sarkas yang buat ucapan Arjuna berhenti.
"Jalan hidup yang gue tempuh, berbeda dari banyak orang," ujar Bagas sambil tatap Arjuna. "Selama Jingga percaya dirinya sendiri mampu, gue bakal dukung itu. Dan kalau ada saatnya dia ngerasa cape, Dia bakal bilang ke Gue lebih dulu daripada siapapun." ujar Bagas, dengan percaya diri.
"Kalau kalian dengan jarak aja khawatir, apalagi Gue yang terikat sama dia," tambah Bagas.
"Tapi Lo enggak perlu khawatir, belajar dari Jingga yang selalu jalani semua dengan melakukan yang terbaik, Gue juga bakal gitu. Tenang aja, ini urusan gue, urusan Gue sama Jingga. Biar kita yang atur berdua, dari Lo do'anya aja." Bagas menutup ucapannya, dia memilih lanjutkan berjalan untuk sampai di dekat tiga keponakannya.
"Hallo jagoan, ayo kita makan malam," sorak Bagas ramai.
"Kak Jingga udah pulang?" tanya Naka malah bertanya perihal yang lain.
"Ada di dapur, ayo kesana buat peluk." ajak Bagas yang berjongkok. Cara dengan segera naik ke punggung Bagas, Naka dan Candlin Bagas angkat di tangan kanan dan kirinya.
"Siap ketemu Istri Cantik Om Bagas?"tanya Bagas yang masih akan pamer meskipun pada anak kecil.
"Tante Jingga itu punya sama-sama," ujar Caramel yang sudah mendapat posisi nyaman dengan tangan melingkar di leher dan kaki di perut Bagas.
"Kata siapa, orang punya Om doang,"balas Bagas jail. Ketiga keponakannya kompak merengek sedangkan Bagas sudah tertawa menang.
Baru beberapa bulan Jingga benar-benar dekat dengan ketiga anak itu, tapi ketiganya sudah menjadikan dia tante kesayangan karena lemah lembut, masakan enak dan mainan-mainan mahal.
"Kalian makin berat," ujar Bagas pura-pura mengeluh.
"Om Bagas yang enggak kuat lagi," jawab Naka asal.
"Sembarangan, Om masih kuat ya. Setelah si kember lahir, Om bahkan bisa angkat kalian berlima." ujar Bagas percaya diri.
"Si kembar?" Beo Cara tepat di kuping Bagas.
"Kalian belum tau Om Bagas mau punya anak? Dua sekaligus loh." tanya Bagas yang kebingungan sendiri.
"Gimana?" tanya Naka juga sama kebingungan.
"Om Bagas mau punya anak kembar," ulang Bagas dengan sabar.
"Kalau udah punya anak, enggak jadi Om kita lagi?" tanya Cara yang sudah memanyunkan bibir siap menangis.
"Kata siapa?" tanya Bagas heran. Mereka sampai di dapur, Mami yang lihat ulah anak sulungnya segera hampiri untuk turunkan cucunya satu-satu.
"Kebiasaan,"omelnya. "Itu Arjuna sama Adimas ada, kan kalau mau digendong bisa satu-satu."
"Biar adil Mi," jawab Bagas tanpa rasa bersalah.
"Bahaya," ujar Mami.
Tidak ada pembicaraan lagi, semua orang duduk di kursi masing-masing kemudian mulai makan. Di samping Jingga, Bagas beberapa kali ambilkan sayur dan ini itu. Jingga patuh, dia makan tanpa protes. Dan baru setelah semuanya selesai, Eyang mulai membuka pembicaraan.
"Jingga serius mau resign?" tanya Eyang kakung.
Jingga lebih dulu tersenyum sebelum buka suara, Bagas disampingnya sudah ulurkan tangan untuk genggam tangan istrinya,"sebelumnya maafin Jingga karena plin-plan, Resign untuk mengurus rumah cuman rencana Jingga sendiri tapi setelah bicara dengan Bagas kami punya rencana berbeda. Jingga mau bikin klinik, mulai semuanya dari awal tapi enggak sendiri, ada Bagas, ada sepupu-sepupu Jingga juga. Lebih dari apapun, kepentingan anak-anak Bagas dan Jingga yang utama, tapi Jingga enggak bisa biarin diri sendiri kehilangan mimpi yang udah susah payah Jingga kejar. Maafin Jingga."
Hening, penjelasan panjang Jingga hanya di balas anggukan singkat oleh Eyang, tapi itu lebih baik daripada dengan kata-kata yang menyakitkan.
"Maaf ya, sama Gue, Lo harus hadapi banyak orang nyebelin," ujar Bagas setelah keduanya berbaring di atas kasur bersiap untuk tidur.
"Gapapa, manusia emang tiap hari di uji, ujiannya beda-beda." jawab Jingga.
"Kalau mau disayang tiap hari harus jadi apa?" tanya Bagas pura-pura serius, keduanya tidur berhadapan jadi Jingga bisa menatap Bagas dengan lekat.
"Jadi suami Jingga aja," balas Jingga, berakhir keduanya sama-sama tertawa.
"Oh iya Jing, sepupu yang Lo maksud itu siapa?"
"Apanya?" tanya Jingga belum nyambung.
"Tadi Lo bilang bangun kliniknya mau dibantu para sepupu." ulang Bagas.
Jingga ber-oh ria. Bagas sudah tau ke empat sepupu dekat Jingga tapi belum tau yang mana seorang arsitek. Bagas hanya tau sepupu Jingga paling tua, Jafio taraka yang berprofesi sama dengan Jingga.
"Bang Jo kan sibuk di rumah sakit?"
"Dia mau ke sini bulan depan," jawab Jingga diakhiri dengan menguap.
"Udah ngantuk, ayo tidur, kita lanjutin ngobronya besok."
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
HorrorDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
