Ada dua pilihan yang berputar di kepala Bagas saat melihat istrinya asik tertawa bersama pria asing. Pertama pergi dari sana untuk redakan marah nya, kedua menghampiri walaupun tidak tau bisa menahan marah atau tidak. Diantara dua pilihan itu, Bagas tau bahwa ada dua konsekuensi juga yang menyertai.
Jika pergi, Bagas takut Jingga kenapa-napa. Jika menghampiri, Bagas takut pria asing itu yang kenapa-napa. Si tenang yang punya banyak kalimat pembelaan atau sebelumnya selalu tau tindakan cepat dan tepat, sekarang malah kebingungan karena masalah sepele.
Sekali lagi tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, diantara banyaknya kelebihan Bagas dia juga punya kurang, tentang sisi posesif yang sulit dikontrol.
Sibuk dengan pikirannya sambil menatap tajam ke arah Biru, Bagas sampai tidak merespon ketika Jingga sudah sadar akan kehadiran dan sibuk melambaikan tangan kepadanya.
"Udah ketemu sandalnya?" tanya Jingga jadi yang menghampiri, heran sebab Bagas malah terdiam juga masih memakai sepatu yang tadi.
Bagas menjawab dengan gelengan, tidak terlalu fokus sebab sibuk dengan cemburu sambil menatap Biru dengan tajam.
Siapun akan paham, Jingga dengan gaun putih dibalut blazer hitam tampak serasi dengan Bagas yang pakai jas dengan celana bahan senada. Jika banyak orang tak menyangka mereka pengantin baru, sekali lirik pun keduanya terlihat seperti sepasang kan? Tapi yang ada dipikiran Bagas adalah sebal karena takut dikira hubungan dirinya dengan Jingga hanya sebatas rekan kerja.
Jingga tau Bagas sedang menahan kesal, tapi dia tak paham kesal atau marahnya Bagas karena apa. Dengan itu Jingga memilih lebih dulu cairkan suasana.
"Biru kenalin, ini Bagas suami Aku. Bagas kenalin ini Biru," jelas Jingga memperkenalkan dua pria yang berdiri berhadapan dengan jarak hampir empat meter, Bagas tidak mau di ajak mendekat pada Biru, pun dengan biru yang masih diam ditempatnya.
"Biru, bisa kenisi? "panggil Jingga yang segera dijawab dengan anggukan. "Bagas ayo, kamu juga maju." ajak Jingga.
Dengan wajah datarnya, Bagas terlihat terpaksa bersalaman dengan Biru yang menyambut dengan senyum ramah.
"Kenapa mukanya kesel gitu?" Bisik Jingga pada Bagas, tapi sayangnya karena jarak sudah dekat masih terdengar oleh Biru.
"Gapapa." jawab Bagas jutek. Jawaban yang membuat Jingga makin bingung sebab seorang Arjie Baskara tidak pernah menjawab seperti itu. Jingga ingin sekali ingatkan Bagas bahwa ketika apapun biasanya Bagas selalu mengomel, bukan jadi dingin. Apa tujuh tahun berjarak buat Bagas punya sikap lain?
"Bagas, kenapa?" tanya Jingga lembut. Berdiri di hadapan Bagas sambil menunggu jawaban. Jingga mulai risih dengan tatapan tajam Bagas, dia memilih mempertipis jarak dengan melangkah ke samping kemudian menepuk bahu suaminya pelan, "inget kata Mami, kalau ada apa apa itu dibicarain baik-baik. Istri bukan paranormal yang bisa nebak isi pikiran," bisik Jingga lebih pelan, sepertinya mampu sedikit luluhkan Bagas.
Jingga kembali menunggu Bagas bicara. Sampai bukannya bicara, Pria itu malah ulurkan sesuatu yang membuat mata Jingga terbelalak.
"Bagas,,,"lirih Jingga, tapi Bagas tetap saja bungkam. Hanya tangannya yang bergerak untuk lilitkan syal tebal berwarna merah ke leher Jingga. Lilitan yang sama persis dengan apa yang dia pelajari, seperti di dalam drama.
"Gas,,,, " panggil Jingga lagi.
Gumaman Jingga masih belum dijawab, sedangkan selesai dengan lilitan syalnya tangan Bagas bergerak untuk usak lembut kepala Jingga. Tidak hanya sampai disana, Bagas memberikan buket bunga sederhana untuk Jingga genggam.
"Bagas,,, "
Dua tangan Jingga Bagas raih, masih sambil berhadapan keduanya saling bertemu tatap, "Nga, Lo tau kan Gue emang orang sibuk enggak tau setelah ini punya waktu buat liburan setiap minggu atau enggak. Gue belum bisa punya rencana ataupun janji bawa elo ke Gangneung, maaf belum bisa wujudin banyak hal yang lo ingin. Pelan pelan ya Jingga, gue masih perlu banyak usaha. Untuk saat ini, lo jadi ji eun tak versi lokal latarnya laut Yogya ya, Lo cantik banget sumpah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Argumen, Jihoon x Heejin
HororDari sahabat, jadi teman hidup. Mampukah keduanya menjalani peran masing-masing?
